7.16.2012

•♥•Doa teruntuk jodohku•♥•

0 komentar
Yaa Rabbi...
Aku berdo'a untuk seorang pria yang akan menjadi bagian dari hidupku
Seseorang yang sungguh mencintaiMu lebih dari segala sesuatu
... Seorang pria yang akan meletakkan pada posisi ketiga dihatinya setelah Engkau
Seorang pria yang hidupnya bukan untuk dirinya sendirinya tetapi untukMu

Wajah tampan dan daya tarik fisik tidaklah penting
Yang penting adalah sebuah hati yang sungguh mencintai dan dekat dengan Engkau dan berusaha menjadikan sifat-sifatMu ada pada dirinya
Dan ia haruslah mengetahui bagi siapa dan untuk apa ia hidupnya tidaklah sia-sia
Seseorang pria yang tidak hanya mencintaiku tapi juga menghormatiku
Seseorang pria yang tidak hanya memujaku tetapi juga dapat menasehati ketika aku berbuat salah

Seseorang yang mencintaiku bukan karena kecantikan aku tetapi karena hatiku
Seseorang pria yang dapat menjadi sahabat terbaikku dalam setiap waktu dan situasi
Seseorang yang yang dapat membuatku merasa sebagai wanita ketika aku disisnya

Yaa Rabbi...
Aku tidak meminta seseorang yang sempurna namun aku meminta seseorang yang tidak sempurna,sehingga aku dapat membuatnya sempurna dimataMu
Seseorang pria yang membutuhkan dukungannku sebagai peneguhnya
Seorang oria yang membutuhkan do'aku untuk kehidupannya
Seseorang yang membutuhkan senyumku untuk mengatasi kesedihannya
Seseorang yang membutuhkan diriku untuk membuat hidupnya menjadi sempurna

Yaa Rabbi...
Aku juga meminta ,Buatlah aku menjadi wanita yang dpat mencintainya dengan sekedar cintaku
Berikan sifat yang lembut sehingga kecantikan datang dariMu
Berikanlah aku tangan sehingga aku selalu mampu berdo'a untukny
Berikanlah aku penglihatan sehingga aku selalu mampu berdo'a untukny
Berikanlah aku lisan yang penuh dengan kata-kata bijaksana ,mampu memberikan semangat serta mendukungnya setiap saat dan tersenyum untuk dirinya setiap pagi
Dan bilamana akhirnya kami akan bertemu,aku berharap kami berdua dapat mengatakan

''Betapa Maha Besarnya Engkau karena telah memberikan kepadaku pasangan yang dapat membuat hidupku menjadi sempurna .''

Aku mengetahui bahwa Engkau ingin kami bertemu pada waktu yang tepat
Dan Engkau akan membuat segala sesuatu indah pada waktu yang telah Engkau tentukan.

Aamiin,,

7.08.2012

Lakon 1 3 P A G I Naskah Cucuk Espe

0 komentar
SATU

SIANG DAN MALAM SEMAKIN TAK ADA BEDANYA. WAKTU BERJALAN TERLALU CEPAT MEMBAKAR MIMPI DI SIANG PENAT. GELAP CAHAYA LAMPU, PEKAT DAN MENYUMBAT AKAL SEHAT. BARMAN TERMENUNG DI AMBANG KESADARAN, MENATAP GULITA TANPA DENDAM. INI AWAL SEBUAH CERITA DAN AKHIR SECUIL KENANGAN. BARMAN TERKAPAR DALAM KETIDAKBERDAYAAN TAPI BUKAN TANPA KEINGINAN. DAN HIDUP SEBENTAR LAGI DIMULAI.

BARMAN     
Cerita ini baru mulai. Dan siapa saja yang ada di sini adalah tokoh utama. Bukan aku tak percaya pada orang lain. Egois atau narsis, bukan…! Tetapi sejak aku tidak dikehendaki melakukan apa-apa lagi, semuanya aku anggap penting. Bahkan seekor kucing pun yang lewat di depanku, menoleh dan menggelendot di pangkuanku, aku anggap penting. Kucing itu telah memberiku arti sebagai manusia. Kalau tidak, mungkin kucing itu akan mencakar dan mencabik kaki dan pahaku. Berdarah, tetanus, bengkak, dan rabies.

(tertawa)

Aku punya cerita tentang kucing. Kucing yang ini, badannya besar, kumisnya tebal –maaf bagi yang punya kumis—dan ada belang di kaki. Belang bukan tato! Kucing itu milik banci yang rumahnya di ujung gang. Tiap aku lewat depan rumah banci itu –aku lupa namanya—dia selalu duduk di depan pintu sambil menyisir bulu kucingnya. Aku yakin, itu kucing laki-laki. Instingku saja…! Terlalu berbahaya jika soal itu ditanyakan.

Aku lewat, menoleh dan banci itu tersenyum. Tapi pagi itu lain, dia tersenyum lantas berjalan mendekatiku sambil tangannya masih menyisir bulu kucingnya. “Mau kucing, Barman?” katanya dengan genit. Itu pengalaman pertamaku bicara dengan banci. “Kucingnya bagus,” katanya agak gugup. “Terima kasih, saya tak biasa memelihara kucing. Maaf,” Tapi dia tetap tak membiarkanku lolos.

Justru aku semakin didekati dan dia berjalan mengelilingiku. Untung saja masih pagi! “Barman, dia kucing yang baik. Kalau mencakar sangat pelan dan penuh perasaan. Penurut dan tidak suka meloncat. Pokoknya, kucing ini sangat tahu untuk apa dia diciptakan,” Banci itu semakin menyudutkanku. Hingga aku nyaris terjengkang. “Maaf, aku harus segera pergi,” kataku ingin segera lepas dari cengkeraman banci agresif itu. “Mampirlah sebentar. Aku punya koleksi kucing yang mungkin kau minati. Aku ingin berbagi kucing denganmu, Barman…,” kata banci itu mulai melenguh.

Banci kampung bertingkah liar. Sejak aku tinggal di gang itu, baru pagi itu melihat keberingasan tetangga jauhku itu. Banci dan kucingnya yang siap menerkamku. “Cukup! Terima kasih. Lain waktu saja. Simpan baik-baik kucingmu, siapa tahu ketemu teman –sesama kucing—yang lidahnya lebih panjang atau yang ekornya pendek hingga terlihat jelas….! Hei..banci itu mengejarku.

(Barman berlarian)

Beberapa orang mulai bangun, membuka pintu dan melihatku berlari hingga nyaris jatuh ke selokan.

Banci kurang ajar! Sempat kulihat seseorang yang baru saja membuka jendela, tertawa melihatku berlarian. Mungkin dipikirnya, aku bercanda dengan banci itu sejak semalam. Sial! Kalau saja ada yang orisinil, kenapa milih banci!

Sejak itu, aku benci kucing. Melihat kucing, selalu lenguhan banci memenuhi otakku. Tapi aneh, semakin aku benci kucing, justru aku tak bisa melupakan binatang beringas itu. Tak jelas apa alasannya, tiap ada kucing, kupanggil dan kuberi makanan. Kuelus…karena aku sadar, mungkin kucing ini sebentar lagi bernasib sama dengan kucing dalam pelukan banci itu. Karena sejak peristiwa pagi itu, aku tahu ternyata banci itu pekerjaanya memburu kucing. Jadi, selagi ada kesempatan, aku ingin membahagiakan kucing-kucing itu sebelum masa depannya hancur.

(Berlagak seperti orasi)

Bersatulah kucing-kucingku! Kuatkan batinmu, liarkan hidupmu. Panjangkan kuku-taringmu. Kibaskan ekor mungilmu! Kau kucing nakal, bukan kucing dalam karung. Kau kucing yang siap bertarung…! (mendadak orasi Barman terhenti, sebuah teriakan membuat semuanya jadi lunglai).


SINTA (Berteriak dari dalam)
Masih pagi…jangan berteriak seperti itu. Kau mulai cerita yang aneh-aneh.

BARMAN
Aku cuma melatih ingatanku, Sinta!

SINTA
Tapi tidak dengan cara seperti itu. Nanti tenggorokan sakit. Ke dokter lagi, duit lagi…

BARMAN
Itulah perempuan. Semuanya diukur dengan duit. Bahkan tidak boleh sakit pun, alasannya karena duit.

SINTA (keluar sambil membawa handuk kecil).
Jangan sampai kambuh lagi.

(mengusap kening Barman)

Bukan saatnya berteriak seperti itu. Kayak anak kecil!

BARMAN
Cuma sekedar untuk mengusir bosan dan agar kelihatan variatif. Lebih dinamis!

SINTA
Bosan?

BARMAN
Bukan begitu

(gugup)

Orang seusiaku, sangat penting melatih leher. Karena semuanya dimulai dari leher…

(agak ngawur).

SINTA
Alasan saja. Kenapa mesti ditutup-tutupi?

BARMAN
Sinta, aku tadi cuma melatih ingatan tentang kejadian yang aku benci.

SINTA
Benci…bosan, apa bedanya?

BARMAN
(mulai kesal) Memang aku benci dan bosan. Nah, kau punya saran agar aku tidak selalu berteriak yang menurutmu membosankan itu?

SINTA
(diam beberapa saat) Sejak kau pensiun, selalu bertingkah aneh. Kadang diam, sendiri, berteriak, cerita sesuatu yang tidak masuk akal….

BARMAN (tertawa)
Justru akalku makin sehat. Sempurna. Hidupku semakin sempurna! Aku bebas berteriak tanpa takut hukuman apalagi hujatan. Inilah diriku sekarang. Barman yang pensiunan pejabat penting di kota ini, berdiam diri di rumah tapi pikirannya tetap berlarian kesana-kemari seperti anak kecil mengejar layang-layang.

SINTA
Tingkah yang tidak masuk akal!

BARMAN
Kau mulai berani melarangku, Sinta!

SINTA
Bukan begitu.

BARMAN (marah)
Kau mulai berani!

SINTA
Karena semakin sulit dimengerti.

BARMAN (tertawa)
Situasi aneh justru muncul di saat semuanya sulit dimengerti. Dan selamanya kita ditakdirkan tidak mampu mengerti. Spesies paling bodoh dalam sejarah penciptaan adalah kita.

SINTA
Berapa lama kita bersama?

BARMAN (terkejut)
Apa yang terjadi?

SINTA
Sulit dimengerti karena kita spesies bodoh.

BARMAN
Betul! Sinta…

(bangga)

kau mulai mengerti. Bahwa itu pertanyaan paling bodoh!

SINTA
Mungkin benar. Tetapi tidak selamanya begitu. Kau ini terlalu pintar untuk mempermainkan hidup. Berputar-putar, berlari-lari mengejar tujuan yang semakin jauh. Kini tujuan itu semakin tidak kelihatan seiring usia menjelang habis. Hidup ini terlalu rumit…! Apalagi yang bisa dilakukan setelah kerumitan itu selesai? Hidupmu kosong!

BARMAN
Hidupku kosong?

SINTA
Pensiun…!

BARMAN
Tapi semuanya kunikmati. Tuhan telah benar-benar menata hidupku dengan sangat baik. Bahkan terlalu baik.

SINTA
Karena terlalu baik, banyak yang kau lupakan.

BARMAN
Pikiranku masih komplit, Sinta. Bahkan untuk mengingat kejadian atau benda paling kecil sekalipun. Otakku sangat terlatih.

SINTA (tertawa)
Dimana kau letakkan jaketmu tadi pagi?

BARMAN
Dekat jendela.

SINTA
Sepatu?

BARMAN
Belakang pintu. Di samping lemari.

SINTA
Balsem kesayanganmu itu?

BARMAN
Di atas lemari. Karena sering kupakai, jarang kumasukkan kotak obat.

SINTA
Majalah porno yang kau baca semalem?

BARMAN
Aku lempar begitu saja karena tidak tahan lagi.

(tertawa)

Selanjutnya…kau yang paling ingat Sinta. Waktu berjalan sangat luar biasa!

SINTA (dengan nada cepat)
Usiamu berapa? Kenapa pensiun lebih cepat? Dan pekerjaan besar apa yang belum kita lakukan?

BARMAN (Diam. Sinta mengulangi pertanyaannya, tepat dekat telinga Barman)
Kubuang jauh ingatanku tentang hal itu.

SINTA
Dibuang? Lupa? Justru pertanyaan sepele, kau tidak bisa menjawab.

(Sinta mengulangi pertanyaannya).

BARMAN
Seolah kau ingin menyingkirkanku. Dan mengatakan; aku sudah tidak berguna lagi!

SINTA
Aku punya cerita

(seperti mendongeng).

Suatu hari, orang tua bertanya kepada anaknya. Masih kecil. Permainan apa yang paling disukai? Anak itu menjawab petak umpet. Tidak ada mainan yang lain? Tanya si orang tua. Banyak! Tapi kurang menantang. Sebab petak umpet melatih keberanian, daya ingat, dan tanggung jawab untuk menemukan lawan mainnya.

Orang tua itu bertanya lagi; berapa usiamu? Si anak menjawab 13. Ya! 13…terlalu tua untuk main petak umpet. Tapi anak itu ngotot. Banyak yang usianya lebih tua justru menjadikan petak umpet sebagai pekerjaan. Memetak-metak lalu ngumpet. Metak-metak lagi…ngumpet lagi. Petak satunya hancur, ngumpet…dan susah dicari. Buron!

BARMAN
Siapa anak kecil itu?

SINTA
Kau mulai tertarik?

BARMAN
Dia pasti anak yang kreatif. Atau paling tidak bapaknya; seniman atau guru seni!

SINTA (melanjutkan dongeng)
Ketika purnama penuh, mereka bermain di tanah lapang yang penuh lubang dan dikelilingi belukar. Memang cocok untuk ngumpet tapi terlalu bahaya untuk anak kecil. Maksudku anak usia 13 tahun!

Permainan pun dimulai. Sialnya, anak itu kalah dan harus mencari lima temannya yang sembunyi. Entah dimana! Tiga temannya berhasil ditemukan dengan cepat karena badannya gendut hingga susah bersembunyi. Sedangkan dua teman lainnya, hingga satu jam…belum ditemukan. Nyaris saja, mereka meninggalkan dua temannya yang terlalu pintar bersembunyi. Tapi anak itu tak mau meninggalkan tanggung jawab. Dia cari dua temannya hingga nyaris tengah malam. Hingga kelelahan dan duduk di pinggir lapangan.

BARMAN
Dua temannya itu?

SINTA
Sudah tidak penting lagi.

BARMAN
Terus kenapa kau bercerita? Apa karena drama ini biar panjang?!

SINTA
Ada yang lebih penting. Drama panjang kejujuran.

BARMAN
Maksudmu?

SINTA
Bisa saja mereka meninggalkan lapangan tanpa beban. Pura-pura lupa atau sengaja menganggap temannya itu tak penting lagi.

BARMAN
Jangan menyindir! Aku bukan anak 13 tahun dalam ceritamu itu.

SINTA
Tapi masih sering pura-pura.

BARMAN
Menurutmu saja. Sinta, kenapa baru sekarang kau menanyakannya?

SINTA
Itu bagian penting dari hidupmu. Hidup kita!

BARMAN (terkekeh)
Ada hal yang lebih penting daripada bertanya tentang usia atau kenapa aku pensiun lebih cepat.

SINTA
Apa?

BARMAN
Kamu!

SINTA
Jangan membalik kenyataan.

BARMAN
Lelaki paling peka terhadap perubahan yang dilakukan istrinya. Sekecil apapun!

SINTA
Usiamu saja lupa. Bagaimana bisa tahu perubahan yang kulakukan?

BARMAN
Tak ada hubungannya dengan usia karena tidak penting lagi. Coba perhatikan; kau selalu terlambat membuat kopi. Tidur terlalu malam. Dan sering melarangku melakukan sesuatu, termasuk berteriak!

SINTA
Kopi hanya membuat kau tak bisa tidur. Dan aku terus menjaga agar kau tidak bertingkah aneh. Hal itu sering terjadi.

BARMAN
Dan kau senang jika aku bisa melupakan semuanya? Masa laluku? Pekerjaanku? Teman-temanku? Juga banci ujung gang yang selalu menyodorkan kucingnya?

SINTA
Pikiranmu mulai lagi. Lebih baik kau istirahat. Mungkin sambil istirahat, kau bisa mengingat semua kenangan yang kau inginkan. Ayolah…

(mengajak)

selonjorkan kakimu. Letakkan kepalamu dan atur napas.

(Barman mulai terbaring. Kaku).

Aku awali cerita ini dari sini. Kisah yang dibenci semua orang tapi masih sering terjadi. Malampun gelap. Angin bertiup cukup kencang. Jalanan sepi sehabis hujan. Semuanya gelap…

DUA

CERCAH CAHAYA MENYERUAK, MEMBUKA KEGELAPAN. PERLAHAN BARMAN MELAYANG, TERBAWA DERASNYA INGATAN YANG BELUM SEMPURNA. SYARAFNYA KAKU, PERSENDIANNYA TEGANG. TAPI BARMAN SADAR, ADA PERSOALAN BESAR YANG HARUS DISELESAIKAN. HINGGA ISTIRAHATNYA TERSENDAT DAN TERGERAGAP.

BARMAN
Apa sudah kelihatan terlalu tua? Apa semua keriput bisa jadi ukuran? Apa kelambanan tubuhku ini bisa jadi gambaran; bahwa Barman memang tidak mampu berbuat apa-apa lagi.

EDOS
Aku kemari tidak untuk membicarakan hal itu. Maaf, jika waktunya kurang tepat.

BARMAN
Justru sangat tepat! Aku membutuhkan nasehat. Pertanyaan yang selalu mengganggu hampir setiap hari. Kau bersedia?

EDOS
Kelihatannya sakit sekali?

BARMAN
Lebih dari sakit. Kadang tubuhku terasa lemas. Dingin. Seperti kematian telah mendekatiku. Kadang sebaliknya, api itu membakar seluruh sarafku. Otakku hangus! Tetapi jemariku keriput, kulitnya mengelupas. Jika kutiup, terasa perih. Perih sekali…

EDOS
Pernah ke dokter?

BARMAN
Sejak aku serumah dengan Sinta, sulit percaya kepada dokter. Jarum suntiknya itu, ternyata menipu. Dan stetoskos yang selalu tercantol ditelinga, bohong besar! Dengan alat yang sulit dimengerti, dia bebas mengatakan apa saja.

Suatu pagi, aku pernah ke dokter. Setelah aksi pegang-pegang kepala, dada, dan perut, dia langsung ambil keputusan; aku menderita radang lambung. Aku bantah! Dia tetap ngotot! Lalu masuk ruangannya dan mengambil buku sangat tebal. Aku pun diperlihatkan gambar isi perut manusia yang membuatku mual. Katanya; karena lambung terlalu penuh dengan makanan yang buruk maka dindingnya infeksi dan luka. Meradang!

Aku batah! Dia tambah ngotot. Malah bilang itulah buku panduan para dokter di seluruh jagad. Dan ribuan dokter seolah mengatakan terlalu banyak hal buruk yang kumakan. Jelas aku marah. Itu sama saja dengan menghina Sinta. Dia paling jago masak.

Satu lagi, dokter yang prakteknya dekat warung sate itu, tanpa ragu memberiku resep obat raja singa. Itu sudah keterlaluan! Tubuhku memang panas-dingin, tetapi bukan akibat penyakit kotor. Edos, kau tahu kan…seleraku (terkekeh) Terang saja, aku bentak dokter itu. Hingga beberapa pasien melongok lewat korden. Dokter! Penyakit itu hanya cocok untuk orang ceroboh. Dan lagi, kau ingat Edos,

(lirih)

aku pernah selingkuh dengan dokter juga meski masih kuliah. Suatu malam, mahasiswi kedokteran itu mengatakan; cuci tangan sebelum tidur…! Pasti aman. Itu artinya ini bukan raja singa! Mungkin dokter itu asal bicara agar ingin dibayar mahal. Sejak itu, aku tak percaya dokter.

EDOS
Sejak kapan kau merasakan tubuhmu tidak beres, Barman?

BARMAN
Sejak Sinta sering melarangku berteriak.

EDOS (tertawa)
Justru Sinta paling mengerti daripada dokter yang membuatmu marah. Mungkin saja, Sinta telah menemukan obatnya. Pernah hal itu kau tanyakan?

BARMAN
Maksudmu?

EDOS
Kau hanya perlu istirahat cukup, Barman.

BARMAN
Tak ada bedanya dengan Sinta.

EDOS
Dia selalu mengatakan begitu?

BARMAN
Hampir tiap malam. Sebelum aku mencuci tangan.

EDOS
Sinta memang cerdas!

BARMAN
Kau puji istriku?

EDOS
Tersinggung?

BARMAN
Sedikit. Tapi jangan dilanjutkan.

EDOS (tertawa genit)
Itulah akar segala sakit, Barman. Kelihatannya sepele tetapi akan menggerogoti pikiran hingga tubuhmu lemas. Otakmu terbakar hingga jantungmu meleleh. Lalu syarafmu bergerak, meloncat-loncat mempermainkan lambungmu. Menyendat napasmu. Menggerakkan tangan-kakimu. Mematikan nafsu! Kabar buruk bagi Sinta.

BARMAN
Kau terlalu banyak tahu.

EDOS
Aku mengenalmu, jauh sebelum Sinta. Dan tak ingin melihatmu menderita setelah hal besar itu kau putuskan. Menikmati masa tua, tidak harus dengan pensiun. Terlalu beresiko. Dulu, kau pernah mengatakan; hanya orang tidak kreatif-lah yang memilih pensiun. Otak menjadi diam. Kaku. Dan monoton.

BARMAN
Jangan menyindir.

EDOS
Itu pertanda kau terlalu lelah.

BARMAN
Kau kemari hanya ingin mengatakan itu?

EDOS
Maaf kalau terlalu jujur. Kau butuh hiburan, Barman.

BARMAN
Lebih tidak masuk akal!

(Melonjak. Tertawa)

Seluruh hidupku kuhabiskan untuk berhibur. Apa itu kurang? Bahkan dalam 24 jam waktuku, 8 jam bekerja, 14 jam mencari hiburan, dan 2 jam lainnya tak seorang pun kuberitahu. Apa belum cukup?

EDOS
Belum!

BARMAN
Kau punya cara lain?

EDOS
Habiskan 24 jam untuk berhibur. Habiskan seluruh waktumu untuk melonggarkan syarat yang mulai liar.

BARMAN
Bagaimana dengan Sinta?

EDOS
Dia terlalu cerdas untuk mengikuti permainan ini.

BARMAN (mulai tertarik)
Kau tahu caranya?

EDOS
Bukankah aku terlalu banyak tahu.

BARMAN
Kalau begitu, kau datang tepat pada waktunya, Edos. Boleh nanti aku berteriak?

EDOS
Sangat boleh.

BARMAN
Meloncat-loncat?

EDOS
Sangat bagus untuk persendian.

BARMAN
Menghujat?

EDOS
Itu melonggarkan pikiran!

BARMAN
Saranmu sungguh hebat, Edos! Bantu aku bisa melakukan semuanya.

EDOS
Ingat! Ini bukan soal benar-salah. Tapi bagaimana menjalani hidup dengan tepat.

BARMAN
Cara yang paling liar.

EDOS
Lebih liar dari yang kau bayangkan. Coba lihat dirimu sendiri, Barman. Alismu, hidungmu, lehermu, tangan, perut, dan kakimu. Ajaklah semua bicara. Ajaklah untuk menuruti keinginanmu. Berlari menuju puncak ketenangan.

(Barman mulai berputar. Berlari. Hingga naik ke puncak tertinggi)

Leher itu bicara; aku lelah berteriak. Tangan itu pun bicara; jariku terasa kaku. Kakimu mengumpat kenapa terus saja berjalan. Kau mulai liar Barman! Semakin liar, kau semakin tenang. Damai.

BARMAN
Caramu menguras tenaga, Edos! (Barman semakin liar)

EDOS
Hanya sementara! Teruslah beringas hingga tenagamu habis. Lanjutkan, Barman! Lebih cepat lebih baik!

BARMAN(bertambah beringas)
Terlalu politis!

EDOS
Rasakan perubahan di seluruh persendianmu!

BARMAN
Jiancuk! Kakiku keseleo! Napasku hampir habis!

EDOS
Tinggal selangkah lagi! Ketenangan telah menyambutmu. Naiklah, dan bicaralah kepada dunia. Cari kalimat yang sulit dimengerti!

BARMAN (nyerocos kalimat ngawur)
Aku berdiri di samping dengan dua kaki menggenggam ikan asin dan seekor kucing tapi siapa tahu ada polisi kencing sambil mancing berputar berkeliling seperti tai anjing tak terlalu penting sebab dia bunting bukan karena petting hanya dilakukan maling yang siap mencari guling-guling kambing semua sinting karena melihat pertunjukan tidak penting…..Seperti itu?

EDOS
Terlalu jorok dan puitis! Cari kalimat lain!

BARMAN (bingung dan mulai lagi)
Senin 13 pagi semuanya dimulai. Dan hidupku baru dimulai. Pikiranku terasa kosong karena aku tahu Sinta mulai bohong. Malam itu aku keluar dan berjalan membunuh rasa kecewa

(tiba-tiba Edos memotong)

EDOS
Jangan curhat Barman! Banyak wartawan! Istrimu dengar. Bahaya…!

BARMAN
Ini bagian paling susah!

EDOS
Lipat dan sembunyikan pikiranmu!

BARMAN
Aku mulai dengan Sinta. Perempuan itu telah kuberi seribu satu nasib sial. Nasib yang jarang dimiliki oleh perempuan lainnya di muka bumi. Tapi anehnya, justru Sinta semakin menikmati takdirnya. Perempuan yang aneh. Perempuan yang misterius. Perempuan yang sulit dimengerti. Bahkan hingga kini aku dan Sinta belum saling mengerti. Sinta terlalu cantik. Terlalu baik. Terlalu penurut.

Tak ada tantangan membuatku sakit. Tanganku tak berguna. Tubuhku tak berfungsi lagi. Otakku tak cukup kuat mengingat kesenangan Sinta. Kesadaranku tak membuat bahagia. Aku mati. Lunglai. Dan tak bisa apa-apa.

Sementara Sinta terlihat semakin bahagia. Dia tersenyum. Bergerak dengan gesit. Tak ada secuil beban di kepalanya. Bahkan setiap aku panggil; Sintaaa….sebelum menghampiriku, dia tersenyum. Seolah mengerti apa permintaanku. Sebaliknya, nasib tak masuk akal menyerangku. Sinta tetap bahagia. Tertawa. Menertawakan sakit yang terus menggerogoti pikiranku. Seperti seribu tusukan bersarang di kepala ini. Aku tak bsa berbuat apa-apa ketika Sinta semakin tersenyum.
Perempuan itu mengejekku. Dimana aku harus sembunyi dari wajah bahagianya. Sinta terus menyerangku. Siang. Malam. Pagi. Setiap waktu, Sinta terus menghajarku. Hingga aku hancur.

(Barman terkapar)

CAHAYA REDUP. MALAM MAKIN LARUT. KETIKA BARMAN TERKAPAR, SINTA MENDEKAT DAN BERJALAN BAGAI BIDADARI. SEMAKIN DEKAT TAPI TAK MENYENTUHNYA. DESAU ANGIN MALAM MENYERET BATIN SINTA HINGGA MENJAUH DARI BATIN BARMAN. LELAKI ITU TELAH TENANG, TIDAK MATI. HANYA DIAM KELELAHAN. TAPI OTAKNYA, JELAS MELIHAT SINTA DATANG MEMBAWA SEUNTAI SENYUM DI SAMPING EDOS.


TIGA

MALAM MEMBUKA SEGALA KEMUNGKINAN. TAK PERLU BENAR DALAM HAL KESENANGAN. BARMAN TENANG DALAM TIDUR YANG TIDAK TERLALU PANJANG. HILANG DIBALIK JANTUNG KELAM. TINGGAL SINTA MENCOBA MENJALANI CERITA YANG SALAH TETAPI SANGAT MANUSIAWI. CERITA YANG SEHARUSNYA TERJADI TETAPI SULIT DIPAHAMI. DAN EDOS, BAGAI PANGERAN YANG MENYANDANG BERJUTA PERANGKAP. MENANGKAP KESENANGAN LIAR DALAM BELUKAR DENDAM.

SINTA
Dia sudah tidur.

EDOS
Belum. Lihat matanya.

SINTA (agak mendekat)
Pulas sekali.

EDOS
Dengarkan denyut jantungnya.

SINTA
Sangat kacau. Mungkin sedang bermimpi.

EDOS
Napasnya?

SINTA
Tidak teratur.

EDOS (nada tinggi)
Mungkin sedang mengintip kita.

SINTA
Sst…Jangan terlalu kasar. Itu posisi tidur paling aneh yang pernah kulihat. Dia paling tidak suka telentang.

EDOS
Tidak bergerak.

SINTA
Tidurnya mungkin akan panjang. Dia kelelahan dibantai dirinya sendiri.

EDOS
Seharusnya kau tak membiarkan dia sakit.

SINTA
Justru rasa sakit itu dinikmatinya. Dia takut kehilangan.

EDOS (diam beberapa saat. Memastikan kondisi Barman)
Sudah kau beritahu?

(Sinta menggeleng pelan)

Kapan?

SINTA
Dia sulit diajak bicara. Setiap hari sibuk dengan pikirannya yang kacau.

EDOS
Kau istrinya.

SINTA
Tapi aku tak mau terlibat.

EDOS
Istri yang pintar.

(tersenyum)

Dimana kau simpan?

SINTA
Di belakang lemari. Dekat meja makan.

EDOS
Dia sering ke ruangan itu?

SINTA
Sejak dia pensiun, selera makannya turun. Dia lebih suka merokok sambil membawa gelas kopi kemana-mana. Kadang di ruang tamu, dapur, teras, bahkan duduk di kursi kecil depan pintu WC.

EDOS
Untuk apa?

SINTA
Itu kebiasaan barunya. Cukup lama meja makan tak berfungsi. Aku letakkan gelas, piring, makanan hangat, tidak disentuh hingga basi.

EDOS
Kau punya rencana lain?

SINTA
Di hari kelahirannya.

EDOS
Kapan itu?

SINTA
Dia sendiri lupa.

EDOS (menerawang kepada Barman)
Kau punya ingatan yang buruk, sobat. Bawa ke sini kardus yang kuberikan itu.

SINTA
Terlalu berbahaya.

EDOS
Tidurnya, terlalu panjang. Masih banyak waktu.

(Sinta dengan langkah ragu, sesekali melongok Barman, masuk dan mengambil kardus di belakang lemari dekat meja makan)

Ini bagian paling penting. Aku harap kau bisa mengapresiasi cerita ini dengan bagus, Barman. Tidak terlalu panjang. Dan tidak terlalu sulit dimengerti. Kisah yang menghibur. Konyol. Lucu. Dan melonggarkan pikiran.

(terkekeh)

Itu kan yang kau cari, Barman?

Hampir tiga belas tahun, kita bekerja. Tiga belas ribu orang, kau penggal nasibnya. Dan mungkin tiga belas juta umpatan kau sembunyikan di balik saku jaketmu. Sebenarnya, aku kasihan Barman. Tapi otakku masih waras, nafsuku masih sehat hingga lolos dari perangkapmu.

Kardus itu, hanya tanda mata. Bukti kalau aku simpati terhadap sikap tegasmu, meski terkesan arogan. Saat terakhir, kau melepaskan jabatanmu, mungkin hanya aku yang punya niat baik. Barman, seandainya sejak dulu kardus itu kau buka, semuanya tak akan terjadi. Hidupmu tenang dalam cerita yang sangat mengharukan.

Tapi istrimu, punya rencana lain. Tidurlah Barman. Rencana itu kini bersambung degan rencanaku.

BELUM SELESAI, MENDADAK….

SINTA (Tergopoh. Panik)
Tidak ada. Hilang!

EDOS(Juga panik)
Cari lagi, Mungkin telah kau pindah. Kapan terakhir kau melihatnya?

SINTA
Aku simpan dan tak pernah kuperiksa.

EDOS
Ini kesalahan besar. Cerita bisa berubah. Coba cari di ruangan lain.

SINTA
Aku yakin di situ. Belakang lemari dekat meja makan.

EDOS
Punya  berapa meja makan. Ayo cepat! Semua rencana bisa hancur dan Barman tidur terlalu pendek. Cepat Sinta!

(kembali masuk dan mencari)

SINTA (dari dalam)
Ada tiga kardus tetapi terlalu kecil!

EDOS (bingung)
Sebuah rahasia akan terbongkar. Perlahan tapi pasti. Mimpi buruk Barman akan menjadi kenyataan. Padahal mimpi itu kubungkus rapi dalam kardus, kuikat sangat kuat dan dibuka saat yang tepat.

SINTA (keluar)
Tidak ada.

EDOS
Tidak ada jalan lain.

SINTA
Jalan lain?

EDOS
Karena setelah membuka kardus itu, Barman tidak akan menemukan siapa-siapa lagi. Hanya dirinya sendiri. Jika dibuka tepat waktu. Kenapa mesti kau simpan dulu?

SINTA
Edos, kita harus segera pergi.

EDOS
Dia suamimu!

SINTA
Sebelum kardus itu hilang. Sekarang, semuanya bisa terjadi.

TAKUT.

EDOS
Sudahlah. Kita ikuti saja cerita ini. Kau bilang, Barman terlalu lelah untuk mengingat. Itulah jalan lain yang kumaksud.

SINTA
Akan berakhir baik?

MENDEKAT EDOS.

EDOS
Jika kau tenang. Semuanya pasti berjalan cukup baik.

MEYAKINKAN.

SINTA TENGGELAM DALAM KETAKUTAN. KARDUS ITU ADALAH MIMPI BARMAN YANG TAK BOLEH DIBIARKAN LIAR TERBUKA. EDOS TELAH MEMBUNGKUSNYA. TETAPI, SANG WAKTU BERKEHENDAK LAIN. MIMPI BARMAN BERGERAK MAKIN LIAR, SELIAR EDOS DAN SINTA YANG BERPELUK DALAM KETAKUTAN.


EMPAT

HANGATNYA CAHAYA MENGHANTAM PIKIRAN BARMAN. CAHAYA ITU PULA MEMBANGKITKAN GAIRAH BARMAN. GAIRAH BARU YANG PENUH KELONGGARAN. TIDUR PANJANG MEMBUAT PIKIRANNYA SEGAR, TANGANNYA RINGAN, KAKINYA GESIT. SOROT MATA PENUH SEMANGAT. BARMAN SEOLAH LAHIR KEMBALI. DAN MENEMUKAN CERITA YANG SANGAT MENGHIBUR. CERITA EDOS DAN SINTA.

BARMAN (melihat dengan detail. Edos dan Sinta duduk sangat dekat).
Aku paling suka bagian ini. Tidur sebentar membuatku segar dan bisa melihat sekeliling dengan berbeda. Caramu memang manjur Edos. Kenapa tidak kau katakan sejak dulu. Buang jauh-jauh egomu, berbagilah denganku. Barangkali aku tidak akan seperti ini.

(Sementara Edos dan Sinta masih belum memahami keadaan)

Ini cerita yang kau janjikan itu kan? Hiburan yang membuat pikiranku ringan. Seringan kapas yang terbang terbawa angin. Bertiup kencang dan terus terbang.

(berputar mengelilingi Edos dan Sinta)

Terbang hingga jauh, sejauh aku bisa membuang sakit dalam kepalaku.

Ada sedikit gerakan yang kurang aku suka. Kakimu terlihat rapuh. Cari posisi yang gagah. Juga tanganmu, seharusnya tidak disitu. Kau aktor, terlalu banyak pekerjaan lain hingga lupa akting yang bagus?

(Terkekeh).

Satu lagi, harusnya diletakkan sesuatu diantara kalian, cari yang enteng tapi penuh makna. Bunga kecil misalnya, tapi…itu terlalu romantis. Atau kertas? Bukan! Kardus lebih baik.

(Sinta dan Edos terkejut. Edos Nyaris berdiri)

Hai! Tetap di situ. Jangan kacaukan pikiranku yang mulai tenang. Hidupku baru saja dimulai. Duduk, Edos. Aku sangat menikmati cerita ini. Dan aku telah menuruti semua saranmu. Mengikuti cerita yang telah kau mainkan. Tenggelam dalam alur yang berputar-putar, hingga tertidur. Disitulah nikmatnya menonton permainan sambil tidur? Kita bisa menebak sesuka hati, sesuai selera. Itu menyenangkan!

(Barman bersemangat).

Dulu, aku juga pernah duduk di situ. Berperan seperti kamu. Tetapi aku mainkan peranku itu dengan sangat lincah. Tipis batas antara kebenaran dan keburukan. Kuakali takdir Tuhan. Sementara Dia terus mencatat setiap napas yang kuhirup. Hingga jantung, paru-paru, dan perutku, penuh dengan penuh muslihat di luar akal sehat.

Jangan kelihatan gugup Edos. Bisa merusak konsentrasi! Pernah baca Tragedi Romeo-Juliet? Atau Rama-Sinta?

(terkekeh)

Maaf, kau kurang suka membaca. Sewaktu kita masih bekerja dulu, lebih tertarik gambar. Tapi kau berhasil menciptakan tragedi menyenangkan! Tragedi yang sempurna dan sangat menghibur.

Sekedar tahu, aku memang lupa berapa tepatnya usiaku. Tetapi aku cukup tahu, semakin banyak orang yang menginginkan kematianku. Jabatanku membuat negeri ini tak bisa tidur nyenyak. Jika aku bergerak, mereka tergeragap. Diam. Tapi mengumpat dalam hati. Tuhan memberiku posisi seperti malaikat pencabut nasib baik.

Suatu pagi, pernah ada yang menaruh racun dalam gelas minuman di mejaku. Untung saja, minuman itu tumpah tersenggol tangan kananku yang ngilu. Semalaman posisi tidurku ngawur! Soal itu, tanyakan pada Sinta. Dua bulan kemudian, seorang penembak jitu mengintip dari balik jendela. Mengincar kepala dan ingin mengeluarkan otakku yang terlalu cerdas. Moncong senjatanya terus bergerak mengikuti kemana arah kepalaku menoleh. Untunglah, ketika pelatuk ditarik, dor! Dengan cepat aku menunduk karena ada berkas terjatuh. Selamatlah aku. Sempat kudengar suara peluru berdesing seperti nyamuk lewat dekat telinga.

Cukup banyak yang menginginkan kematianku. Walikota, bupati, hakim, bahkan para polisi dan presiden, mengincarku layaknya teroris. Padahal justru merekalah teroris yang sebenarnya. Jabatannya digunakan untuk meneror rakyat. Menggusur, mem-PHK, memeras, melecehkan dan mencabuli ketulusan rakyat. Itu adalah teror yang membahayakan.

Anehnya, mereka aktor luar biasa! Pandai membuat sandiwara hingga semua orang mengangguk tanpa banyak tanya. Jika bertanya, penjara sanksinya! Dan aku? Protagonis dalam hidup mereka. Secepatnya orang sepertiku harus dibasmi. Dikeluarkan dari alur cerita, di buang ke pulau paling jauh. Aku sadari itu. Dan aku sangat tahu, siapa saja yang mengancamku. Mereka orang paling dekat.

EDOS (memotong)
Kau masih terlalu lelah, Barman!

BARMAN (mendadak liar)
Jangan berpura-pura.

EDOS
Masih perlu menyaksikan lanjutan cerita ini?

BARMAN (tertawa sinis)
Dengan menggunakan sedikit kecerdasanku, hiburan ini tidak ada artinya lagi.

EDOS
Kau tahu apa, Barman?

(gugup)

BARMAN
Sikap tanganmu, gerakan kakimu, bahkan sorot mata dan dengus napasmu adalah lanjutan cerita yang sebenarnya.

SINTA
Apa yang ada dalam pikiranmu?

EDOS
Bagaimana cerita sebenarnya?

BARMAN
Permainan yang sempurna. Terlalu sempurna untuk kawanku yang kuanggap selalu berkomplot dengan kebaikan.

EDOS
Bicara yang jujur, Barman.

BARMAN
Kejujuran telah mati. Jauh sebelum cerita ini dimulai. Masih ingat, bagaimana lincahnya jemarimu mengantarkan minuman sebagai tanda persahabatan? Pesta bersama setelah berhasil mengirim seorang hakim ke dalam penjara. Di tengah pesta, telunjukmu menarik pelatuk dengan tenang.

(tertawa mengejek)

Untunglah, aku biasa menemukan solusi sebelum masalah dimulai. Terakhir, kau selipkan keinginanmu di balik kecantikan Sinta.

SINTA
Apa yang kau ketahui, Barman?

BARMAN
Lebih dari yang ada dalam pikiranmu. Kardus itu aku amankan. Sinta terlalu ceroboh, kurang bisa menyimpan rahasia.

EDOS
Kardus?

SINTA
Itu tidak mungkin!

BARMAN
Perempuan dimana saja, sama! Kurang pintar menyimpan rahasia. Lain kali, perhatikan kelemahan lawan.

EDOS
Jika telah tahu semuanya, apa yang akan kau lakukan?

BARMAN
Aku ingin melupakan semuanya. Pekerjaanku, jabatanku, bahkan usia dan segala kesenanganku. Dengan harapan akan menemukan hidup baru bersama Sinta. Tetapi cerita berubah, begitu kau masuk terlalu dalam dalam kehidupanku.
Barman, mantan pejabat paling ditakuti, tidak boleh kalah dengan strategi sahabatnya sendiri. Aku mengerti semuanya! Dan Tuhan memberiku dendam.

EDOS
Maksudmu?

BARMAN
Kita akhiri cerita ini. Sinta, jangan khawatir. Kuambil sekarang!

BERGEGAS TAPI DIHADANG SINTA

SINTA
Kardus?

BARMAN (sinis)
Kita buka sama-sama agar semua mengerti bagaimana rencana licikmu!

EDOS (ikut menghadang Barman)
Cukup Barman! Semuanya telah mengerti!

BARMAN
Kenapa jadi penakut? Edos adalah teman yang kukenal memiliki keberanian. Pantang menyerah dan memiliki kecerdasan bagus. Tiba-tiba menjadi pengecut! Setelah kardus itu kita buka, pergilah bersama Sinta!

SINTA
Aku tak akan pergi!

BARMAN
Itu telah kau rencanakan! Lepaskan aku agar secepatnya kuambil kardus itu!

EDOS
Ada cara lain!

KETIKA EDOS LENGAH, BARMAN BERHASIL LOLOS DAN BERLARI BERPUTAR MENGHINDARI SINTA DAN EDOS YANG TERUS MENGEJAR. LANGKAH BARMAN SEMAKIN CEPAT. BERINGAS. LIAR. NAIK. MERANGKAK. BERGULING. EDOS TETAP MENGEJARNYA.

BARMAN
Bukan penyelesaian. Hanya menunda saja! Cepat atau lambat pasti terjadi. Aku akan buka dan kubeberkan semuanya. Kau telah merencanakan sehari sebelum aku pensiun. Dan berunding dengan Sinta setahun sebelumnya. Itu rencana yang sistematis. Langkahku lebih sistematis dari rencana kalian!

EDOS TERUS MENGEJAR.

EDOS
Cara yang lebih manusiawi!

BARMAN
Hanya binatang yang mempunyai rencana busuk! Jadi kubantu kalian agar tidak dianggap binatang!

BARMAN BERLARIAN SEMAKIN KENCANG. EDOS MENGEJAR. SUASANA KACAU. HINGGA SATU TITIK, TEPAT DI DEPAN SINTA, SEBUAH TUSUKAN BELATI MENEMBUS LAMBUNG BARMAN. TANGAN EDOS GEMETAR. CERITA TERLALU CEPAT BERAKHIR DILUAR RENCANANYA. BARMAN TERKAPAR.

SINTA
Barman!

MENYENTUH LUKA BARMAN

BARMAN
Kardus itu telah kubuka. Lebih cepat dari rencanaku.

(terbata-bata menahan perih)

Jika aku pura-pura lupa, hanya bagian dari keinginanku. 13 pagi, semuanya baru mulai. Mimpi itu menjadi kenangan. Kali ini, tidurku akan sangat panjang. Itu yang kau inginkan. Katakan pada semua yang kemari, baru separo cerita yang kujalani. Belum punya arti apa-apa.

(Melihat Edos)

Edos…? Rencanamu lebih sempurna.

BELUM SELESAI BARMAN BICARA, TERDENGAR SUARA BISING DI LUAR. PULUHAN ORANG MENYERBU RUMAH BARMAN. MEREKA ADALAH ORANG-ORANG YANG PERNAH DISAKITI BARMAN. MEREKA MENUNTUT BALAS KEPADA BARMAN. SUARA ITU SEMAKIN DEKAT. SEOLAH INGIN MEROBOHKAN RUMAH BARMAN DAN MENGEROYOKNYA.

EDOS
Tak ada waktu lagi. Mereka semakin dekat.

(Sinta ragu dan bingung. Seribu keinginan menjejal tanpa dimengerti)

Jumlahnya terlalu banyak! Aku kenal mereka. Orang-orang yang disakiti Barman. Cepat Sinta!

SINTA
Dia sendirian!

EDOS
Itu pilihan hidupnya. Perjalananmu masih panjang. Lewat sini. Cepat!

SINTA DAN EDOS MENEROBOS KEGELAPAN. DAN HILANG

LIMA

SUARA-SUARA ITU SEMAKIN LIAR. SEAKAN MENGINJAK HARGA DIRI BARMAN YANG TERKAPAR, MEREGANG TAKDIR. DISAKSIKAN RATUSAN ORANG YANG MENGELILINGINYA, BARMAN BERDIRI DAN MEMAKSA BIBIRNYA TERSENYUM. TANGANNYA GEMETAR. TAPI SUARANYA MENGGELEGAR. DI ATAS TITIK CAHAYA PUTIH, BARMAN MELANJUTKAN SISA CERITA.

BARMAN (terkekeh sambil menahan sakit).
Tepat 13 pagi, kutitipkan kardus itu di rumah banci di ujung gang.

(tertawa lagi)

Banci yang selalu duduk di depan pintu sambil mengelus kucing. Dia sebenarnya tidak banci. Jika ingin melihat kenyataan dengan jujur, harus berani keluar dari kenyataan itu sendiri. Itu pilihan hidupnya.

(tertawa hingga nyaris tersedak)

Semuanya, sepulang dari sini, ambil kardusku di rumah banci di ujung gang itu. Semuanya selesai.

BARMAN MEREGANG MIMPI. HINGGA GELAP. DIAM. HITAM.

***


Jombang, 2009

Lakon 1 Hari 11 Mata di Kepala Karya Radhar Panca Dahana

0 komentar
BABAK PERTAMA
SEBUAH RUANG. BERAPAPUN BESARNYA. KOSONG. BISA GELAP, BISA TERANG, BISA SURAM. TAK ADA PERISTIWA. TAK ADA APA-APA. SEPERTI POTRET YANG DIAM, DUA DIMENSI. IA DAPAT DIISI ATAU BERISI APA SAJA. KURSI, TEMPAT TIDUR, LAMPU, LEMARI, LUKISAN DINDING: SEBUAH KAMAR TIDUR. BISA, SEBUAH DAPUR DENGAN SEGALA PERABOTANNYA. BISA, SEBUAH TAMAN DENGAN KURSI (YANG BERISI ATAUPUN TIDAK). BISA SEBUAH WARUNG TEGAL. BISA KOSONG SAJA. BISA APA SAJA. SEMUA DIAM. SEPERTI POTRET BISU.
HINGGA MUNCUL WAKTU. YANG MEMBERI RUANG SEBUAH GERAK, SEBUAH PERISTIWA. BISA DIMULAI DARI RUANG MANA SAJA, DALAM PILIHAN APA SAJA (SEPERTI DI ATAS). DAN PERISTIWA TERJADI OLEH APA DAN SIAPA SAJA YANG MENGISI RUANG PERTUNJUKAN AWAL INI. APA DAN SIAPA SAJA YANG DAPAT MENJADI AKTOR DI BABAK INI.
SEORANG YANG BERJALAN PELAN DARI TEMPAT TIDUR KE MEJA KERJA ATAU KACA RIAS, MISALNYA. SEEKOR KUCING YANG MELINTAS TAMAN, DISUSUL TIKUS YANG SEOLAH MENGEJARNYA, BISA SAJA. ATAU TEKO TEH POCI YANG MENGANGKAT DAN MEMIRINGKAN DIRINYA UNTUK MENUANGKAN ISINYA KE SEBUAH CANGKIR, HINGGA AIR TEH ITU LUBER, MENIMBULKAN KERCIK YANG HENING.
SEBUAH PERISTIWA TERJADI. KARENA RUANG. DAN WAKTU YANG MENGISINYA.

LALU DATANG PENENTU KETIGA: CINTA. DIMENSI KELIMA YANG MEMBUAT SEMUA PERISTIWA ITU HIDUP BAGI MANUSIA. SEMUA PERISTIWA MENJADI RASA, JADI CIPTA, JADI KARSA. MENJADI SESUATU YANG BERIRAMA. DENGAN KONFLIK, KERJASAMA, ATAU KOMPLEKS HIDUP LAINNYA. MENJADI ADAB. JADI BUDAYA.
ANTARA LAIN DENGAN KATA-KATA. ANTARA LAIN DENGAN RELASI ANTARA PARA AKTORNYA.
RUANG DAN WAKTU PERTAMA BABAK INI, MISALNYA, DAPAT BERISI MONOLOG ATAU SEKADAR GERUTUAN SESEORANG DI KAMAR TIDUR DI ATAS. ATAU KUCING YANG MENGEONG KERAS DIBURU CICIT TIKUS YANG MELENGKING MENGERIKAN. ATAU SUARA TEKO POCI YANG TIBA-TIBA PECAH, MEMBUNCAHKAN ISI DI DALAMNYA KEMANA-MANA.
HIDUP PUN TERJADI. SEBUAH PANGGUNG TEATER PUN ADA.
SEJARAH PUN DIMULAI.
DAN IA MELINTAS, BERRANGKAI, LINEAR, ANAKRONIS ATAU MEMECAH KEMANA SAJA. BISA DI DALAM SEBUAH RUANG, WAKTU DAN CINTA; BISA DI LUARNYA. BISA MELIBATKAN (AKTOR) APA SAJA: POCI TEH, KACA RIAS, TIKUS, SUARA RADIO, MANUSIA, JAM DINDING, WAKTU SIANG, HUJAN…APA SAJA.

BISA: BERAWAL DARI KAMAR TIDUR DIMANA BERLANGSUNG KEHIDUPAN, SESEORANG BERJALAN DARI TEMPAT TIDUR KE KACA RIAS, SAMBIL MENGGERUTU TENTANG ISTRI/SUAMINYA, MENYISIR RAMBUT, MEMBERSIHKAN GIGI DAN TELINGA DAN TIBA-TIBA MENGHANTAM KACA RIAS HINGGA HANCUR BERANTAKAN.
SEJARAH BERLANGSUNG, ADAB TERCIPTA, KETIKA HIDUP YANG LAIN MUNCUL.

BISA DI DALAM (DI SEBAGIAN) RUANG TIDUR TADI, BISA DI LUARNYA.
BISA: CLOSE—UP DI TEMPAT TIDUR, SESEORANG TERBARING KAKU, HANYA SUARA NAFASNYA TERDENGAR DARI PERLAHAN HINGGA MEMBURU, LALU SEKONYONG BERHENTI, SENYAP, DAN BEKU. LAMPU PERLAHAN REDUP DAN GELAP (BLACK OUT)
BISA: LALU SEJARAHUANG BERPINDAH KE RUANG LAIN, DALAM JARAK TERTENTU DARI RUANG TIDUR TADI. MUNGKIN DI SEBUAH DAPUR, DIMANA SESEORANG BEGITU SIBUK MEMPERSIAPKAN SEGALA YANG DIPERLUKAN UNTUK –MUNGKIN—SEBUAH MAKAN MALAM ATAU MAKAN SIANG. TAK ADA SUARA KECUALI BUNYI-BUNYI YANG DIHASILKAN PERALATAN DAPUR YANG BERADU, JUGA BAHAN-BAHAN MASAKAN.
SAMPAI HIDANGAN PUN TERSAJI DENGAN KEPUL ASAP PANASNYA, AROMA MASAKAN YANG MENGGODA DAN TATANAN MEJA YANG MENAWAN. LALU SESEORANG ITU, MENGAMBIL SATU PERSATU MAKANAN ITU, MEMBUANGNYA TANPA RAGU KE TEMPAT SAMPAH, MENGUMPULKAN BEKAS PERALATAN MAKANANNYA, MENCUCINYA HINGGA BERSIH. DAN IA MULAI LAGI UPACARA YANG SAMA: MEMPERSIAPKAN DENGAN CEKATAN DAN TANPA SUARA DI MULUTNYA HIDANGAN ISTIMEWA SEPERTI YANG IA KERJAKAN DI AWAL.
LAMPU MAKIN TERANG, TERANG, TERANG SEKALI HINGGA ORANG SILAU DAN TAK MAMPU MELIHAT DENGAN JELAS APA YANG ADA DI ATAS PANGGUNG. DAN TIBA-TIBA BLACK OUT.
SEJARAH BERLANGSUNG. PINDAH KE RUANG LAIN. BISA: SEBUAH SUDUT KOTA (DAERAH URBAN) YANG KUMUH, REMANG, LUSUH, DINDING TUA DAN RUSAK, ATAU GELANDANGAN MEMBUSUK DI BAWAH KARTON BASAH. BEBERAPA LAMA TERJADI HENING. HINGGA KEMUDIAN MASUK SEEKOR ANJING, MENGAIS BENDA-BENDA APA SAJA DI SEKITAR SUDUT ITU. TAK MENEMUKAN APA-APA, SAMPAI AKHIRNYA IA SAMPAI PADA MAYAT GELANDANGAN ITU. DENGAN GIGINYA IA MENGGESER KARTON BASAH YANG MENUTUPINYA. MENATAP MAYAT ITU DENGAN SEKSAMA, TERTEGUN, LALU PERLAHAN MEMUNDURKAN LANGKAH HINGGA DI SATU TITIK IA BERHENTI, MEMBALIK DAN LARI PERGI BEGITU CEPATNYA. SEJARAH PUN TERUS BERLANGSUNG. ADAB TERUS DICIPTAKAN. DI PANGGUNG YANG SAMA. DI WAKTU YANG SAMA.
RUANG DAN RUANG MUNCUL DAN MENGUNGKAP DIRINYA SATU-PERSATU. MENJALIN PERISTIWA SATU DENGAN YANG LAIN, ATAU TIDAK SAMA SEKALI. BISA LIMA HINGGA SEPULUH (BAHKAN TAK TERBATAS) RUANG BERMUNCULAN BERGILIRAN. BOLEH JADI TUMPANG TINDIH.

ADA DUA-TIGA ATAU LEBIH HIDUP DALAM RUANG, WAKTU, DAN CINTA YANG SEAKAN BERHUBUNGAN. BAHKAN KEMUDIAN MELAKUKAN KONTAK SATU DENGAN YANG LAINNYA. BAIK ANTARA RUANG, WAKTU DAN CINTA ITU, MAUPUN DI ANTARA PARA AKTORNYA.
TAPI INILAH INTINYA: PERJUMPAAN, KONTAK, ATAU RELASI ITU, TAPI SETELAH MEREKA MENDEKAT, BAHKAN MENYATU, KITA SADAR BAHWA TIDAK ADA HUBUNGAN YANG TERJADI SEBENARNYA. MEREKA HIDUP SENDIRI-SENDIRI, BEREKSPRESI SENDIRI, MEMILIKI DUNIA SENDIRI-SENDIRI, BICARA SENDIRI-SENDIRI, BERTINGKAH SENDIRI-SENDIRI, MENCIPTA SEJARAH DAN ADABNYA SENDIRI.
MEREKA BERKOMUNIKASI DAN BERELASI, TAPI KOMUNIKASI DAN RELASI ITU KOSONG BAHKAN PERGI ENTAH KEMANA.
SEJARAH DEMIKIANLAH YANG BERLANGSUNG. INILAH DRAMA INI.
DAN IA AKAN DITUTUP OLEH SEBUAH PANORAMA HIDUP/SEJARAH FOTOGRAFIS. DIMANA RUANG MUNCUL BERGANTIAN DALAM DIMENSI YANG MENGERUT (BOLEH JADI MEMBESAR) . BISA DIMULAI OLEH SEBUAH RUANG STATIS SEBESAR DIMENSI JARAK PANGGUNG YANG ADA. BEBERAPA DETIK, KEMUDIAN MUNCUL RUANG LAIN DI DALAM RUANG PANGGUNG ITU (BISA BAGIAN DARI RUANG AWAL BISA PULA RUANG LAIN TAPI MASIH LEBIH KECIL DARI RUANG AWAL), DITANDAI PERPINDAHANNYA DENGAN SATU KODE WAKTU DAN BUNYI TERTENTU. SEMACAM LENSA KAMERA YANG MENUTUP DAN MEMBUKA DALAM SATU KETIKA.
DENGAN KODE YANG SAMA, RUANG BARU YANG LAIN PUN MUNCUL, DALAM UKURAN YANG LEBIH KECIL. DENGAN KODE YANG SAMA, RUANG BARU YANG LAIN PUN MUNCUL, DALAM UKURAN YANG LEBIH KECIL LAGI. DENGAN KODE YANG SAMA, RUANG BARU YANG LAIN PUN MUNCUL, DALAM UKURAN YANG LEBIH KECIL LAGI. BEGITU SETERUSNYA, HINGGA AKHIRNYA RUANG ITU BEGITU KECILNYA, SEHINGGA HANYA KIBASAN CAHAYA KECIL SAJA YANG TAMPAK OLEH MATA.

LALU GELAP TOTAL. BLACK OUT.




BABAK KEDUA


SEJARAH SATU

DI SEBUAH KAMAR TIDUR. TIDAK BESAR, HANYA 2 x 2 METER.
SEBUAH TEMPAT TIDUR KECILDI BAGIAN KIRI DENGAN SELIMUT DAN BANTAL YANG BERANTAKAN. WARNA SURAM DI SEKITAR TEMPAT TIDUR ITU. SESEORANG DUDUK DI TEPI TEMPAT TIDUR DENGAN WAJAH YANG MENUNDUK. TUBUHNYA SEDANG, BAHKAN AGAK KECIL. TAK ADA WARNA LAIN SELAIN HITAM DI SEKUJUR TUBUH ITU. SEPERTI SILUET.
DI SISI KANAN, MEJA KERJA DENGAN PERABOTANNYA YANG JUGA TIDAK TERTATA RAPI. GELAS YANG KOSONG, SEBUAH BOTOL MINUMAN YANG JUGA KOSONG. PUNTUNG ROKOK MENYALA DI ASBAK. ASAPNYA MENARI DAN MENGUSAP UDARA, SEPERTI BERNYANYI.

ADA TEMPAT SAMPAH YANG SUDAH PENUH, BAHKAN LUBER ISINYA. PAPAN INFORMASI YANG DITEMPELI BEBERAPA GUNTINGAN KORAN, FOTO-FOTO, TIKET PERTUNJUKAN, TULISAN-TULISAN, DAN SEBUAH PISAU YANG MENANCAP AGAK DALAM.
SEBUAH GANTUNGAN PAYUNG DAN TOPI. TELEVISI 12 INCI YANG MENYALA DENGAN GAMBAR YANG BURAM. SUARA BERISIKNYA MENJADI SATU-SATUNYA MUSIK DI RUANG TIDUR ITU. SEBUAH KACA KECIL MENEMPEL DI DINDING TENGAH, DENGAN SALAH SATU UJUNGNYA YANG SUDAH PICAH. SEBUAH SISIR MENGGANTUNG, PENCUKUR JENGGOT, BOTOL PEWANGI YANG TERBUKA.

LAMPU AGAK TERANG DI SEPUTAR KACA ITU, BERASAL DARI LAMPU BACA DI MEJA KERJA YANG MENYOROT KE ARAHNYA. TAMPAK BOTOL PEWANGI ITU SEPERTI BERGESER PERLAHAN. HMPIR TAK TERLIHAT DAN TAK TERASA, BOTOL ITU MENGGESER KE TEPI KACA TEMPATNYA BERADA. HINGGA KEMUDIAN, WUSSS, PRANG! BOTOL ITU JAUH DAN PECAH DI LANTAI. BAU HARUM YANG ANEH, SEMACAM BAU LAUT BERCAMPUR BAU MELATI DAN SUP JAGUNG PANAS MEREBAK, MENYERBU HALUS SEMUA BULU HIDUNG PENONTON YANG PEKA.
LALU HENING, SEKIAN LAMA. LAMPU SEPERTI PINDAH KE SEBELAH CERMIN, DI MANA SEBUAH PINTU TIBA-TIBA TERBUKA PERLAHAN. LALU TERDENGAR SUARA KEMERCIK AIR, SIKAT GIGI YANG DIGOSOKKAN, DAN BUNYI-BUNYI SESEORANG YANG SEDANG MENGGOSOK GIGINYA. KEMBALI AIR DARI SHOWER TERDENGAR. LALU MATI. DAN PINTU TERTUTUP KEMBALI SENDIRI.

DAN HENING KEMBALI. TAK ADA WAKTU.
HINGGA SOSOK SILUET DI KASUR TAMPAK MENGGERAKKAN TUBUHNYA DENGAN GERAKAN YANG SANGAT KECIL DAN SEDERHANA.
IA KINI TAMPAK MENEGAKKAN TUBUHNYA. TERDIAM SESAAT. MENGHELA NAFAS. HIDUP YANG MULAI HIDUP. SEJARAH YANG DIAWALI. SESEORANG ITU MENGAMBIL SEBATANG ROKOK DARI KANTONGNYA, TEPAT DI SAAT CAHAYA BURAM MULAI MENIMPA WAJAHNYA DAN PERLAHAN MEMENUHI SELURUH TUBUHNYA. MASIH CUKUP SURAM.
SUARA KOREK API, KEMERETEK SIGARET, SEDOTAN ASAP DAN HEMBUSAN ASAP YANG KELUAR PERLAHAN, MENJADI NEBULA DI SEPUTAR KESURAMAN SESEORANG INI. BEBERAPA IA KALI MENYEDOT DAN MENGHEMBUSKAN NAFAS.

SAMPAI KEMUDIAN IA MENGAMBIL AIR PUTIH DI MEJA KECIL SISI TEMPAT TIDURNYA, MENENGGAK ISINYA SEKALIGUS HABIS. TERCENUNG SESAAT, MENYEDOT KEMBALI ROKOK-ROKOKNYA DALAM-DALAM. DAN MULAI MELANGKAH SAAT IA MENGHEMBUSKAN ASAPNYA DENGAN KERAS.

TAPI LANGKAH ITU HANYA BERJALAN SETENGAH. KETIKA IA HENDAK MELEWATI BATAS SURAM TEMPAT TIDUR KE ARAH MEJA KERJA YANG CUKUP TERANG, SESEORANG MENGHENTIKAN LANGKAHNYA. BAHKAN MENGEMBALIKAN KAKINYA KE TEMPAT SEMULA. KEMBALI BERDIRI TEGAK DAN ROKOK YANG DIHISAPNYA BERULANG-ULANG DENGAN EMOSI TERTENTU.

LALU IA BANTING ROKOK ITU DENGAN KERAS KE LANTAI, MENGINJAKNYA DENGAN NAFAS MEMBURU, MEMBUATNYA MATI SEOLAH MEMBUNUH SEEKOR BANTENG BESAR SAMPAI IA TIDAK DAPAT BERJUANG UNTUK SEKADAR MENARIK LAGI NAFASNYA HANYA UNTUK SEKALI.

SESEORANG BERJALAN PELAN, HANYA DALAM RADIUS ATAU DIAMETER SETENGAH METER DI TEMPATNYA BERDIRI. LALU BERJALAN MENGELILINGI TEMPAT TIDUR DENGAN UDARA YANG TIDAK MENENTU. SEMUA BENDA DI SEPUTAR TEMPAT TIDUR ITU SEPERTI BERGOYANG KECIL, LAIKNYA KAKI YANG GOYAH DAN TIDAK DAPAT DIAM MENGIKUTI KEGALAUAN HATI.

SESEORANG :
Tidak mungkin...tidak mungkin. (Pause) Ini tidak mungkin!
DENGAN GELISAH SESEORANG MENYALAKAN KEMBALI SEBATANG ROKOKNYA. DAN DUDUK DI TEPI LAIN TEMPAT TIDUR. TUBUHNYA MASIH SURAM, BAHKAN SESUNGGUHNYA MASIH BERBENTUK SILUET. HANYA ASAP ROKOKNYA SAJA YANG CUKUP KERAS WARNANYA. MEMBUMBUNG MEMENUHI LANGIT-LANGIT TEMPAT TIDUR ITU.
SUARA RADIO DI KEJAUHAN MEMPERDENGARKAN BERITA PERKEMBANGAN TERAKHIR SEBUAH DEMONSTRASI YANG TERJADI DI SALAH SATU NEGARA EROPA YANG SEDANG MENYELENGGARAKAN KTT DI ANTARA NEGERI-NEGERI TERKAYA DUNIA.
LALU DISUSUL OLEH MUSIK. SEMULA MUSIK BERBAU BLUES, TAPI KEMUDIAN GELOMBANG SEPERTI DIPINDAH BERGANTI DENGAN MUSIK DANGDUT DENGAN SYAIRNYA YANG SUNGGUH MERATAP.
“...dunia adalah pohon tua daun-daunya kuning coklat gugur, kering, jadi pupuk. oo sonia, gadisku kedua tubuhmu basah mengkilat kau biarkan cintaku membusuk...”

SUARA RADIO ITU MENGGENANG, SEPERTI SUNGAI COKLAT DAN BAU, BERLALU MENJAUH MENINGGALKAN SEMUA YANG KITA TIDAK MAU.

SESEORANG MENGHELA NAFAS DENGAN KERAS. MEMBANTING KAKINYA. LAGI. LAGI. DAN BERULANG-ULANG, BAHKAN DENGAN KEKUATAN YANG AKHIRNYA MAKSIMAL.
SESEORANG :
Tidak mungkin!!
SESEORANG NAIK KE TEMPAT TIDUR. MELONCAT-LONCAT SEPERTI ANAK KECIL, TAPI LEBIH TEPATNYA SEAKAN MENGINJAK-INJAK SESUATU YANG MEMBUAT SEKUJUR HIDUPNYA HANYA DIPADATI DENDAM. IA TERUS MELOMPAT-LOMPAT. SEOLAH TAK ADA LAGI WAKTU SESUDAH ITU YANG BISA MENGIZINKANNYA UNTUK MELOMPAT LAGI.
SUARA TEMPAT TIDUR BERDERIK. SEOLAH JERITAN KECIL MAYAT YANG TERSIKSA DALAM KUBURNYA. SUARA BERDERIK. HANYA BERDERIK.
SEMENTARA DIMEJA KERJA, SEBUAH KERTAS MELAYANG, SEBENTAR DI UDARA, LALU PERLAHAN –SEAKAN MELAMBAI-LAMBAIKAN TUBUHNYA—JATUH KE LANTAI.
SUARA DI KAMAR MANDI. ADA YANG MENGGERAM. SAYUP. SUARA WANITA TERTAWA MENGIKIK. SAYUP. SUARA PEREMPUAN MENANGIS SEIRISAN PISAU. SAYUP. ANAK KECIL YANG TERTAWA-TAWA. SAYUP. DAN PERLAHAN MENGHILANG.

LAMPU BACA DI MEJA KERJA SEPERTI KETAKUTAN. CAHAYA MENYURAM DAN MENERANG. MENYURAM DAN MENERANG. TERUS HINGGA KEMUDIAN SEPERTI HENDAK PADAM. BERKERLAP-KERLIP, DAN PADAM. TERTINGGAL SEBUAH CAHAYA BURAM YANG MUNCUL DARI BALIK PINTU KAMAR MANDI DI SEBELAH CERMIN DI DINDING TENGAH.
LAMPU DI TEMPAT TIDUR JUSTRU KINI MENYALA AGAK TERANG. KARENA BEGITU LAMPU MEJA KERJA MATI, SESEORANG MENYALAKAN SEBUAH LAMPU DUDUK DI SISI TEMPAT TIDUR. CAHAYA YANG TIDAK TERLALU BANYAK TAPI CUKUP MENERANGI WAJAH AGAK KURUS SESEORANG.

SEORANG LELAKI EMPATPULUHAN, DENGAN GARIS-GARIS KERAS DI TEPI HIDUNG, BAGIAN BAWAH MATA DAN TULANG PIPINYA. MATANYA ADALAH DANAU HIJAU DENGAN SATU RIAK YANG PERLAHAN MEMUDAR DAN HILANG. ADA CAHAYA DI KEDALAMAN, TAPI ENTAH APA DAN DATANG DARI MANA.

BAJUNYA PUTIH DAN BAGUS SEBENARNYA. TAPI SUDAH LUSUH, SEDIKIT KOTOR, DAN BERANTAKAN MEMAKAINYA. BEGITUPUN CELANANYA YANG SUAM HITAM, TERGULUNG SEDIKIT DI AKAR KAKI KANANNYA. KAIN DALAM SAKU KIRINYA PUN MENJUNTAI KELUAR. KAKI YANG KOSONG, DAN TANGAN YANG GEMETAR.
IA MEMBENAHI PAKAIANNYA. MENCOBA MENGANCINGKANNYA DENGAN BENAR. TAPI TIDAK BERHASIL. PAKAIAN BAGUS ITU JUSTRU KIAN SEMRAWUT DENGAN PENEMPATAN KANCING YANG MAKIN KACAR. IA MERENGGUT SAPUTANGAN, MENGUSAP BIBIR, KEPALA DAN LEHERNYA. KERINGAT BERKETEL, ENTAH DARI MATA AIR MANA ATAU AIR MATA MANA.

SESEORANG :
Mariam...Mariam...seharusnya itu tidak terjadi. Seharusnya itu tidak terjadi. Tidak terjadi! Tidak mungkin terjadi. Tidak, Mariam. Itu tidak mungkin!!
IA LALU TERDUDUK DI TENGAH TEMPAT TIDUR. PUNGGUNG BERSANDAR DI DINDING TEMPAT TIDUR. TATAPAN KOSONG KE TENGAH SEPREI LUSUH. DAN HATI YANG BASAH LULUH.
SESEORANG :
Aku tahu kau tak pernah lupa apa yang kukatakan sebelumnya: hidup dan dunia ini sudah tidak lagi dapat kita hidupi, sudah bukan dunia kita lagi. Mereka sudah milik orang, karena orang lain yang mengaturnya, orang lain yang menentukannya, orang lain yang memproduksinya. Tidak kita. Kita tidak bisa menentukan, atau memproduksi hidup dan kita sendiri. Bukankah begitu, Mariam? Bukankah bukan kita yang menciptakan rumah tangga? Bahkan bukankan bukan kita yang menciptakan sebuah rumah tempat kita tinggal? Lebih bahkan lagi, ketika kita menempatinya, kita tidak pernah bisa menentukan sedikitpun, apa-apa kebutuhan kita. Apa yang harus kita adakan untuk kita memenuhi tugas dan tanggungjawab kita sebagai istri dan suami, sebagai bagian dari sebuah keluarga, bagian dari sebuah kampung, bahkan sebagai seorang manusia. Bukan begitu Maria? Apakah kamu yang menentukan bahwa kita membutuhkan sebuah kursi tamu, bentuknya seperti ini, warnanya itu, harganya sebegitu, dan seterusnya? Apakah kita juga menentukan saat kita memberi microwave, te ve layar datar lengkap dengan home entertainmentnya, sebuah mobil keluaran terbaru, yang sebenarnya terlalu besar untuk kebutuhan kita yang tak beranak? Apakah aku atau kau yang menentukan, kita harus membeli tanah di pinggiran Selatan kota ini, membeli saham pabrik plastik itu di bursa, mengambil lagi kartu anggota golf club dengan tawaran tamasya keluar negeri setahun sekali, sementara sudah 12 kartu semacam kita punya? Adakah kita yang menentukan memberi bea siswa 30 anak di panti asuhan kota kecil di Utara itu? Apakah aku kau persalahkan untuk membayar politisi kampungan itu, agar perusahan kita tidak diganggu sebagai rekanan tetap departemen koperasi? Apakah aku harus menyalahkanmu ketika kamu tukar guling rantai toko onderdil kita dengan sebuah pabrik asembling sepeda motor? Bukan...bukan salah kita, karena bukan kita yang menentukan jika Andy plongo itu kini jadi menteri. Mariam...mariam...dunia sudah berjalan sendiri. Atau mungkin dijalankan oleh siapa. Aku tak tahu...aku tak peduli. Yang kupeduli cuma kenapa kamu masih merasa yakin kita memiliki kebebasan untuk memilih dan menjalankan hidup kita sendiri. Tidakkah kau yakin, tidak mengerti, atau pura-pura dongo, bahwa begitu kita terjun ke dunia ini, bahkan sejak menjadi anak-anak, kita sudah dilucuti seluruh hak kita untuk menjadi apa yang kita inginkan. Menjadi manusia. Ooo....tidak mungkin...tidak mungkin Mariam. Tidak mungkin kamu sebodoh itu, untuk menggunakan alasan dangkal pikiranmu sebagai dasar caramu berpikir dan bertindak. Sebagai dasar keberadaan, dasar eksistensial, katamu mulutmu yang berludah saat itu. Bagaimana mungkin...jika kita sudah membicarakannya berulangkali dan kau mengerti. Tapi tetap saja kau bersikukuh dan menyangka kau punya hak dan kebebasan (apa? hak dan kebebasan? hahahaha....) untuk menjadi dirimu sendiri. Menjadi apa yang kamu mau

(tertawa keras).

Itu alasan yang kau gunakan untuk pergi? Untuk menempatkan aku sebagai manusia bodoh yang tidak kuasa terhadap diriku sendiri. Hah! Mengapa kau balik-balik logika itu? Mengapa kau tipu-tipu berkali-kali aku, walau sebenarnya kamu sendirilah yang kamu tipu. Tidak...tidak, Mariam. Aku masih tidak percaya, tidak mengerti, kita begini...kita begini...

(pause)

Mariam....Mariam....MARIAMMM!!
SESEORANG MEMBANTING TUBUHNYA DENGAN KERAS KE TEMPAT TIDUR. TEMPAT TIDUR ITU BERGOYANG SEBENTAR. LALU MELAMBAT. LAMBAT DAN AKHIRNYA BERHENTI.
SENYAP. TAK ADA APA-APA. TAK ADA WAKTU. TAK ADA SEJARAH.
YA, SEPERTI BIASA, SEJARAHKECIL TERJADI KETIKA SEBATANG PENSIL BERDIRI DI MEJA DI ATAS SEBUAH KERTAS PUTIH. LALU IA BERGERAK-GERAK, SEPERTI MENULISKAN TUBUHNYA. HANYA BEBERAPA SAAT LALU BERHENTI. PENSIL ITU JATUH DAN TERTIDUR LAGI.
SUASANA DI MEJA KERJA BURAM. KERJA PENSIL ITU TERLIHAT DARI BANTUAN CAHAYA KECIL YANG DATANG DARI LUAR MELEWATI JENDELA YANG HANYA SEDIKIT TERBUKA.
CAHAYA AGAK TERANG TETAP ADA DI SEPUTAR TEMPAT TIDUR. SESEORANG MENGGELETAK DENGAN KAKI MEMBUKA LEBAR KE ARAH PENONTON. SESEORANG MENGGERAKAN TANGANNYA. ENTAH SEDANG APA, UNTUK APA, KARENA APA? TAK ADA YANG TAHU.
SESEORANG :
Baiklah...baiklah, Mariam. Aku akan membuat keputusan. Aku pun bisa membuat keputusan. Bukan..bukan aku akan meninggalkanmu, seperti yang sudah kau lakukan. Aku tidak mungkin meninggalkanmu, tak akan pernah, tak akan pernah bisa. Aku akan tetap menjadi suamimu. Sekalipun kau bersuami orang lain. Karena aku tahu, apapun yang kau lakukan dan merasa kau putuskan, sebenarnya bukanlah dirimu yang sejati. Kau hanya malaikat yang patah atau dilucuti sayapnya. Sehingga kau tinggal menjadi gadis cantik yang naif, cacat dalam nasib, tak beruntung dalam takdir, tapi tetap sebuah makhluk yang ajaib dan memesona. Aku akan mengawinimu dengan berbagai cara. Tapi tidak dengan cara yang ditentukan oleh orang lain. Oleh kunci-kunci yang bergelantungan di saku belakangku, oleh kartu-kartu yang memenuhi dompetku, oleh gelar-gelar, berbagai jabatan, atau mimpi-mimpi kosong dan buruk yang jadi lalu lintas macet di setiap tidur malam kita. Mariam..Mariam...seperti saat kita bocah dulu, saat kita menangis di pinggir kalicoklat itu, karena boneka-boneka kertasku dan kapal tempur kulit jerukku merasa tolol, tak berguna, dan bahkan jadi hantu yang kita usir, gara-gara asep anak tetangga kita yang kurangajar itu tertawa-tawa memainkan game watch di depan kita. Membuat kita tidak mengenali dunia kita sendiri lagi. Tak mengenali sejarah kita sendiri. Tak mengenali orangtua kita yang sampai saat itu begitu rajin dan percayanya bahwa kita akan menyukai wayang kulit, sebagaimana mereka mendengarkannya tiap malam, seolah nabi besar datang menjambangi mereka selalu. Kita menangis, karena untuk pertama kalinya kita kehilangan tempat kita berpijak, dan kita tidak tahu akan kemana, harus berbuat apa. Kita mengalami disorientasi yang pertama kali. Hingga kemudian kita mengalami keterbelahan, menjadi skizofrenik karena kita tidak mampu meninggalkan tanah warisan yang dibebankan leluhur, di sementara lain kita tidak berhentinya gagap karena tak mampu memeluk dengan hangat dunia “baru” yang konon adalah dunia tak terelakkan kita saat ini. Aku ingat kau menjerit-jerit saat dipaksa untuk menjalankan sebuah komputer. Dan aku terus terkencing-kencing di celana ketika mendengar suara bapakku, di kotak hitam bernama handphone itu. Ayahku sudah mati sebelum aku kencingku bisa kuatur sendiri keluarnya. Kita sakit. Masih sakit. Dan akan terus sakit.

(Pause)

Tapi sekarang, sesakit apa pun, aku sudah mengambil keputusan, Mariam. Keputusan yang kuambil semata karenamu. Semata karena kamu perempuan. Semata karena aku merasa jadi manusia karena ada kau sebagai manusia. Mungkin itu sebabnya kamu menjadi perempuan, atau disebut lawan jenis. Aku harus tetap ada untukmu. Aku akan mengawinimu, dimanapun kamu merasa ada.

(Pause)

Mariam...inilah keputusanku. Aku menolak masa kini yang gelap dan menekan...sangat menekan...sehingga bahkan membuatku sulit mengatupkan kedua pelupuk mataku. Aku juga menolak kedua orangtuaku, baik secara politis, biologis, religius, kultural, apa pun. Aku...juga kamu kurasa, adalah dua makhluk yatim piatu yang diaborsi dari rahim langit. Sebagai manusia yang dalam ukuran dunia ini gagal, aku tidak mau lagi menjadi sampan yang diombang-ombang laut dan daratan. Aku tak mau membagi, tepatnya membelah diriku

(yang kini telah membelah siapa saja menjadi beberapa diri, begitu banyak diri, skizofrenik akut).

Aku mau menjadi sesuatu yang lain, yang aku sendiri tidak bisa membahasakannya padamu. Karena aku tahu, keputusanku itu pasti terasa ganjil bahkan akan menakutkanmu. Jangan...jangan takut, Mariam. Tak ada yang mengerikan. Aku tidak akan melibatkanmu. Aku menyerahkan dirimu pada dirimu sendirimu. Menyerahkan diriku pada nasib yang kutentukan sendiri. Kau...yang entah dimana sekarang, pasti akan kujumpai. Pasti.

(seseorang bangkit dari tempat tidur. berdiri dengan mantap, merapikan bajunya dengan sebaik mungkin. merapikan tempat tidur dan perabot sekitar sebisanya. lalu berdiri tegak di samping tidur. dari bawah tempat tidur ia mengambil sebuah kotak plastik, semacam dirigen, lalu menuangkan isinya merata ke seluruh sudut ruang tidur. kemudian dengan nafas yang teratur baik, ia memandangi sekali lagi sekelilingnya. berjalan pelan mematikan semua lampu, sehingga ruang tidur itu gelap gulita. senyap sesaat lalu. dan cess...sebuah api kecil dari pemantik api menyala, tepat di bawah wajah seseorang. dengan bantuan cahaya minim itu, seseorang menatap keras ke depan)

Mariam...sekarang tamat sudah riwayat seseorang bernama Hajjira. Bukan karena ia gagal jadi manusia. Tapi karena ia menolak keberadaannya sebagai sebuah anggota dari peradaban yang tak berhenti memecah belah dirinya. Ia akan mengubah dirinya menjadi sesuatu yang lebih pasti, yang mungkin sangat tidak pasti bagi lainnya. Ia akan kembali menjadi debu, sebagaimanya asalnya. Menjadi asap, sebagai keberadaan yang paling mungkin di semua kenyataan. Menjadi sesuatu yang paling purba dan menjadi identitas paling asal dari sebuah negeri. Negeri kita ini. Sampai jumpa, Mariam. Sampai jumpa, bakal istriku. Maukah kau kawin denganku?
SESEORANG LALU MELEMPARKAN API KECIL ITU KE BAWAH. DAN RUANG TIDUR ITU KEMUDIAN MELETUP, MENERBITKAN CAHAYA DENGAN TIBA-TIBA DARI NYALA API YANG TERANG. KELEBAT CEPAT CAHAYA DAN REDUP GELAP BERGANTIAN SEPERTI KERLIP BINTANG. HANYA BEBERAPA DETIK ITU TERJADI, HINGGA IA BERGANTI ASAP YANG KERAS DAN DAN MEMADATI RUANG TIDUR ITU.
DI DETIK ITU, ADA SEBUAH BAYANGAN YANG BERGERAK DARI TEMPAT TIDUR MELEWATI BATAS IMAJINER DENGAN POTONGAN RUANG SEBELAHNYA, DIMANA MEJA KERJA BERADA.
KETIKA BAYANGAN ITU MELINTAS BATAS IMAJINER ITU, SEGALA DARI TUBUH BAYANGAN ITU BERUBAH. YANG SEMULA GELAP DAN HANYA SEMACAM SILUET YANG BURAM, BEGITU MEMASUKI RUANG KERJA IA BERUBAH MENJADI PENUH WARNA. DAN AKHIRNYA MENJADI SESUATU YANG BERBEDA, MENJADI MANUSIA YANG PENUH WARNA, BEGITU IA TIBA DI RUANG KERJA.

RUANG TIDUR ITU KINI GELAP TOTAL. SEPERTI SUMUR TERLALU DALAM, SEPERTI LUBANG GELAP DI SEJARAH ANGKASA.
SESEORANG YANG PENUH WARNA TADI, MENGAMATI RUANG KERJA. MENDEKATI MEJA KERJA, MEMERIKSA KERTAS-KERTAS, MELIHAT FOTO-FOTO DAN APA YANG TERTEMPEL DI PAPAN INFO, MEMATUT DIRINYA DI DEPAN CERMIN, SISIRAN, MEMASUKI KAMAR MANDI, MEMBASUH MUKA, BERKUMUR DAN MEMBASUH MUKANYA.
LALU KEMBALI KE MEJA KERJA. DUDUK. MEMBUKA LAPTOP. MENULISKAN ATAU MENANDATANGANI SESUATU. BEKERJA. BEKERJA. ENTAH APA YANG DIKERJAKAN, IA SIBUK. SIBUK SENDIRI. SAMPAI CAHAY FADE OUT. DI SAAT YANG BERSAMA ADA CAHAYA FADE IN DI BAGIAN LAIN. DI RUANG LAIN. DI HIDUP LAIN. DI SEJARAH LAIN.


SEJARAH DUA

SEBUAH RUANG, MUNGKIN ADA DI BAGIAN KANAN. SEPERTI KOTAK SABUN YANG TERANG DI TENGAH KEGELAPAN PANGGUNG LAINNYA. DI DALAM KOTAK ITU ADA SEBUAH RUANG DENGAN CAHAYA PENUH. RUANG ITU DIPENUHI OLEH PERABOTAN YANG CUKUP LENGKAP UNTUK DISEBUT SEBUAH DAPUR. ADA KULKAS, KITCHEN SET SEDERHANA, MICROWAVE, MEJA MAKAN UCURAN KECIL UNTUK SEKITAR EMPAT ORANG (DENGAN KURSI HANYA TIGA, DIMANA YANG SATU MUNGKIN AGAK CACAT KAKINYA).

ADA SEBUAH PINTU DI BAGIAN KIRI RUANG ITU YANG SEDIKIT TERBUKA. DI DINDING SISINYA BERGANTUNG SEBUAH TELEPON FIKS, PENSIL BERGANTING, NOTES PENUH CATATAN. GAMBARAN SEBUAH DAPUR PADA UMUMNYA, BAGI KELAS ATAS-MENENGAH URBAN DIMANA SAJA.
DI DALAM RUANG ITU, NAMPAK SEORANG PEREMPUAN SEDANG BEKERJA. TUBUHNYA SEDANG, AGAK GEMUK (SEPERTINYA MENGGEMUK BELAKANGAN), DAN BEKAS KECANTIKAN DI WAJAHNYA YANG TERLALU TUA BAGI USIANYA (SEBENARNYA IA BARU SEKITAR 27-AN, NAMUN IA TIDAK SENGAJA IA TAMPAK BERUSAHA MENGESANKAN DIRINYA SUDAH 35-AN BAHKAN MENJELANG 40-AN).
WAJAHNYA DATAR TANPA MAKE-UP APA PUN YANG MENYENTUHNYA. BIBIRNYA TAJAM, MUNGKIN KARENA TERLALU LAMA DIAM ATAU TERLALU LAMA MENAHAN RASA PEDIH. DUA BUAH ANTING MENJADI PEMANIS, SESUATU YANG TAMPAKNYA LEBIH MERUPAKAN KEINGINAN ORANG LAIN YANG IA SANGAT MENGHORMATINYA, KETIMBANG IA INGINKAN SENDIRI.
PEREMPUAN ITU SANGAT SEDERHANA SEBENARNYA. RAMBUT DIGELUNG SEADANYA, DIJEPIT, SEHINGGA TIDAK MENYULITKAN. TIDAK BERKALUNG DAN BERGELANG. MEMAKAI DASTER KERJA DAN CELEMEK YANG SUDAH AGAK LUSUH DAN SEDIKIT BASAH (MEMPERLIHATKAN SEOLAH IA SUDAH SEKIAN LAMA TIDAK MELEPASKANNYA).
ADA SETUMPUK SAYURAN DI SALAH SATU BAGIAN KITCHEN SET, DAN BUAH-BUAHAN, JUGA BUNGA YANG BELUM TERTATA. SANG PEREMPUAN TAMPAK SEDANG BEBENAH SAAT LAMPU RUANG ITU MULAI MENYALA. TAK ADA SUARA APA PUN. KECUALI SARU SAPU YANG MENGGESEK DI LANTAI, YANG SAYUP-SAYUP MUNGKIN SUDAH TERDENGAR KETIKA RUANGAN ITU MASIH PEKAT GELAP.
DARI TUBUHNYA YANG BICARA, TERLIHAT DENGAN JELAS BAHWA PEREMPUAN ITU ADALAH SEORANG PEKERJA, PEKERJA RUMAH TANGGA YANG SANGAT TEKUN DAN DISIPLIN. GERAKNYA SANGAT CEKATAN MENGAYUNKAN SAPU YANG SUDAH PATAH GAGANGNYA, MENGAYUN KESANA KEMARIN MENGUMPULKAN SAMPAH HINGGA YANG TERKECIL. MENUMPUKNYA DI SATU SUDUT, MENAMPUNGNYA DENGAN SEBUAH SEROK DAN MEMBUANGNYA KE TEMPAT SAMPAH YANG TERTUTUP.
IA MENGERJAKAN ITU DENGAN RAJIN. HANYA TUBUHNYA YANG BICARA, JUGA MUNGKIN BENDA-BENDA YANG ADA DI SEKITARNYA. SEPERTI GERAK-GERAK ALAMI YANG TERJADI PADA POHON YANG BERAYUN, DAUN YANG MELAMBAI DAN TERBANG ATAU AIR SUNGAI YANG TAK BERHENTI MENELUSURI KELANDAIAN. IA SEOLAH RITUS HARIAN, SEBUAH UPACARA PURBA YANG BIASA SAJA TERJADI, DIMANA SAJA.
DAN UPACARA ITU BERLANJUT. PEREMPUAN ITU MEMPERSIAPKAN SEBUAH EMBER KECIL, MENGISINYA AIR, MEMBERINYA SEDIKIT SABUN DAN PEWANGI. LALU IA MEMBASAHI KAIN PEL PUTIH YANG CUKUP KUMAL, MEMERASNYA AGAK KERING DAN MULAI MENGEPEL LANTAI SEPERTI MEMBASUH TIAP PORI WAJAHNYA DENGAN PEMBERSIH MUKA.
TAK ADA SENTI YANG TERLEWAT. TERMASUK SAAT IA MELAP MEJA, KURSI, KITCHEN SET, PERABOTAN DAPUR DAN SELURUH BENDA DI RUANG ITU. IA MERAWAT DAN MENGANGGAP BENDA APA PUN DI RUANG ITU SEOLAH IA BAGIAN TUBUHNYA YANG TERBAIK, YANG TIDAK MUNGKIN IA LALAIKAN.

YANG MENARIK, SEJAK AWAL IA SESEKALI TERLIHAT MEMANDANG TELEPON DI DINDING. SEAKAN MENUNGGU SESUATU, MENUNGGU TELEPON ITU BERDERING, MENUNGGU SESEORANG YANG TERASA SANGAT IA KENALI. TAPI TELEPON ITU TIDAK BERDERING, TIDAK SAMA SEKALI. HANYA TETAP SAJA, SEKALI ATAU DUA IA MENGANGKATNYA, MENYAPANYA DENGAN CEPAT, “Halo?” NAMUN TAK ADA SUARA SAMA SEKALI DI SEBERANG SANA. DENGAN TERCENUNG DAN SEDIKIT KECEWA, PEREMPUAN ITU MENGEMBALIKAN TELEPON PADA POSISINYA.
SEDETIK DUA SAJA PEREMPUAN ITU TERLIHAT KECEWA KARENA KEMUDIAN IA KEMBALI SIBUK DENGAN PEKERJAANNYA YANG TAMPAK BEGITU PADA DI RUANG DAPUR ITU. PERISTIWA MENERIMA TELEPON TANPA DERING ITU BEBERAPA KALI TERJADI HINGGA USAI SEJARAH DI RUANG INI.
MEMANG ADA SATU-DUA KALI TELEPON ITU BERDERING. DENGAN GAIRAH BINATANG YANG MENEMUKAN MANGSANYA, IA SEGERA MENYERBU TELEPON, BAHKAN BEGITU TERGESA, IA SEPERTI LUPA DENGAN TATA LETAK RUANG YANG SEBENARNYA SUDAH IA HAPAL SEPERTI IA MENGHAPAL TIAP INCI DARI BAGIAN TUBUHNYA.
PEREMPUAN ITU TERSANDUNG KAKI MEJA, TERANTUK KEPALA ATAU TANGANNYA MENYENGGOL PERABOT HINGGA JATUH, SAAT MENYERBU TELEPON. IA MENGELUH SEDIKIT TAPI TIDAK MERASAKAN SAKIT ATAU KEJUT SEDIKIT PUN. SELURUH PIKIRAN DAN JIWANYA SUDAH ADA DALAM DERING ITU. SAAT IA MENGAMBIL GAGANG TELEPON, SEGALANYA SEPERTI BERUBAH, WARNA-WARNA MENJADI CERAH. SEPERTI WARNA MUKANYA. RUANG KOTAK ITU SEPERTI FOTO DALAM KOMPUTER YANG DIGANTI KOMPOSISI WARNANYA DALAM SATU KETUKAN TUTS KEYBOARD.

SENYUM WANITA ITU MENGEMBANG, MENGEMBALIKAN USIANYA BAHKAN LIMA TAHUN LEBIH MUDA. LANGIT-LANGIT, SAYURAN, BUAH, PERABOTAN, SEMUA IKUT BERSERI BERSAMANYA, SAAT PEREMPUAN ITU HAMPIR BERTERIAK DENGAN SEMANGAT SEORANG ANAK YANG MENEMUKAN MAINAN TERSAYANGNYA YANG HILANG SEKIAN LAMA.
PEREMPUAN :
“Ya, Jira...Halo!”
BUAH-BUAHAN MENGGOYANG TUBUHNYA, SAYURAN BERGESER, AIR KERAN SEDETIK MENGUCUR, KURSI MENGHENTAK KAKINYA, SEMUA...SEMUA IKUT MENGEKSPRESIKAN KEBAHAGIAAN YANG SAMA DENGAN PEREMPUAN ITU.

PEREMPUAN :
Ya halo...Jira?... Bukan...

(wajahnya berubah dengan cepat, mengembalikan usia palsunya 15 tahun kemuka)

bukan...maksud saya sudah membayarnya.

(pause)

Ya, saya sudah membayarnya. Kenapa Anda tidak percaya, apakah Anda memang bertugas untuk tidak mempercayai seluruh pelanggan listrik?

(pause)

Saya katakan saya sudah membayarnya. Titik!

(pause)

Anda gila. GILA!

(ia membanting telepon ke dinding. melihatnya sejenak dengan dua ribu rasa kecewa, pedih, di beberapa detik saja.)

(ATAU:
PEREMPUAN :
Ya Halo, Jira...kenapa kau...

(berhenti sejenak, mendengarkan)

Salah sambung? Ya..salah sambung!

(ia membanting telepon ke dinding. melihatnya sejenak dengan dua ribu rasa kecewa, pedih, di beberapa detik saja.)

SAAT ITU, SELURUH PERABOT RUANG MERESPON DUNIA DALAM DIRI PEREMPUAN ITU , SEPERTI MERASAKAN SAKIT DI SALAH BAGIAN TUBUHNYA YANG PENTING. SAYURAN MELUNGLAI, BUAH-BUAHAN MENJATUHKAN DIRI, KURSI MENGGEBRAK PUNGGUNGNYA KE LANTAI, LAMPU BERKERDIP, DAN SEBAGAINYA.

TAPI HANYA SEJENAK. SUNGGUH SEJENAK. KARENA KEMUDIAN SEMUANYA KEMBALI SEPERTI SEMULA. PEREMPUAN ITU KEMBALI MEMBENAHI APA YANG SUDAH SEDIKIT BERUBAH KEMBALI KE POSISI SEMULA. KINI IA MEMPERSIAPKAN DIRINYA, SEPERTI SEORANG KOMANDAN UPACARA MEMPERSIAPKAN PASUKANNYA: MEMASAK DIMULAI.
IA MEMANDANG SAYUR-SAYURAN, MEMILIH-PILIH, MENGAMBILNYA BEBERAPA, MENCUCINYA, MULAI MEMOTONG DAN MERAJANGNYA...DAN PANGGUNG PUN DIISI OLEH KEGIATAN ITU. KEGIATAN YANG BEGITU TEKUN SEOLAH TIDAK ADA LAGI KEGIATAN LAIN YANG CUKUP PENTING DI DUNIA INI, SELAIN MEMASAK.
DAN UPACARA BERLANGSUNG BEGITU TERTIB SUSUNANNYA, BEGITU RAPI PENGERJAANNYA, SEMACAM PROFESIONAL YANG TETAP SAJA AKAN MENGERJAKAN SEMUA ITU SAMA BAIKNYA MESKIPUN IA DALAM KEADAAN TERTIDUR. DAN SEMUA ISI PERABOTAN DI RUANG ITU TAK SATU PUN YANG MENENTANGNYA. SEMUA SEAKAN MEMPERSIAPKAN DAN MEMPERSILAKAN DIRINYA YANG TERBAIK UNTUK MEMBANTU SANG PROFESIONAL MENYELESAIKAN TUGASNYA DENGAN SEMPURNA. MULAI DARI MERAJANG BUMBU, MEMPERSIAPKAN KOMPOR, MENCAMPUR SEGALA SAYURAN, DIBARENGI DENGAN MENANAK NASI DENGAN RICE COOKER, HINGGA MEMPERSIAPKAN MINUMAN (SELURUH URUTAN UPACARA YANG SEBENARNYA SANGAT PANJANG), IA LAKUKAN DENGAN KESEMPURNAAN SEORANG SENIMAN TERBAIK.
BEGITUPUN SAAT IA MENGATUR MEJA, PIRING-PIRING DAN GELAS, SENDOK, GARPU DAN SENDOK, SERBET MAKAN, BOTOL-BOTOL MINUMAN –PUTIH DAN BERWARNA—MENGANGKAT SAYUR YANG TELAH MATANG, MEMERIKSA TANAK NASI DAN SEGALANYA.
PEREMPUAN ITU BEKERJA SEOLAH IA SEDANG MEMPERSIAPKAN PESTA TERBAIKNYA. WALAU PENONTON TAHU IA TENGAH MEMPERSIAPKAN SEBUAH MAKAN (MALAM, SIANG ATAU SARAPAN) HANYA UNTUK DUA ORANG SAJA (SEBAGAIMANA TAMPAK DARI PENGATURAN MEJA YANG DILAKUKANNYA).

MENJELANG USAI, SEMUA UPACARA, INTENSITAS PEREMPUAN ITU MEMANDANGI TELEPON LEBIH KERAP. MENUNGGU DERING. TAPI DERING ITU TIDAK PERNAH MUNCUL. SAMPAI SEMUA AKHIRNYA SELESAI, DAN RUANG ITU SEPERTI BERGANTI BENTUK RUPA, MENJADI SEBUAH RUANG PERJAMUAN YANG SUNGGUH MENGESANKAN.
MEJA TERTATA RAPI DENGAN SELURUH MAKANAN TERHIDANG, PANAS MENGEPUL. SEKELOMPOK BUNGA SEGAR YANG BERDIRI TEGAK DI MEJA, SEAKAN SIAP MENYAMBUT KEDATANGAN SESEORANG. BEGITU BEBERAPA BUNGA YANG HARUM DI BEBERAPA POJOK RUANG. DAPUR ITU BERSAHAJA TAPI BEGITU RESIKNYA.
LAMPU MEREDUP SEDIKIT BERGANTI SATU RANGKAI LILIN DI TENGAH MEJA. KINI PEREMPUAN TIDAK LAGI MENENGOK TELEPON, NAMUN KE ARAH PINTU. TAK ADA APA-APA. TAK ADA KETUK, TAK ADA GERAK APA PUN DI BALIK PINTU ITU. SAAT PEREMPUAN SEDANG MENUANG DUA GELAS DI UJUNG MEJA DENGAN AIR PUTIH, SEKONYONG TUBUHNYA BERGETAR. ENTAH KENAPA.

DENGAN SEGERA IA MENGHENTIKAN KEGIATANNYA. MELETAKKAN BOTOL MINUMAN DAN TUBUHNYA MELESAT BURUNG YANG LEPAS DARI KANDANG YANG MENGURUNGNYA RIBUAN TAHUN. DASTER DAN CELEMEKNYA MELAMBAI. RAMBUTNYA YANG TERTUTUP KAIN MASAK MENGURAI. SELURUH DIRINYA MELESAT KE ARAH PINTU. MEMBUKA PINTUNYA DENGAN CEPAT DAN MENYAMBUT SESEORANG...ENTAH SIAPA DAN MEMPERSILAKANNYA MASUK.
SEPERTI UPACARA YANG LAIN, PEREMPUAN ITU MEMELUK SEBENTAR DENGAN KEHANGATAN MATAHARI DI KUTUB PALING UTARA, MEMBUAT SEBUAH KECUPAN, SENYUMAN YANG MEREKAHKAN MALAM, MEMBIMBING MASUK, MEMBUKAKAN KURSI, MENYIAPKAN SERBET MAKAN YANG IA BUKA DAN LETAKKAN DI PANGKUAN, SEMUA...SEMUA YANG HARUS IA LAKUKAN, KARENA YANG DATANG SAAT ITU ADALAH SEORANG RAJA. TEPATNYA, SESEORANG YANG IA MERASA HARUS DAN PANTAS MENGHORMATINYA, LEBIH DARI WAKTU-WAKTU YANG DIANUGERAHKAN PADANYA.
PEREMPUAN ITU MEMANDANGI DENGAN MATA MENYALA, GAIRAH MELUPA, DAN USIA 20 TAHUN LEBIH MUDA, KE ARAH KURSI DI HADAPANNYA. SEANDAINYA ADA SATU BUAH BATU SAJA, YANG TAMPAK MENDUDUKI KURSI ITU, MUNGKIN SELURUHNYA AKAN BERUBAH DENGAN SEDIKIT MAKNA. TAPI, BANGKU ITU KOSONG.
PEREMPUAN ITU KEMUDIAN SEPERTI MENGIYAKAN KETIKA BANGKU KOSONG ITU SEAKAN MEMINTANYA UNTUK MENEMPATI POSISI YANG HARUS DITEMPATINYA. PEREMPUAN ITU DUDUK DI KURSI SEBERANG. BERUSAHA DI JARAK ITU MELADENI: MEMBUKAKAN PIRING, MENGISINYA DENGAN NASI DAN SAYURAN, LAUK, SEGALANYA, SAMBIL BICARA BAHWA SEMUA ITU ADALAH MASAKAN-MASAKAN TERPILIH YANG MEMANG MENJADI FAVORIT “JIRA”, SESUATU YANG DILIHATNYA ADA DI KURSI KOSONG ITU.

LALU, DENGAN BIBIR YANG TAK MENINGGALKAN SENYUM, PEREMPUAN ITU MEMPERHATIKAN PIRING YANG TELAH PENUH HIDANGAN. PIRING YANG TAK BISA BERBUAT APA-APA. KECUALI DIAM. TAPI TIDAK, BAGI PEREMPUAN ITU.

PEREMPUAN : (setelah sekian detik terpana melihat bagaimana makanan di hadapannya disantap. ada kebahagiaan puncak terlihat di wajah dan gerak tubuhnya)
Kenapa yoghurt-nya tidak dimakan, Jira.

(diam memandang lurus ke depan ke arah kursi kosong di hadapannya)

Itu baik untuk pencernaanmu. Bakteri-bakterinya positif. Dan bukankah rasanya nikmat?

(tersenyum)

Kau selalu begitu, melihat makanan dari bentuknya atau asal mentahnya. Banyak memang yang tampak menjijikkan. Tapi cobalah dulu. Bagaimana kau tahu rasanya, jika kau tak mencicipinya lebih dulu.

(memandang dengan seksama. seperti menekuni satu persatu proses atau upacara makan dari lawan mainnya saat itu)

Kau tampak agak gelisah. Ada apalagi? Bukan masalah Jerom, kepala bagianmu itu lagi kan? Katamu ia sudah dimutasi? Apa kau punya kesulitan dengan tugasmu yang baru? Atau ada temanmu yang mulai kurang ajar? Salah satu komisarismu menjengkelkan.. atau...

(pause)

ada pegawai, kenalan baru, yang cantik dan berdada besar seperti kesukaanmu?

(pause...lalu terbahak tak terlalu keras suaranya)

Aku mengerti Jira, aku mengerti. Kau tidak lagi tipe seperti itu. Kau sudah berubah. Aku menghargainya. Karena itu bekerja sebenar-benarnya, melayanimu sesungguh-sungguhnya, menjadi perempuan sesejati-sejatinya. Semata karena kamu. Semua untuk kamu, Jira. Begitu kau berusaha jadi sempurna, sebagai seorang lekaki, sebagai suami, sebagai calon bapak anak kita...aku pasti akan mendahuluimu...menjadi sempurna.

(pause dan sedikit tercenung)

Aku tak mau gagal lagi, Jira. Aku tak mau ibumu, bapakmu, kakakmu, nenekmu, sampai supirmu pun bergiliran berusaha menggagalkan usaha kita untuk bersama, untuk menjalin rumah tangga. Aku sudah menganggap kau suamiku, dan aku sudah menjadi pasangan hidup yang sempurna. Biar kutahu, mungkin benar aku tidak terlalu pantas untukmu, tepatnya untuk bayangan-bayangan di kepala orang-orang sekelilingmu. Aku bukan wanita dengan baju sempit yang menekan payudara, pantat dan pahaku. Aku bukan perempuan yang membawa kertas-kertas kosong untuk ditandatangani atau gadis dengan bibir yang berwarna terang, berlarian kesana kemari mengucapkan “halo, selamat siang. Apa kabar, saya Mariam istri Hajira, presiden direktur pt sundel bolong, pemilik kapling nomor sekian, lamborghini limited edition nomor sekian. Apa yang bisa saya bantu?”

(menghela nafas)

Tidak, Jira. Aku bukan wanita seperti itu. Aku orang sederhana, mungkin terlalu sederhana. Karena melihat semua bahkan dirimu sendiri tak ada bedanya dengan orang kebanyakan, yang kujumpai di terminal ketika aku menunggu busway, yang kujumpai di pasar sayuran saat aku mencari kubis dan ikan asin kesukaanmu. Aku orang biasa. Jadi jangan paksa aku untuk menerima pikiran dan ide-idemu yang terlalu tinggi, yang tak kumengerti, yang entah milik siapa. Jangan, Jira...jangan paksa aku. Lama-lama aku ngeri dan mati berdiri, karena aku histeris tak mampu menyanggupi dunia yang kau bentuk di kepalamu sendiri. Kawinlah denganku, seperti kau mengawini tikus yang tak mungkin hilang dari garasi mobilmu, seperti mengawini kali coklat di belakang rumah ibumu –rumah masa kecilmu—mengawini tetangga yang sulit sekali bersahabat denganmu –dengan siapa saja tentunya. Eh..hei!

(sedikit terkejut, tangannya menggapai)

jangan...jangan kau sentuh itu. Itu hanya pajangan di sayuranmu, biar kau tahu, masakan perlu keindahan. Jangan kau telan cabe itu! Aku tak ingin lagi perutmu mengejang dan duburmu berdarah saat buang air besar. Tahanlah nafasmu.

(tersenyum)

Bukankah kau sendiri yang mengajarkan, untuk kita selalu mengontrol diri dengan menghentikan apapun yang kita lakukan justru di puncak keinginan atau rasa puas kita?

(tersenyum lagi dan seperti coba membujuk dengan penuh kasih)

Sudahlah, Jira. Jangan merajuk seperti itu. Kau jadi seperti anak kita yang belum dilahirkan. Aku pasti nanti tak tega dan membiarkanmu berbuat kesalahan. Tidak, Jira. Jangan kau sentuh ya. Jangan ya sayang, aku akan buatku es cincau kesukaanmu setelah ini. Pasti. Segera. Tapi oke, lepaskan tanganmu perlahan-lahan dari bumbu pajangan itu...yap....oke...bagus...begitulah Jiraku.

(menghela nafas)

Sekarang segeralah, jangan kau perlambat minum susumu itu. Kau harus segera berangkat kerja. Aku tahu justru wakilmu sendiri yang sangat ketat dalam waktu. Ingatlah harapan dan rencana-rencana kita, biar kau lebih semangat lagi kerja. Dan itu...bekas susu di ujung bibirmu, sekalah segera. Tas kerjamu sudah kusiapkan dari tadi dan kusiapkan di mobil. Semoga semua lancar bagimu, itu doaku selalu. Semoga kau bisa menerimaku seutuhnya aku, begitu usahaku setiap waktu. Biarlah...aku tahu..aku tahu.. sebagian dunia, mungkin sebagian besarnya, tidak menerima kita. Tidak menerimaku, lebih tepatnya. Tapi apalah dunia di luar kita? Sejak kecil kita merasa asing dengannya. Dan aku merasa tidak hidup dengannya. Karena aku merasa sudah memiliki duniaku sendiri, menciptakan dan membangunnya sendiri. Dunia kita. Percayalah aku tidak akan ditentukan oleh buku-buku yang kubeli dan kau belikan untukku, biarpun habis kubaca semuanya. Aku tidak akan menjadi seseorang yang ditentukan kalung gelang emas yang kau hadiahkan padaku, biar pun aku sendiri akan membelinya seandainya kau tak menghadiahkan padaku. Aku pun tidak akan menjadi benda-benda baru yang memenuhi seluruh rumah kita, isi kantong kita, bahkan isi hati kita, betapapun aku akan coba mencari dan mengenali mereka. Percayalah Jira, aku akan jadi Maria, Maria sesungguhnya. Mariamu.

(menghela nafas,berdiri, dan menghampir kursi di depannya)

Kini perbaiki dasimu dan segeralah berangkat!
PEREMPUAN ITU MEMPERHATIKAN DENGAN SEKSAMA APA YANG SEAKAN TERJADI DI DEPANNYA. SEBUAH PROSESUS KEBERANGKATAN. HINGGA PINTU DAPUR TERBUKA, LALU SESEORANG SEOLAH MELEWATINYA, PINTU TERTUTUP KEMBALI. DAN SUARA SEPATU DI LUAR TERDENGAR MENJAUH. LALU HILANG.
HENING. SENYAP. SEMUA STATIS. WAKTU PUN SEPERTI LENYAP. SEJARAH PUN DIAM. BEBERAPA SAAT.
LILIN-LILIN MATI SENDIRI DAN CAHAYA KEMBALI BERSINAR SEPERTI AWAL DARI SEJARAH KEDUA INI. PEREMPUAN PUN TAMPAK BERDIRI DI POSISI YANG SAMA DENGAN AWAL SEJARAH KEDUA. WAJAHNYA KEMBALI PUCAT, 20 TAHUN LEBIH TUA. IA MEMBERESI ISI MEJA DENGAN MEMBUANG SEMUA ISINYA, MASAKAN DAN MINUMAN YANG MASIH UTUH ITU KE DALAM PLASTIK SAMPAH YANG BESAR.
SETELAH ITU, TERJADILAH APA YANG PERSIS SAMA DENGAN AWAL SEJARAH KEDUA. BAIK URUTANNYA, GERAK DAN GAYANYA, DAN SEGALANYA. DUNIA SEPERTI BERULANG. MUNGKIN KALI INI DALAM SPEED YANG DIPERCEPAT. JIKA BISA SAMPAI PADA ADEGAN, PEREMPUAN MENUNGGU KEHADIRAN DENGAN MEJA YANG SUDAH PENUH DENGAN HIDANGAN DAN MINUMAN.

KATA-KATA AWAL PUN SAMA. SAMPAI SEMUANYA MEMUDAR, FADE OUT. BEGITU PUN LAMPU. LALU GELAP TOTAL. BLACK OUT, DIIRINGI SUARA LAIN YANG DATANG DARI RUANG LAIN DI SEJARAH LAIN...
TAK JAUH DARI RUANG DAN SEJARAH KEDUA.
SELESAI