9.18.2012

Salam Seribu Jiwa


"TUHAN BEGITU DEKAT DENGANKU"
 Dentuman adzan subuh masih sama seperti hari-hari biasa, aktifas pun kembali bersua bersama jamaah yang akan menata para ummat, “ayah.. bangun, saatnya subuh ayah” kalimat yang biasa kukatakan untuk membangunkan ayahku dari lelapnya sambil aku memakai kopyah dan bercermin,  “ayah.. banguun” kalimat itu kembali ku ucapkan karena ayah masih belum bangun juga. Ahh.. mungkin beliau kelelahan atas aktifitas hari kemaren di sawah, memang saat ini lagi musim tembakau dan semua petani di desa tempatku pasti memiliki kesibukan yang sama, bahkan mereka rela bekerja mulai pagi hingga dini hari tiba demi mengais rupiah untuk keluarganya, untuk anak-anaknya, termasuk saya “terimakasih ayah, terimaksih ibu, kau anugrah terindah dalam hidupku”.
Kutinggalkan ayah dalam istirahatnya untuk segera menunaikan kewajiban ditiap intipan sang mentari. Ayahku adalah sosok imam yang luar biasa, bukan hanya bagi almurhum Ibuku, tapi juga kakak kakakku, aku serta teman-teman yang sering bercengkrama dirumahku untuk merumuskan gerakan pelajar islam di Desa tempat tempat tinggalku. Memang organisasi ini yang membesarkanku, yang membawa aku menjadi dewasa, mengenalkan tentang apa itu perjuangan, apa itu pengorbanan, belajar berfikir keras dan cepat ditiap langkah, belajar menyesihkan waktu dan mungkin sedikit rupiah demi suatu hal “fastabiqul khoirot”. Bersama organisasi ini aku mengenal mereka para pahlawan pelopor yang tidak mengenal lelah untuk menegakkan syari’at NYA melalui pergerakan pelajar, ya… Ikatan Pelajar Muhammadiyah, satu satunya organisasi dilingkup pelajar yang memiliki anggota anak-anak dari sekolah dasar hingga tingkat mahasiswa, gerakan pengkaderan paling dasar yang menjadi gerbong para pemimpin bangsa “tsubbalul yaum, rijaalul ghod” pemuda hari ini adalah pemimpin hari esok. Apapun yang akan terjadi dikemudian hari mungkin akan ditentukan dalam ikatan ini, ikatan yang membuatku semakin kuat dan kokoh dalam melangkah.
Mentari pagi ini begitu menyengat, padahal terikpun belum menyelubungi alam raya desa tercintaku, bahkan secuil harapanpun belum kususun untuk merangkai inginku. “Memang Tuhan begitu sayang kepadaku” hanya itu yang sekarang dapat kukatakan. Ayah tercinta, figur istimewa meninggalkanku untuk selamanya dalam lamunan abadinya, dalam mimpinya bersama sang Ibu belahan jiwa. Aku mencintaimu ayah, semoga engkau disana selalu dapat membimbingku dengan sisa-sisa semangatmu yang takkan dapat kueja.
“Selamat jalan ayah, kini engkau telah bertemu ibu tercinta di haribaanNYA, suatu saat nanti kita akan berkumpul lagi dikeabadian sejati”.

2 komentar:

catatan mahasiswa mengatakan...

begitu indah kalimat yang selalu si suakan beliau ALM, semasa hidupnya, tak disangka tak di inginkan siapapun seorang Imam Mushola yang sederhana harus pergi meninggalkan kita semua, angin yang lembut tlah datang membawanya ke peristirahatan yang INSHA ALLAH lebih baik dari alam yang Fana ini. :)

Unknown mengatakan...

takada harapan yang pantas kita lantunkan melankan Doa agar beliau dapat tenang bersama sang pujaan hati di peluk NYA.. amiien

Posting Komentar