"TUHAN BEGITU DEKAT DENGANKU"
Dentuman adzan subuh masih sama seperti
hari-hari biasa, aktifas pun kembali bersua bersama jamaah yang akan menata
para ummat, “ayah.. bangun, saatnya subuh ayah” kalimat yang biasa kukatakan
untuk membangunkan ayahku dari lelapnya sambil aku memakai kopyah dan
bercermin, “ayah.. banguun” kalimat itu
kembali ku ucapkan karena ayah masih belum bangun juga. Ahh.. mungkin beliau
kelelahan atas aktifitas hari kemaren di sawah, memang saat ini lagi musim
tembakau dan semua petani di desa tempatku pasti memiliki kesibukan yang sama,
bahkan mereka rela bekerja mulai pagi hingga dini hari tiba demi mengais rupiah
untuk keluarganya, untuk anak-anaknya, termasuk saya “terimakasih ayah,
terimaksih ibu, kau anugrah terindah dalam hidupku”.
Kutinggalkan
ayah dalam istirahatnya untuk segera menunaikan kewajiban ditiap intipan sang
mentari. Ayahku adalah sosok imam yang luar biasa, bukan hanya bagi almurhum
Ibuku, tapi juga kakak kakakku, aku serta teman-teman yang sering bercengkrama
dirumahku untuk merumuskan gerakan pelajar islam di Desa tempat tempat
tinggalku. Memang organisasi ini yang membesarkanku, yang membawa aku menjadi
dewasa, mengenalkan tentang apa itu perjuangan, apa itu pengorbanan, belajar
berfikir keras dan cepat ditiap langkah, belajar menyesihkan waktu dan mungkin
sedikit rupiah demi suatu hal “fastabiqul khoirot”. Bersama organisasi
ini aku mengenal mereka para pahlawan pelopor yang tidak mengenal lelah untuk
menegakkan syari’at NYA melalui pergerakan pelajar, ya… Ikatan Pelajar
Muhammadiyah, satu satunya organisasi dilingkup pelajar yang memiliki anggota
anak-anak dari sekolah dasar hingga tingkat mahasiswa, gerakan pengkaderan
paling dasar yang menjadi gerbong para pemimpin bangsa “tsubbalul yaum,
rijaalul ghod” pemuda hari ini adalah pemimpin hari esok. Apapun yang akan
terjadi dikemudian hari mungkin akan ditentukan dalam ikatan ini, ikatan yang
membuatku semakin kuat dan kokoh dalam melangkah.
Mentari pagi
ini begitu menyengat, padahal terikpun belum menyelubungi alam raya desa
tercintaku, bahkan secuil harapanpun belum kususun untuk merangkai inginku. “Memang
Tuhan begitu sayang kepadaku” hanya itu yang sekarang dapat kukatakan. Ayah tercinta,
figur istimewa meninggalkanku untuk selamanya dalam lamunan abadinya, dalam
mimpinya bersama sang Ibu belahan jiwa. Aku mencintaimu ayah, semoga engkau
disana selalu dapat membimbingku dengan sisa-sisa semangatmu yang takkan dapat
kueja.
“Selamat jalan ayah, kini engkau telah bertemu ibu tercinta di
haribaanNYA, suatu saat nanti kita akan berkumpul lagi dikeabadian sejati”.









2 komentar:
begitu indah kalimat yang selalu si suakan beliau ALM, semasa hidupnya, tak disangka tak di inginkan siapapun seorang Imam Mushola yang sederhana harus pergi meninggalkan kita semua, angin yang lembut tlah datang membawanya ke peristirahatan yang INSHA ALLAH lebih baik dari alam yang Fana ini. :)
takada harapan yang pantas kita lantunkan melankan Doa agar beliau dapat tenang bersama sang pujaan hati di peluk NYA.. amiien
Posting Komentar