SATU
SIANG DAN MALAM
SEMAKIN TAK ADA BEDANYA. WAKTU BERJALAN TERLALU CEPAT MEMBAKAR MIMPI DI
SIANG PENAT. GELAP CAHAYA LAMPU, PEKAT DAN MENYUMBAT AKAL SEHAT. BARMAN
TERMENUNG DI AMBANG KESADARAN, MENATAP GULITA TANPA DENDAM. INI AWAL
SEBUAH CERITA DAN AKHIR SECUIL KENANGAN. BARMAN TERKAPAR DALAM
KETIDAKBERDAYAAN TAPI BUKAN TANPA KEINGINAN. DAN HIDUP SEBENTAR LAGI
DIMULAI.
BARMAN
Cerita
ini baru mulai. Dan siapa saja yang ada di sini adalah tokoh utama.
Bukan aku tak percaya pada orang lain. Egois atau narsis, bukan…! Tetapi
sejak aku tidak dikehendaki melakukan apa-apa lagi, semuanya aku anggap
penting. Bahkan seekor kucing pun yang lewat di depanku, menoleh dan
menggelendot di pangkuanku, aku anggap penting. Kucing itu telah
memberiku arti sebagai manusia. Kalau tidak, mungkin kucing itu akan
mencakar dan mencabik kaki dan pahaku. Berdarah, tetanus, bengkak, dan
rabies.
(tertawa)
Aku punya cerita
tentang kucing. Kucing yang ini, badannya besar, kumisnya tebal –maaf
bagi yang punya kumis—dan ada belang di kaki. Belang bukan tato! Kucing
itu milik banci yang rumahnya di ujung gang. Tiap aku lewat depan rumah
banci itu –aku lupa namanya—dia selalu duduk di depan pintu sambil
menyisir bulu kucingnya. Aku yakin, itu kucing laki-laki. Instingku
saja…! Terlalu berbahaya jika soal itu ditanyakan.
Aku
lewat, menoleh dan banci itu tersenyum. Tapi pagi itu lain, dia
tersenyum lantas berjalan mendekatiku sambil tangannya masih menyisir
bulu kucingnya. “Mau kucing, Barman?” katanya dengan genit. Itu
pengalaman pertamaku bicara dengan banci. “Kucingnya bagus,” katanya
agak gugup. “Terima kasih, saya tak biasa memelihara kucing. Maaf,” Tapi
dia tetap tak membiarkanku lolos.
Justru aku semakin
didekati dan dia berjalan mengelilingiku. Untung saja masih pagi!
“Barman, dia kucing yang baik. Kalau mencakar sangat pelan dan penuh
perasaan. Penurut dan tidak suka meloncat. Pokoknya, kucing ini sangat
tahu untuk apa dia diciptakan,” Banci itu semakin menyudutkanku. Hingga
aku nyaris terjengkang. “Maaf, aku harus segera pergi,” kataku ingin
segera lepas dari cengkeraman banci agresif itu. “Mampirlah sebentar.
Aku punya koleksi kucing yang mungkin kau minati. Aku ingin berbagi
kucing denganmu, Barman…,” kata banci itu mulai melenguh.
Banci
kampung bertingkah liar. Sejak aku tinggal di gang itu, baru pagi itu
melihat keberingasan tetangga jauhku itu. Banci dan kucingnya yang siap
menerkamku. “Cukup! Terima kasih. Lain waktu saja. Simpan baik-baik
kucingmu, siapa tahu ketemu teman –sesama kucing—yang lidahnya lebih
panjang atau yang ekornya pendek hingga terlihat jelas….! Hei..banci itu
mengejarku.
(Barman berlarian)
Beberapa orang mulai bangun, membuka pintu dan melihatku berlari hingga nyaris jatuh ke selokan.
Banci
kurang ajar! Sempat kulihat seseorang yang baru saja membuka jendela,
tertawa melihatku berlarian. Mungkin dipikirnya, aku bercanda dengan
banci itu sejak semalam. Sial! Kalau saja ada yang orisinil, kenapa
milih banci!
Sejak itu, aku benci kucing. Melihat kucing,
selalu lenguhan banci memenuhi otakku. Tapi aneh, semakin aku benci
kucing, justru aku tak bisa melupakan binatang beringas itu. Tak jelas
apa alasannya, tiap ada kucing, kupanggil dan kuberi makanan.
Kuelus…karena aku sadar, mungkin kucing ini sebentar lagi bernasib sama
dengan kucing dalam pelukan banci itu. Karena sejak peristiwa pagi itu,
aku tahu ternyata banci itu pekerjaanya memburu kucing. Jadi, selagi ada
kesempatan, aku ingin membahagiakan kucing-kucing itu sebelum masa
depannya hancur.
(Berlagak seperti orasi)
Bersatulah
kucing-kucingku! Kuatkan batinmu, liarkan hidupmu. Panjangkan
kuku-taringmu. Kibaskan ekor mungilmu! Kau kucing nakal, bukan kucing
dalam karung. Kau kucing yang siap bertarung…! (mendadak orasi Barman terhenti, sebuah teriakan membuat semuanya jadi lunglai).
SINTA (Berteriak dari dalam)
Masih pagi…jangan berteriak seperti itu. Kau mulai cerita yang aneh-aneh.
BARMAN
Aku cuma melatih ingatanku, Sinta!
SINTA
Tapi tidak dengan cara seperti itu. Nanti tenggorokan sakit. Ke dokter lagi, duit lagi…
BARMAN
Itulah perempuan. Semuanya diukur dengan duit. Bahkan tidak boleh sakit pun, alasannya karena duit.
SINTA (keluar sambil membawa handuk kecil).
Jangan sampai kambuh lagi.
(mengusap kening Barman)
Bukan saatnya berteriak seperti itu. Kayak anak kecil!
BARMAN
Cuma sekedar untuk mengusir bosan dan agar kelihatan variatif. Lebih dinamis!
SINTA
Bosan?
BARMAN
Bukan begitu
(gugup)
Orang seusiaku, sangat penting melatih leher. Karena semuanya dimulai dari leher…
(agak ngawur).
SINTA
Alasan saja. Kenapa mesti ditutup-tutupi?
BARMAN
Sinta, aku tadi cuma melatih ingatan tentang kejadian yang aku benci.
SINTA
Benci…bosan, apa bedanya?
BARMAN
(mulai kesal) Memang aku benci dan bosan. Nah, kau punya saran agar aku tidak selalu berteriak yang menurutmu membosankan itu?
SINTA
(diam beberapa saat) Sejak kau pensiun, selalu bertingkah aneh. Kadang diam, sendiri, berteriak, cerita sesuatu yang tidak masuk akal….
BARMAN (tertawa)
Justru
akalku makin sehat. Sempurna. Hidupku semakin sempurna! Aku bebas
berteriak tanpa takut hukuman apalagi hujatan. Inilah diriku sekarang.
Barman yang pensiunan pejabat penting di kota ini, berdiam diri di rumah
tapi pikirannya tetap berlarian kesana-kemari seperti anak kecil
mengejar layang-layang.
SINTA
Tingkah yang tidak masuk akal!
BARMAN
Kau mulai berani melarangku, Sinta!
SINTA
Bukan begitu.
BARMAN (marah)
Kau mulai berani!
SINTA
Karena semakin sulit dimengerti.
BARMAN (tertawa)
Situasi
aneh justru muncul di saat semuanya sulit dimengerti. Dan selamanya
kita ditakdirkan tidak mampu mengerti. Spesies paling bodoh dalam
sejarah penciptaan adalah kita.
SINTA
Berapa lama kita bersama?
BARMAN (terkejut)
Apa yang terjadi?
SINTA
Sulit dimengerti karena kita spesies bodoh.
BARMAN
Betul! Sinta…
(bangga)
kau mulai mengerti. Bahwa itu pertanyaan paling bodoh!
SINTA
Mungkin
benar. Tetapi tidak selamanya begitu. Kau ini terlalu pintar untuk
mempermainkan hidup. Berputar-putar, berlari-lari mengejar tujuan yang
semakin jauh. Kini tujuan itu semakin tidak kelihatan seiring usia
menjelang habis. Hidup ini terlalu rumit…! Apalagi yang bisa dilakukan
setelah kerumitan itu selesai? Hidupmu kosong!
BARMAN
Hidupku kosong?
SINTA
Pensiun…!
BARMAN
Tapi semuanya kunikmati. Tuhan telah benar-benar menata hidupku dengan sangat baik. Bahkan terlalu baik.
SINTA
Karena terlalu baik, banyak yang kau lupakan.
BARMAN
Pikiranku masih komplit, Sinta. Bahkan untuk mengingat kejadian atau benda paling kecil sekalipun. Otakku sangat terlatih.
SINTA (tertawa)
Dimana kau letakkan jaketmu tadi pagi?
BARMAN
Dekat jendela.
SINTA
Sepatu?
BARMAN
Belakang pintu. Di samping lemari.
SINTA
Balsem kesayanganmu itu?
BARMAN
Di atas lemari. Karena sering kupakai, jarang kumasukkan kotak obat.
SINTA
Majalah porno yang kau baca semalem?
BARMAN
Aku lempar begitu saja karena tidak tahan lagi.
(tertawa)
Selanjutnya…kau yang paling ingat Sinta. Waktu berjalan sangat luar biasa!
SINTA (dengan nada cepat)
Usiamu berapa? Kenapa pensiun lebih cepat? Dan pekerjaan besar apa yang belum kita lakukan?
BARMAN (Diam. Sinta mengulangi pertanyaannya, tepat dekat telinga Barman)
Kubuang jauh ingatanku tentang hal itu.
SINTA
Dibuang? Lupa? Justru pertanyaan sepele, kau tidak bisa menjawab.
(Sinta mengulangi pertanyaannya).
BARMAN
Seolah kau ingin menyingkirkanku. Dan mengatakan; aku sudah tidak berguna lagi!
SINTA
Aku punya cerita
(seperti mendongeng).
Suatu
hari, orang tua bertanya kepada anaknya. Masih kecil. Permainan apa
yang paling disukai? Anak itu menjawab petak umpet. Tidak ada mainan
yang lain? Tanya si orang tua. Banyak! Tapi kurang menantang. Sebab
petak umpet melatih keberanian, daya ingat, dan tanggung jawab untuk
menemukan lawan mainnya.
Orang tua itu bertanya lagi;
berapa usiamu? Si anak menjawab 13. Ya! 13…terlalu tua untuk main petak
umpet. Tapi anak itu ngotot. Banyak yang usianya lebih tua justru
menjadikan petak umpet sebagai pekerjaan. Memetak-metak lalu ngumpet.
Metak-metak lagi…ngumpet lagi. Petak satunya hancur, ngumpet…dan susah
dicari. Buron!
BARMAN
Siapa anak kecil itu?
SINTA
Kau mulai tertarik?
BARMAN
Dia pasti anak yang kreatif. Atau paling tidak bapaknya; seniman atau guru seni!
SINTA (melanjutkan dongeng)
Ketika
purnama penuh, mereka bermain di tanah lapang yang penuh lubang dan
dikelilingi belukar. Memang cocok untuk ngumpet tapi terlalu bahaya
untuk anak kecil. Maksudku anak usia 13 tahun!
Permainan
pun dimulai. Sialnya, anak itu kalah dan harus mencari lima temannya
yang sembunyi. Entah dimana! Tiga temannya berhasil ditemukan dengan
cepat karena badannya gendut hingga susah bersembunyi. Sedangkan dua
teman lainnya, hingga satu jam…belum ditemukan. Nyaris saja, mereka
meninggalkan dua temannya yang terlalu pintar bersembunyi. Tapi anak itu
tak mau meninggalkan tanggung jawab. Dia cari dua temannya hingga
nyaris tengah malam. Hingga kelelahan dan duduk di pinggir lapangan.
BARMAN
Dua temannya itu?
SINTA
Sudah tidak penting lagi.
BARMAN
Terus kenapa kau bercerita? Apa karena drama ini biar panjang?!
SINTA
Ada yang lebih penting. Drama panjang kejujuran.
BARMAN
Maksudmu?
SINTA
Bisa saja mereka meninggalkan lapangan tanpa beban. Pura-pura lupa atau sengaja menganggap temannya itu tak penting lagi.
BARMAN
Jangan menyindir! Aku bukan anak 13 tahun dalam ceritamu itu.
SINTA
Tapi masih sering pura-pura.
BARMAN
Menurutmu saja. Sinta, kenapa baru sekarang kau menanyakannya?
SINTA
Itu bagian penting dari hidupmu. Hidup kita!
BARMAN (terkekeh)
Ada hal yang lebih penting daripada bertanya tentang usia atau kenapa aku pensiun lebih cepat.
SINTA
Apa?
BARMAN
Kamu!
SINTA
Jangan membalik kenyataan.
BARMAN
Lelaki paling peka terhadap perubahan yang dilakukan istrinya. Sekecil apapun!
SINTA
Usiamu saja lupa. Bagaimana bisa tahu perubahan yang kulakukan?
BARMAN
Tak
ada hubungannya dengan usia karena tidak penting lagi. Coba perhatikan;
kau selalu terlambat membuat kopi. Tidur terlalu malam. Dan sering
melarangku melakukan sesuatu, termasuk berteriak!
SINTA
Kopi hanya membuat kau tak bisa tidur. Dan aku terus menjaga agar kau tidak bertingkah aneh. Hal itu sering terjadi.
BARMAN
Dan
kau senang jika aku bisa melupakan semuanya? Masa laluku? Pekerjaanku?
Teman-temanku? Juga banci ujung gang yang selalu menyodorkan kucingnya?
SINTA
Pikiranmu
mulai lagi. Lebih baik kau istirahat. Mungkin sambil istirahat, kau
bisa mengingat semua kenangan yang kau inginkan. Ayolah…
(mengajak)
selonjorkan kakimu. Letakkan kepalamu dan atur napas.
(Barman mulai terbaring. Kaku).
Aku
awali cerita ini dari sini. Kisah yang dibenci semua orang tapi masih
sering terjadi. Malampun gelap. Angin bertiup cukup kencang. Jalanan
sepi sehabis hujan. Semuanya gelap…
DUA
CERCAH
CAHAYA MENYERUAK, MEMBUKA KEGELAPAN. PERLAHAN BARMAN MELAYANG, TERBAWA
DERASNYA INGATAN YANG BELUM SEMPURNA. SYARAFNYA KAKU, PERSENDIANNYA
TEGANG. TAPI BARMAN SADAR, ADA PERSOALAN BESAR YANG HARUS DISELESAIKAN.
HINGGA ISTIRAHATNYA TERSENDAT DAN TERGERAGAP.
BARMAN
Apa
sudah kelihatan terlalu tua? Apa semua keriput bisa jadi ukuran? Apa
kelambanan tubuhku ini bisa jadi gambaran; bahwa Barman memang tidak
mampu berbuat apa-apa lagi.
EDOS
Aku kemari tidak untuk membicarakan hal itu. Maaf, jika waktunya kurang tepat.
BARMAN
Justru sangat tepat! Aku membutuhkan nasehat. Pertanyaan yang selalu mengganggu hampir setiap hari. Kau bersedia?
EDOS
Kelihatannya sakit sekali?
BARMAN
Lebih
dari sakit. Kadang tubuhku terasa lemas. Dingin. Seperti kematian telah
mendekatiku. Kadang sebaliknya, api itu membakar seluruh sarafku.
Otakku hangus! Tetapi jemariku keriput, kulitnya mengelupas. Jika
kutiup, terasa perih. Perih sekali…
EDOS
Pernah ke dokter?
BARMAN
Sejak
aku serumah dengan Sinta, sulit percaya kepada dokter. Jarum suntiknya
itu, ternyata menipu. Dan stetoskos yang selalu tercantol ditelinga,
bohong besar! Dengan alat yang sulit dimengerti, dia bebas mengatakan
apa saja.
Suatu pagi, aku pernah ke dokter. Setelah aksi
pegang-pegang kepala, dada, dan perut, dia langsung ambil keputusan; aku
menderita radang lambung. Aku bantah! Dia tetap ngotot! Lalu masuk
ruangannya dan mengambil buku sangat tebal. Aku pun diperlihatkan gambar
isi perut manusia yang membuatku mual. Katanya; karena lambung terlalu
penuh dengan makanan yang buruk maka dindingnya infeksi dan luka.
Meradang!
Aku batah! Dia tambah ngotot. Malah bilang
itulah buku panduan para dokter di seluruh jagad. Dan ribuan dokter
seolah mengatakan terlalu banyak hal buruk yang kumakan. Jelas aku
marah. Itu sama saja dengan menghina Sinta. Dia paling jago masak.
Satu
lagi, dokter yang prakteknya dekat warung sate itu, tanpa ragu
memberiku resep obat raja singa. Itu sudah keterlaluan! Tubuhku memang
panas-dingin, tetapi bukan akibat penyakit kotor. Edos, kau tahu
kan…seleraku (terkekeh) Terang saja, aku bentak dokter itu.
Hingga beberapa pasien melongok lewat korden. Dokter! Penyakit itu hanya
cocok untuk orang ceroboh. Dan lagi, kau ingat Edos,
(lirih)
aku
pernah selingkuh dengan dokter juga meski masih kuliah. Suatu malam,
mahasiswi kedokteran itu mengatakan; cuci tangan sebelum tidur…! Pasti
aman. Itu artinya ini bukan raja singa! Mungkin dokter itu asal bicara
agar ingin dibayar mahal. Sejak itu, aku tak percaya dokter.
EDOS
Sejak kapan kau merasakan tubuhmu tidak beres, Barman?
BARMAN
Sejak Sinta sering melarangku berteriak.
EDOS (tertawa)
Justru
Sinta paling mengerti daripada dokter yang membuatmu marah. Mungkin
saja, Sinta telah menemukan obatnya. Pernah hal itu kau tanyakan?
BARMAN
Maksudmu?
EDOS
Kau hanya perlu istirahat cukup, Barman.
BARMAN
Tak ada bedanya dengan Sinta.
EDOS
Dia selalu mengatakan begitu?
BARMAN
Hampir tiap malam. Sebelum aku mencuci tangan.
EDOS
Sinta memang cerdas!
BARMAN
Kau puji istriku?
EDOS
Tersinggung?
BARMAN
Sedikit. Tapi jangan dilanjutkan.
EDOS (tertawa genit)
Itulah
akar segala sakit, Barman. Kelihatannya sepele tetapi akan menggerogoti
pikiran hingga tubuhmu lemas. Otakmu terbakar hingga jantungmu meleleh.
Lalu syarafmu bergerak, meloncat-loncat mempermainkan lambungmu.
Menyendat napasmu. Menggerakkan tangan-kakimu. Mematikan nafsu! Kabar
buruk bagi Sinta.
BARMAN
Kau terlalu banyak tahu.
EDOS
Aku
mengenalmu, jauh sebelum Sinta. Dan tak ingin melihatmu menderita
setelah hal besar itu kau putuskan. Menikmati masa tua, tidak harus
dengan pensiun. Terlalu beresiko. Dulu, kau pernah mengatakan; hanya
orang tidak kreatif-lah yang memilih pensiun. Otak menjadi diam. Kaku.
Dan monoton.
BARMAN
Jangan menyindir.
EDOS
Itu pertanda kau terlalu lelah.
BARMAN
Kau kemari hanya ingin mengatakan itu?
EDOS
Maaf kalau terlalu jujur. Kau butuh hiburan, Barman.
BARMAN
Lebih tidak masuk akal!
(Melonjak. Tertawa)
Seluruh
hidupku kuhabiskan untuk berhibur. Apa itu kurang? Bahkan dalam 24 jam
waktuku, 8 jam bekerja, 14 jam mencari hiburan, dan 2 jam lainnya tak
seorang pun kuberitahu. Apa belum cukup?
EDOS
Belum!
BARMAN
Kau punya cara lain?
EDOS
Habiskan 24 jam untuk berhibur. Habiskan seluruh waktumu untuk melonggarkan syarat yang mulai liar.
BARMAN
Bagaimana dengan Sinta?
EDOS
Dia terlalu cerdas untuk mengikuti permainan ini.
BARMAN (mulai tertarik)
Kau tahu caranya?
EDOS
Bukankah aku terlalu banyak tahu.
BARMAN
Kalau begitu, kau datang tepat pada waktunya, Edos. Boleh nanti aku berteriak?
EDOS
Sangat boleh.
BARMAN
Meloncat-loncat?
EDOS
Sangat bagus untuk persendian.
BARMAN
Menghujat?
EDOS
Itu melonggarkan pikiran!
BARMAN
Saranmu sungguh hebat, Edos! Bantu aku bisa melakukan semuanya.
EDOS
Ingat! Ini bukan soal benar-salah. Tapi bagaimana menjalani hidup dengan tepat.
BARMAN
Cara yang paling liar.
EDOS
Lebih
liar dari yang kau bayangkan. Coba lihat dirimu sendiri, Barman.
Alismu, hidungmu, lehermu, tangan, perut, dan kakimu. Ajaklah semua
bicara. Ajaklah untuk menuruti keinginanmu. Berlari menuju puncak
ketenangan.
(Barman mulai berputar. Berlari. Hingga naik ke puncak tertinggi)
Leher
itu bicara; aku lelah berteriak. Tangan itu pun bicara; jariku terasa
kaku. Kakimu mengumpat kenapa terus saja berjalan. Kau mulai liar
Barman! Semakin liar, kau semakin tenang. Damai.
BARMAN
Caramu menguras tenaga, Edos! (Barman semakin liar)
EDOS
Hanya sementara! Teruslah beringas hingga tenagamu habis. Lanjutkan, Barman! Lebih cepat lebih baik!
BARMAN(bertambah beringas)
Terlalu politis!
EDOS
Rasakan perubahan di seluruh persendianmu!
BARMAN
Jiancuk! Kakiku keseleo! Napasku hampir habis!
EDOS
Tinggal selangkah lagi! Ketenangan telah menyambutmu. Naiklah, dan bicaralah kepada dunia. Cari kalimat yang sulit dimengerti!
BARMAN (nyerocos kalimat ngawur)
Aku
berdiri di samping dengan dua kaki menggenggam ikan asin dan seekor
kucing tapi siapa tahu ada polisi kencing sambil mancing berputar
berkeliling seperti tai anjing tak terlalu penting sebab dia bunting
bukan karena petting hanya dilakukan maling yang siap mencari
guling-guling kambing semua sinting karena melihat pertunjukan tidak
penting…..Seperti itu?
EDOS
Terlalu jorok dan puitis! Cari kalimat lain!
BARMAN (bingung dan mulai lagi)
Senin
13 pagi semuanya dimulai. Dan hidupku baru dimulai. Pikiranku terasa
kosong karena aku tahu Sinta mulai bohong. Malam itu aku keluar dan
berjalan membunuh rasa kecewa…
(tiba-tiba Edos memotong)
EDOS
Jangan curhat Barman! Banyak wartawan! Istrimu dengar. Bahaya…!
BARMAN
Ini bagian paling susah!
EDOS
Lipat dan sembunyikan pikiranmu!
BARMAN
Aku
mulai dengan Sinta. Perempuan itu telah kuberi seribu satu nasib sial.
Nasib yang jarang dimiliki oleh perempuan lainnya di muka bumi. Tapi
anehnya, justru Sinta semakin menikmati takdirnya. Perempuan yang aneh.
Perempuan yang misterius. Perempuan yang sulit dimengerti. Bahkan hingga
kini aku dan Sinta belum saling mengerti. Sinta terlalu cantik. Terlalu
baik. Terlalu penurut.
Tak ada tantangan membuatku sakit.
Tanganku tak berguna. Tubuhku tak berfungsi lagi. Otakku tak cukup kuat
mengingat kesenangan Sinta. Kesadaranku tak membuat bahagia. Aku mati.
Lunglai. Dan tak bisa apa-apa.
Sementara Sinta terlihat
semakin bahagia. Dia tersenyum. Bergerak dengan gesit. Tak ada secuil
beban di kepalanya. Bahkan setiap aku panggil; Sintaaa….sebelum
menghampiriku, dia tersenyum. Seolah mengerti apa permintaanku.
Sebaliknya, nasib tak masuk akal menyerangku. Sinta tetap bahagia.
Tertawa. Menertawakan sakit yang terus menggerogoti pikiranku. Seperti
seribu tusukan bersarang di kepala ini. Aku tak bsa berbuat apa-apa
ketika Sinta semakin tersenyum.
Perempuan itu mengejekku. Dimana
aku harus sembunyi dari wajah bahagianya. Sinta terus menyerangku.
Siang. Malam. Pagi. Setiap waktu, Sinta terus menghajarku. Hingga aku
hancur.
(Barman terkapar)
CAHAYA
REDUP. MALAM MAKIN LARUT. KETIKA BARMAN TERKAPAR, SINTA MENDEKAT DAN
BERJALAN BAGAI BIDADARI. SEMAKIN DEKAT TAPI TAK MENYENTUHNYA. DESAU
ANGIN MALAM MENYERET BATIN SINTA HINGGA MENJAUH DARI BATIN BARMAN.
LELAKI ITU TELAH TENANG, TIDAK MATI. HANYA DIAM KELELAHAN. TAPI OTAKNYA,
JELAS MELIHAT SINTA DATANG MEMBAWA SEUNTAI SENYUM DI SAMPING EDOS.
TIGA
MALAM
MEMBUKA SEGALA KEMUNGKINAN. TAK PERLU BENAR DALAM HAL KESENANGAN.
BARMAN TENANG DALAM TIDUR YANG TIDAK TERLALU PANJANG. HILANG DIBALIK
JANTUNG KELAM. TINGGAL SINTA MENCOBA MENJALANI CERITA YANG SALAH TETAPI
SANGAT MANUSIAWI. CERITA YANG SEHARUSNYA TERJADI TETAPI SULIT DIPAHAMI.
DAN EDOS, BAGAI PANGERAN YANG MENYANDANG BERJUTA PERANGKAP. MENANGKAP
KESENANGAN LIAR DALAM BELUKAR DENDAM.
SINTA
Dia sudah tidur.
EDOS
Belum. Lihat matanya.
SINTA (agak mendekat)
Pulas sekali.
EDOS
Dengarkan denyut jantungnya.
SINTA
Sangat kacau. Mungkin sedang bermimpi.
EDOS
Napasnya?
SINTA
Tidak teratur.
EDOS (nada tinggi)
Mungkin sedang mengintip kita.
SINTA
Sst…Jangan terlalu kasar. Itu posisi tidur paling aneh yang pernah kulihat. Dia paling tidak suka telentang.
EDOS
Tidak bergerak.
SINTA
Tidurnya mungkin akan panjang. Dia kelelahan dibantai dirinya sendiri.
EDOS
Seharusnya kau tak membiarkan dia sakit.
SINTA
Justru rasa sakit itu dinikmatinya. Dia takut kehilangan.
EDOS (diam beberapa saat. Memastikan kondisi Barman)
Sudah kau beritahu?
(Sinta menggeleng pelan)
Kapan?
SINTA
Dia sulit diajak bicara. Setiap hari sibuk dengan pikirannya yang kacau.
EDOS
Kau istrinya.
SINTA
Tapi aku tak mau terlibat.
EDOS
Istri yang pintar.
(tersenyum)
Dimana kau simpan?
SINTA
Di belakang lemari. Dekat meja makan.
EDOS
Dia sering ke ruangan itu?
SINTA
Sejak
dia pensiun, selera makannya turun. Dia lebih suka merokok sambil
membawa gelas kopi kemana-mana. Kadang di ruang tamu, dapur, teras,
bahkan duduk di kursi kecil depan pintu WC.
EDOS
Untuk apa?
SINTA
Itu
kebiasaan barunya. Cukup lama meja makan tak berfungsi. Aku letakkan
gelas, piring, makanan hangat, tidak disentuh hingga basi.
EDOS
Kau punya rencana lain?
SINTA
Di hari kelahirannya.
EDOS
Kapan itu?
SINTA
Dia sendiri lupa.
EDOS (menerawang kepada Barman)
Kau punya ingatan yang buruk, sobat. Bawa ke sini kardus yang kuberikan itu.
SINTA
Terlalu berbahaya.
EDOS
Tidurnya, terlalu panjang. Masih banyak waktu.
(Sinta dengan langkah ragu, sesekali melongok Barman, masuk dan mengambil kardus di belakang lemari dekat meja makan)
Ini
bagian paling penting. Aku harap kau bisa mengapresiasi cerita ini
dengan bagus, Barman. Tidak terlalu panjang. Dan tidak terlalu sulit
dimengerti. Kisah yang menghibur. Konyol. Lucu. Dan melonggarkan
pikiran.
(terkekeh)
Itu kan yang kau cari, Barman?
Hampir
tiga belas tahun, kita bekerja. Tiga belas ribu orang, kau penggal
nasibnya. Dan mungkin tiga belas juta umpatan kau sembunyikan di balik
saku jaketmu. Sebenarnya, aku kasihan Barman. Tapi otakku masih waras,
nafsuku masih sehat hingga lolos dari perangkapmu.
Kardus
itu, hanya tanda mata. Bukti kalau aku simpati terhadap sikap tegasmu,
meski terkesan arogan. Saat terakhir, kau melepaskan jabatanmu, mungkin
hanya aku yang punya niat baik. Barman, seandainya sejak dulu kardus itu
kau buka, semuanya tak akan terjadi. Hidupmu tenang dalam cerita yang
sangat mengharukan.
Tapi istrimu, punya rencana lain. Tidurlah Barman. Rencana itu kini bersambung degan rencanaku.
BELUM SELESAI, MENDADAK….
SINTA (Tergopoh. Panik)
Tidak ada. Hilang!
EDOS(Juga panik)
Cari lagi, Mungkin telah kau pindah. Kapan terakhir kau melihatnya?
SINTA
Aku simpan dan tak pernah kuperiksa.
EDOS
Ini kesalahan besar. Cerita bisa berubah. Coba cari di ruangan lain.
SINTA
Aku yakin di situ. Belakang lemari dekat meja makan.
EDOS
Punya berapa meja makan. Ayo cepat! Semua rencana bisa hancur dan Barman tidur terlalu pendek. Cepat Sinta!
(kembali masuk dan mencari)
SINTA (dari dalam)
Ada tiga kardus tetapi terlalu kecil!
EDOS (bingung)
Sebuah
rahasia akan terbongkar. Perlahan tapi pasti. Mimpi buruk Barman akan
menjadi kenyataan. Padahal mimpi itu kubungkus rapi dalam kardus, kuikat
sangat kuat dan dibuka saat yang tepat.
SINTA (keluar)
Tidak ada.
EDOS
Tidak ada jalan lain.
SINTA
Jalan lain?
EDOS
Karena
setelah membuka kardus itu, Barman tidak akan menemukan siapa-siapa
lagi. Hanya dirinya sendiri. Jika dibuka tepat waktu. Kenapa mesti kau
simpan dulu?
SINTA
Edos, kita harus segera pergi.
EDOS
Dia suamimu!
SINTA
Sebelum kardus itu hilang. Sekarang, semuanya bisa terjadi.
TAKUT.
EDOS
Sudahlah. Kita ikuti saja cerita ini. Kau bilang, Barman terlalu lelah untuk mengingat. Itulah jalan lain yang kumaksud.
SINTA
Akan berakhir baik?
MENDEKAT EDOS.
EDOS
Jika kau tenang. Semuanya pasti berjalan cukup baik.
MEYAKINKAN.
SINTA
TENGGELAM DALAM KETAKUTAN. KARDUS ITU ADALAH MIMPI BARMAN YANG TAK
BOLEH DIBIARKAN LIAR TERBUKA. EDOS TELAH MEMBUNGKUSNYA. TETAPI, SANG
WAKTU BERKEHENDAK LAIN. MIMPI BARMAN BERGERAK MAKIN LIAR, SELIAR EDOS
DAN SINTA YANG BERPELUK DALAM KETAKUTAN.
EMPAT
HANGATNYA
CAHAYA MENGHANTAM PIKIRAN BARMAN. CAHAYA ITU PULA MEMBANGKITKAN GAIRAH
BARMAN. GAIRAH BARU YANG PENUH KELONGGARAN. TIDUR PANJANG MEMBUAT
PIKIRANNYA SEGAR, TANGANNYA RINGAN, KAKINYA GESIT. SOROT MATA PENUH
SEMANGAT. BARMAN SEOLAH LAHIR KEMBALI. DAN MENEMUKAN CERITA YANG SANGAT
MENGHIBUR. CERITA EDOS DAN SINTA.
BARMAN (melihat dengan detail. Edos dan Sinta duduk sangat dekat).
Aku
paling suka bagian ini. Tidur sebentar membuatku segar dan bisa melihat
sekeliling dengan berbeda. Caramu memang manjur Edos. Kenapa tidak kau
katakan sejak dulu. Buang jauh-jauh egomu, berbagilah denganku.
Barangkali aku tidak akan seperti ini.
(Sementara Edos dan Sinta masih belum memahami keadaan)
Ini
cerita yang kau janjikan itu kan? Hiburan yang membuat pikiranku
ringan. Seringan kapas yang terbang terbawa angin. Bertiup kencang dan
terus terbang.
(berputar mengelilingi Edos dan Sinta)
Terbang hingga jauh, sejauh aku bisa membuang sakit dalam kepalaku.
Ada
sedikit gerakan yang kurang aku suka. Kakimu terlihat rapuh. Cari
posisi yang gagah. Juga tanganmu, seharusnya tidak disitu. Kau aktor,
terlalu banyak pekerjaan lain hingga lupa akting yang bagus?
(Terkekeh).
Satu
lagi, harusnya diletakkan sesuatu diantara kalian, cari yang enteng
tapi penuh makna. Bunga kecil misalnya, tapi…itu terlalu romantis. Atau
kertas? Bukan! Kardus lebih baik.
(Sinta dan Edos terkejut. Edos Nyaris berdiri)
Hai!
Tetap di situ. Jangan kacaukan pikiranku yang mulai tenang. Hidupku
baru saja dimulai. Duduk, Edos. Aku sangat menikmati cerita ini. Dan aku
telah menuruti semua saranmu. Mengikuti cerita yang telah kau mainkan.
Tenggelam dalam alur yang berputar-putar, hingga tertidur. Disitulah
nikmatnya menonton permainan sambil tidur? Kita bisa menebak sesuka
hati, sesuai selera. Itu menyenangkan!
(Barman bersemangat).
Dulu,
aku juga pernah duduk di situ. Berperan seperti kamu. Tetapi aku
mainkan peranku itu dengan sangat lincah. Tipis batas antara kebenaran
dan keburukan. Kuakali takdir Tuhan. Sementara Dia terus mencatat setiap
napas yang kuhirup. Hingga jantung, paru-paru, dan perutku, penuh
dengan penuh muslihat di luar akal sehat.
Jangan kelihatan gugup Edos. Bisa merusak konsentrasi! Pernah baca Tragedi Romeo-Juliet? Atau Rama-Sinta?
(terkekeh)
Maaf,
kau kurang suka membaca. Sewaktu kita masih bekerja dulu, lebih
tertarik gambar. Tapi kau berhasil menciptakan tragedi menyenangkan!
Tragedi yang sempurna dan sangat menghibur.
Sekedar tahu,
aku memang lupa berapa tepatnya usiaku. Tetapi aku cukup tahu, semakin
banyak orang yang menginginkan kematianku. Jabatanku membuat negeri ini
tak bisa tidur nyenyak. Jika aku bergerak, mereka tergeragap. Diam. Tapi
mengumpat dalam hati. Tuhan memberiku posisi seperti malaikat pencabut
nasib baik.
Suatu pagi, pernah ada yang menaruh racun
dalam gelas minuman di mejaku. Untung saja, minuman itu tumpah
tersenggol tangan kananku yang ngilu. Semalaman posisi tidurku ngawur!
Soal itu, tanyakan pada Sinta. Dua bulan kemudian, seorang penembak jitu
mengintip dari balik jendela. Mengincar kepala dan ingin mengeluarkan
otakku yang terlalu cerdas. Moncong senjatanya terus bergerak mengikuti
kemana arah kepalaku menoleh. Untunglah, ketika pelatuk ditarik, dor!
Dengan cepat aku menunduk karena ada berkas terjatuh. Selamatlah aku.
Sempat kudengar suara peluru berdesing seperti nyamuk lewat dekat
telinga.
Cukup banyak yang menginginkan kematianku.
Walikota, bupati, hakim, bahkan para polisi dan presiden, mengincarku
layaknya teroris. Padahal justru merekalah teroris yang sebenarnya.
Jabatannya digunakan untuk meneror rakyat. Menggusur, mem-PHK, memeras,
melecehkan dan mencabuli ketulusan rakyat. Itu adalah teror yang
membahayakan.
Anehnya, mereka aktor luar biasa! Pandai
membuat sandiwara hingga semua orang mengangguk tanpa banyak tanya. Jika
bertanya, penjara sanksinya! Dan aku? Protagonis dalam hidup mereka.
Secepatnya orang sepertiku harus dibasmi. Dikeluarkan dari alur cerita,
di buang ke pulau paling jauh. Aku sadari itu. Dan aku sangat tahu,
siapa saja yang mengancamku. Mereka orang paling dekat.
EDOS (memotong)
Kau masih terlalu lelah, Barman!
BARMAN (mendadak liar)
Jangan berpura-pura.
EDOS
Masih perlu menyaksikan lanjutan cerita ini?
BARMAN (tertawa sinis)
Dengan menggunakan sedikit kecerdasanku, hiburan ini tidak ada artinya lagi.
EDOS
Kau tahu apa, Barman?
(gugup)
BARMAN
Sikap tanganmu, gerakan kakimu, bahkan sorot mata dan dengus napasmu adalah lanjutan cerita yang sebenarnya.
SINTA
Apa yang ada dalam pikiranmu?
EDOS
Bagaimana cerita sebenarnya?
BARMAN
Permainan yang sempurna. Terlalu sempurna untuk kawanku yang kuanggap selalu berkomplot dengan kebaikan.
EDOS
Bicara yang jujur, Barman.
BARMAN
Kejujuran
telah mati. Jauh sebelum cerita ini dimulai. Masih ingat, bagaimana
lincahnya jemarimu mengantarkan minuman sebagai tanda persahabatan?
Pesta bersama setelah berhasil mengirim seorang hakim ke dalam penjara.
Di tengah pesta, telunjukmu menarik pelatuk dengan tenang.
(tertawa mengejek)
Untunglah, aku biasa menemukan solusi sebelum masalah dimulai. Terakhir, kau selipkan keinginanmu di balik kecantikan Sinta.
SINTA
Apa yang kau ketahui, Barman?
BARMAN
Lebih dari yang ada dalam pikiranmu. Kardus itu aku amankan. Sinta terlalu ceroboh, kurang bisa menyimpan rahasia.
EDOS
Kardus?
SINTA
Itu tidak mungkin!
BARMAN
Perempuan dimana saja, sama! Kurang pintar menyimpan rahasia. Lain kali, perhatikan kelemahan lawan.
EDOS
Jika telah tahu semuanya, apa yang akan kau lakukan?
BARMAN
Aku
ingin melupakan semuanya. Pekerjaanku, jabatanku, bahkan usia dan
segala kesenanganku. Dengan harapan akan menemukan hidup baru bersama
Sinta. Tetapi cerita berubah, begitu kau masuk terlalu dalam dalam
kehidupanku.
Barman, mantan pejabat paling ditakuti, tidak boleh
kalah dengan strategi sahabatnya sendiri. Aku mengerti semuanya! Dan
Tuhan memberiku dendam.
EDOS
Maksudmu?
BARMAN
Kita akhiri cerita ini. Sinta, jangan khawatir. Kuambil sekarang!
BERGEGAS TAPI DIHADANG SINTA
SINTA
Kardus?
BARMAN (sinis)
Kita buka sama-sama agar semua mengerti bagaimana rencana licikmu!
EDOS (ikut menghadang Barman)
Cukup Barman! Semuanya telah mengerti!
BARMAN
Kenapa
jadi penakut? Edos adalah teman yang kukenal memiliki keberanian.
Pantang menyerah dan memiliki kecerdasan bagus. Tiba-tiba menjadi
pengecut! Setelah kardus itu kita buka, pergilah bersama Sinta!
SINTA
Aku tak akan pergi!
BARMAN
Itu telah kau rencanakan! Lepaskan aku agar secepatnya kuambil kardus itu!
EDOS
Ada cara lain!
KETIKA
EDOS LENGAH, BARMAN BERHASIL LOLOS DAN BERLARI BERPUTAR MENGHINDARI
SINTA DAN EDOS YANG TERUS MENGEJAR. LANGKAH BARMAN SEMAKIN CEPAT.
BERINGAS. LIAR. NAIK. MERANGKAK. BERGULING. EDOS TETAP MENGEJARNYA.
BARMAN
Bukan
penyelesaian. Hanya menunda saja! Cepat atau lambat pasti terjadi. Aku
akan buka dan kubeberkan semuanya. Kau telah merencanakan sehari sebelum
aku pensiun. Dan berunding dengan Sinta setahun sebelumnya. Itu rencana
yang sistematis. Langkahku lebih sistematis dari rencana kalian!
EDOS TERUS MENGEJAR.
EDOS
Cara yang lebih manusiawi!
BARMAN
Hanya binatang yang mempunyai rencana busuk! Jadi kubantu kalian agar tidak dianggap binatang!
BARMAN
BERLARIAN SEMAKIN KENCANG. EDOS MENGEJAR. SUASANA KACAU. HINGGA SATU
TITIK, TEPAT DI DEPAN SINTA, SEBUAH TUSUKAN BELATI MENEMBUS LAMBUNG
BARMAN. TANGAN EDOS GEMETAR. CERITA TERLALU CEPAT BERAKHIR DILUAR
RENCANANYA. BARMAN TERKAPAR.
SINTA
Barman!
MENYENTUH LUKA BARMAN
BARMAN
Kardus itu telah kubuka. Lebih cepat dari rencanaku.
(terbata-bata menahan perih)
Jika
aku pura-pura lupa, hanya bagian dari keinginanku. 13 pagi, semuanya
baru mulai. Mimpi itu menjadi kenangan. Kali ini, tidurku akan sangat
panjang. Itu yang kau inginkan. Katakan pada semua yang kemari, baru
separo cerita yang kujalani. Belum punya arti apa-apa.
(Melihat Edos)
Edos…? Rencanamu lebih sempurna.
BELUM
SELESAI BARMAN BICARA, TERDENGAR SUARA BISING DI LUAR. PULUHAN ORANG
MENYERBU RUMAH BARMAN. MEREKA ADALAH ORANG-ORANG YANG PERNAH DISAKITI
BARMAN. MEREKA MENUNTUT BALAS KEPADA BARMAN. SUARA ITU SEMAKIN DEKAT.
SEOLAH INGIN MEROBOHKAN RUMAH BARMAN DAN MENGEROYOKNYA.
EDOS
Tak ada waktu lagi. Mereka semakin dekat.
(Sinta ragu dan bingung. Seribu keinginan menjejal tanpa dimengerti)
Jumlahnya terlalu banyak! Aku kenal mereka. Orang-orang yang disakiti Barman. Cepat Sinta!
SINTA
Dia sendirian!
EDOS
Itu pilihan hidupnya. Perjalananmu masih panjang. Lewat sini. Cepat!
SINTA DAN EDOS MENEROBOS KEGELAPAN. DAN HILANG
LIMA
SUARA-SUARA
ITU SEMAKIN LIAR. SEAKAN MENGINJAK HARGA DIRI BARMAN YANG TERKAPAR,
MEREGANG TAKDIR. DISAKSIKAN RATUSAN ORANG YANG MENGELILINGINYA, BARMAN
BERDIRI DAN MEMAKSA BIBIRNYA TERSENYUM. TANGANNYA GEMETAR. TAPI SUARANYA
MENGGELEGAR. DI ATAS TITIK CAHAYA PUTIH, BARMAN MELANJUTKAN SISA
CERITA.
BARMAN (terkekeh sambil menahan sakit).
Tepat 13 pagi, kutitipkan kardus itu di rumah banci di ujung gang.
(tertawa lagi)
Banci
yang selalu duduk di depan pintu sambil mengelus kucing. Dia sebenarnya
tidak banci. Jika ingin melihat kenyataan dengan jujur, harus berani
keluar dari kenyataan itu sendiri. Itu pilihan hidupnya.
(tertawa hingga nyaris tersedak)
Semuanya, sepulang dari sini, ambil kardusku di rumah banci di ujung gang itu. Semuanya selesai.
BARMAN MEREGANG MIMPI. HINGGA GELAP. DIAM. HITAM.
***
Jombang, 2009








0 komentar:
Posting Komentar