Tuhan kembali menepukku
Dengan beberapa senyumnya
Yang Sebenarnya sakit
Tuhan kembali mengepalku
Bukan berarti kejam
Bukan berarti jahat
Melainkan peringatan
Sepantasnya aku yang melihatmu dengan rayuan bisuku
Belum patut untuk memberimu luka
Malaikat-malaikat yang selalu bersyair dalam iramaku
Memberikan kekuatn untuk slalu menjagamu
Dalam luka, Duka, nertapa, hingga nanti kita kan bersenggama dalam lautan asmara
Kembali ku kutip beberapa syair dibejana yang telah keruh
Yang kan membawaku bertapa di hitamnya ludah
Tenggelam di rayuan yang gelap
Bersenandung tak tau arah
Namun, nyawamu yang bersanding dibahuku
Memberiku keangkuhan untuk memulainya
Memulai bertindak semauku, sesukaku
Namun, nafasmu yang teriring di telingaku
Membuwatku rapuh pada semesta
Semesta yang tak pernah menjagaku
Semesta yang tak pernah memanjakanku
Namun, ragamu yang masuk dikerongkonganku
Membuatku galau akan hina nya diri ini
Tuhaaan...
Berikan aku waktu untuk menjadi kenangan di hidupnya...
Dia yang telah beberapa kali purnama selalu bersiul di sabdaku...
Dia yang sekarang tak mempercayai lagi akan sabitmu...
Dia yang selalu menanti ritmik nadaku untuk selalu bernyayi untuknya...
Tuhaaaan...
Jika nafas hambamu dapat kau tambah sejengkal...
Hamba akan memberikan kebahagiaan ini untuknya...
Kebahagiaan yang hanya sebentar mampir untuk berteduh...
Tapi tidak dengan nya...
Kebahagian dengannya begitu dalam, hingga hamba tak dapat mengira besarnya nikmatMU..
Wahai kau yang selalu membawa bara
Terangi selalu malam ku dengan sinarmu
Karena sinarku telah jauh hilang
BERILAH KAMI PURNAMA MU HINGGA KAMI MENUTUP MATA
6.26.2012
Langganan:
Posting Komentar (Atom)









0 komentar:
Posting Komentar