Oleh : Bayu-IMM Progresif
Lahirnya gerakan mahasiswa dari orde lama sampai orde baru hingga masa reformasi saat ini tidak dengan perencanaan sebelumnya dengan matang, melainkan banyak dikarenakan adanya momentum politik di Indonesia. Pembuktian sejarah gerakan mahasiswa Indonesia sesuai dengan konteks zamanya pada permasalahan kebangsaan yang terjadi saat ini, haruslah memberikan kesimpulan apakah gerakan mahasiswa tersebut, dalam orientasi dan tindakan politiknya, benar-benar mengarah dan berstandart pada problem2 dan kebutuhan sturuktural rakyat Indonesia. Orientasi dan tindakan politik merupakan cerminan dari bagaimana mahasiswa Indonesia memahami masyarakat, menentukan pemihakan pada rakyat serta kecakapan merealisasi nilai-nilai atau ideologinya sebagai praksis gerakan yang riel terhadap kontribusi pada negara dan bangsa sebagaimana mestinya. Karena seharusnyalah mahasiswa mampu menyentuh ke permasalahan bangsa untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang mempunyai tanggung jawab moral untuk menyampaikan keinginan dan harapan rakyat yang di impikan dalam bernegara. Sebagai agent of change dan agent of kontrol berfungsi sebagaimana mestinya pemaknaan tersebut di jewantahkan secara substansial. Di situlah fungsi mahasiswa sebagai bentuk peduli dalam mewujudkan pencapaian rakyat.
Banyak gerakan mahasiswa saat ini yang di tuangkan dalam organisasi sehingga di jadikan alat atau sebagai motor gerakannya, karena hanya dengan gerakan massa saat ini sebagai alternatif dalam agenda revolusi untuk perubahan. Karena Nilai – nilai lebih organisasi dalam gerakan mahasiswa yang di percaya untuk melakukan sebagai media komunikasi agar mempermudah konsolidasi gerakan, nilai-nilai inilah dimaknai dasar gerakan atas rakyat :
- pemahaman terhadap masyarakat dan persoalan-persoalannya.
- pemihakan pada rakyat tanpa melihat status social.
- kecakapan-kecakapan dalam mengolah massa.
Maka nilai tersebut sebagai tujuan dan orientasi garakan mahasiswa baik secara organisasi dalam metodologi gerakan strategis taktis. Dalam masa ini orintasi gerakan mahasiswa yang sudah membaik dalam menggugat hubungan social kapitalisme, fasisme, imperialisme, dan sisa-sisa feodalisme tapi beberapa jenjang waktu gerakan dikalahkan oleh kesiapan militer ( yang masuk dalam gerakan mahasiswa dan partai-partai ). Jadi gerakan mahasiswa periode 66 dapat dikatakan gerakan mahasiswa yang sepenuhnya tidak berpihak pada rakyat karena besarnya intervensi elit politik maupun militer yang sangat mendominasi sehingga gerakan mulai mengalami dis orientasi, Pola-pola gerakan di patahkan dengan beberapa strategi politik. Tapi gerakan mahasiswa yang pada saat sebelumnya suram mulai bangkit dari keterpurukan yang melihat keadaan bangsa yang semakin tidak menentu yang pada saat itu kekuasaan dipimpin secara otoriter, maka pada Tahun 1985 dan seterusnya kebekuan respon masyarakat terhadap kondisi obyektif ekonomi, politik, dan budaya yang sangat negative, berhasil oleh gerakan-gerakan mahasiswa, yang para pelakunya banyak berasal dari kelas menengah kebawah dan hingga level sectarian kebawah. Bila dilihat konsolidasi dan isunya, gerakan mahasiswa periode ini relative lebih merakyat, berhasil dalam membentuk opini dan lebih kuat dalan bargaining politiknya. Kontinun gerakan mahasiswa tahun 80-an bisa merebut opini nasional dan internasional, isunya lebih merakyat, bargaining politiknya lebih kuat dan kembali pada fungsi gerakannya.
Pada periode 90-an gerakan mahasiswa kembali mencoba membangun gerakan massa dengan hidupnya kembali aktivitas kampus. Gerakan mahasiswa turun dengan mengadvokasi kasus-kasus kerakyatan. Pada era ini banyak bermunculan gerakan mahasiswa yang berbasis menggalang massa dari bawah untuk melakukan perlawanan kepada rezim ototarian militeristik Soeharto. dan kelompok-kelompok diskusi kampus serta pers kampus hampir diseluruh Indonesia. Dan pada era ini banyak mahasiswa yang diculik dan dibunuh oleh rezim ORBA, puncaknya pada tragedy 27 juli 1996 yang sempat membuat perlawanan gerakan mahasiswa kembali tiarap. Dan kembali melakukan gerakan bawah tanah. Tapi akibat dari tragedy 27 juli perlawanan rakyat terhadap rejim penindas ORBA semakin besar.
Tidak seperti yang banyak dibayangkan oleh para pakar politik, perlawanan massa berkembang semakin cepat dan massif hampir diseluruh kota-kota besar Indonesia. Posko-posko sebagai symbol perlawanan terhadap rejim muncul diberbagai kampus dan dalam keseharian posko ini sangat disibukkan oleh kegiatan-kegiatan yang politis seperti rapat-rapat koordinasi, pemutaran film-film politik. Sehingga tidak nampak lagi kultur mahasiswa yang apatis, hedon, cuek. Berubah drastic menjadi agresif, hampir disetiap sudut-sudut kita dapat menemukan mahasiswa yang berbicara politik, benar-benar sesuatu hal yang baru. kebijaksanaan pembangunan yang dianggap tidak populis, kebijaksaan pembangunan yang dijalankan pemerintah hanya menguntungkan yang kaya. Tak selang dari waktu pada tahun 70-an sempat juga mengalami masa keburaman gerakan kembali setelah beberapa masa kemunduran di masa kepemimpinan soekarno ini juga terulang pada masa rezim otoriter Soehartorian yang membungkam gerakan-gerakan mahasiswa terbukti ketika akhirnya perlawanan mahasiswa dapat dilumpuhkan oleh rejim Orba, akan tetapi rasa yang menjenuhkan itu mulai tumbuh sadar bahwa rakyat tertindas yang sudah tidak menampakkan keadilan, kesejateraan yang sangat senjang di masa itu dan tidak pada cita bangsa dan negara yang demokratis basis kerakyatan yang sesuai dengan eksistensi demokrasi tersebut, dimana kedaulatan ada di tangan rakyat akan tetapi makna tersebut di coba di cederai secara konstitusional. Maka pada masa itu hanya penguasa negara yang dominan memegang kendali yang sangat otoriter, dimana makna konsepsi kebebasan itu tidak pernah dirasakan oleh rakyat dan sejahterapun tidak tampak di depan mata rakyat. Namun perlawanan kebekuan gerakan mulai mencair sehingga terjadi gerakan pemberontakan untuk mencoba mengurungkan niat rezim otoriter yang akan kembali memimpin. ini setidaknya telah memberikan pelajaran berharga bagi sejarah perlawanan di Indonesia. Apabila kita simak ada dua hal penting dalam gerakan mahasiswa periode ini.
- 1. Gerakan periode ini setidaknya lebih maju dalam tuntutan politik – menolak pencalonan Soeharto – walaupun belum sampai ke tahap mengkritisi sistem yang ada. Para mahasiswa saat itu melihat bahwa sosok Soehartolah yang menyebabkan Indonesia kacau balau, maka solusinya Soeharto harus ditolak menjadi presiden.
….."hingga hanya 4 tahun kemudian, 1978, ada gerakan yang bisa dikatakan lebih maju programnya ketimbang sebelumnya: gerakan mahasiswa yang tak mengerti sistim, namun cukup mengerti makna menolak kekuasaan Suharto"
Gerakan waktu itu belum sadar, bahwa Soeharto telah membangun sistem birokrasi yang didukung oleh militer, sehingga ketika posisi dia (Soeharto) terancam, Soeharto dapat mengerahkan orang-orang yang mengelilingnya. Dan ini benar terjadi. Secara birokrasi, Soeharto menghancurkan kehidupan mahasiswa di kampus. Dia juga membuat peraturan yang mengekang kehidupan mahasiswa di kampus. Soeharto juga mengerahkan militer untuk merepresi gerakan mahasiswa. Sehingga gerakan mahasiswa sempit untuk melakukan aktivitasnya, pembungkaman gerakan mulai memasuki sistem pada kampus yang sudah mengakar dan mengancam gerakan walau masih ada beberapa bagian kecil mahasiswa yang sadar dan berani melakukan gerakan mahasiswa walaupun terkadang secara sembunyi-sembunyi.
- 2. gerakan ’78 memang membesar di kota-kota seperti Bandung, Yogyakarta, tapi lemah di pusat ekonomi politik, Jakarta. Hal ini memang berbeda dengan gerakan mahasiswa ’74 – di mana gerakan membesar di Jakarta tapi lemah di daerah-daerah – tapi yang terjadi kemudian sama dengan gerakan ’74, gerakan tetap mudah dipatahkan.
Setelah “kemenangan tertunda” dari gerakan mahasiswa ‘78, pemerintahan Soeharto mengambil pelajaran dari peristiwa ini. Rejim Soeharto berusaha “memenjarakan” mahasiswa agar tidak keluar dari kampus. Ketika Mendikbud dijabat oleh Jendral Doed Joesoef, dikeluarkan kebijaksanaan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) / Badan Koordinasi Kampus (BKK). Organisasi mahasiswa semacam Dewan Mahasiswa dibubarkan, seluruh kegiatan mahasiswa dilarang berhubungan dengan kehidupan politik praktis.
Praktis sejak diberlakukan NKK/BKK, gerakan mahasiswa “tertidur”. Kebijaksanaan NKK/BKK ini kemudian lebih diperketat lagi. Ketika Mendikbud dijabat oleh seorang perwira tinggi Angkatan Darat, Nugroho Notosusanto, pemerintah memberlakukan transpolitisasi yaitu ketika mahasiswa ingin berpolitik, mahasiswa harus disalurkan melalui organisasi politik resmi macam Senat, BEM, dll, dan diluar itu dianggap ilegal. Dalam kurun waktu ini juga diberlakukan Sistem Kredit Semester (SKS), sehingga aktivitas mahasiswa dipacu hanya untuk cepat selesai studi/kuliah dan meraih IP yang tinggi. Inilah hal- hal yang membuat mahasiswa semakin mengalami depolitisasi dan semakin terasing dari lingkungannya.
Demoralisasi. Bisa dikatakan demikian. Kembali ke dunia akademik --mengajar, berbangku kuliah lagi, belajar ke luar negeri, -- membentuk NGO (perlu diketahui saja pada tahun 1982 sudah ada ribuan NGO), berbisnis, berkolaborasi dengan rejim dan sebagainya. Lahirlah bayi-bayi kiri yang dicampakkan ibunya pada usia muda: NGO menjajakan kemanusiaan borjuis-kecil --mengemis reformasi ekonomi-politik pada rejim diktator/korup, bahkan ada yang masih bermimpi membangun pulau impian di tengah modal raksasa-- kaum sekolahan yang baru pulang belajar dari luar negeri mengajarkan --di tengah kemampuan bahasa Inggris kaum muda yang menyedihkan.
Dari sekian keterpurukan gerakan yang coba di bungkam oleh penguasa otoriter yang ingin mempertahankan kekuasaannya, gerakan mahasiswa mulai lahir kembali dari keterkekangan penguasa, walau bagaimanapun ketatnya rejim berusaha “memagari” gerak mahasiswa, lambat laun mahasiswa bisa lepas juga dari kungkungan yang ada. Perlahan namun pasti, mahasiswa yang mempunyai kesadaran politis yang hakiki, keluar dari “ruang-ruang” diskusi dan kembali mulai turun ke jalan, gerakan mahasiswa mengambil strategi “melingkar”, melakukan aksi-aksi advoksi terhadap kasus-kasus rakyat, hal ini mengingat depolitisasi kampus yang amat kronis. Gerakan mahasiswa mencoba menyadarkan mayoritas mahasiswa yang terkena trauma dan mengalami depolitisasi dengan menunjukkan realitas-realitas yang ada di masyarakat, bahwa penindasan, pelanggaran HAM, kesewenang-wenangan dilakukan oleh penguasa. Memang dalam kurun waktu ini banyak kasus-kasus seperti penghapusan becak dan angling darmo, pengusuran tanah, masalah perburuhan, pem-PHK-an atau potes naikknya tarif listrik dan makin beratnya beban ekonomi rakyat. yang kesemuanya tanpa perlawanan dari pihak yang ditindas. Strategi “melingkar” ini memang berhasil – walupun tidak maksimal, seperti yang dijelaskan diatas, kampus tidak mampu untuk diliberalisasikan -- mengusik hati para mahasiswa yang masih ada di dalam kampus untuk kembali terlibat dalam gerakan-gerakan mengkritisi, menentang kebijaksanaan penguasa.
Belajar dari beberapa sejarah pergerakan mahasiswa pada masa sebelumnya, dapat memetik hikmah bahwa perubahan pada bangsa ini mahasiswa mempunyai peran untuk menyelamatkan indonesia dari genggaman penguasa penindas rakyat. Maka dari itu selain para tokoh cendikiawan yang bijaksana, arif dan sosialis yang memikirkan penderitaan rakyat miskin hingga saat ini masih merata, mahasiswa selain punya tanggung jawab di akademis juga juga mempunyai tanggung jawab menyelesaikan dan memberi solusi terhadap permasalahan bangsa. Karena secara integriti mahasiswa masih diberikan kepercayaan atas dasar kritis dan intelektuliti, akan tetapi tidak hanya cukup itu tapi garakan mahasiswa tanpa adanya bangunan besar bentuk kerjasama dari rakyat akan kurang garakannya. Maka satu kesatuan ini harus ada kesinambungan untuk melakukan perubahan yang sudah di rasa kurang populis bagi rakyat, penindasan yang begitu luasnya, keadilan jauh dari rakyat, dan kesejahteraanpun tidak pernah di rasakan oleh rakyat kecil. Maka dengan adanya gerakan bersama yang permanen dan luas, akan bisa menghasilkan integrasi antara perjungan mahasiswa dan sektor tertindas lainnya. Inilah fungsi kedua sebuah kebersamaan. Dengan adanya integrasi ini, tentunya daya “pukul” gerakan perlawanan akan menjadi bertambah besar, sehingga akan mudah untuk merobohkan sang musuh. Adanya integrasi ini juga untuk mengikis watak-watak sektarian dari gerakan yang ada, karena gerakan yang sektarian tidak akan membawa keberhasilan.
Atas dasar gerakan yang dilakukan untuk rakyat hanyalah kesejateraan untk rakayat, dimana saat ini mulai kembali penjajahan yang sifatnya bukan pada fisik akan tetapi lebih ke idologi yang mempunyai kepentingan hasrat dirinya pribadi walaupu itu di suarakan atas nama kerakyatan, perlu disadari bahwa negara ini dimasuki paham-paham yang sangat merugikan rakyat tanpa melihat dampak pada rakyatnya, bermacam ideologi masuk ke negara yang berkembang ini dengan pesat, memang ada sebuah design dari beberapa negara besar untuk menguasaai negara-negara yang masih kecil dalam agenda kepentingan-kepentingan, maka hal inilah saat ini yang menjadi musuh besar para organiasasi kemahasiswaan maupun ormas, karena kekuatan ini yang sangat dominan memegang kendali kekuasan yang dapat kembali menindas rakyat, seperti halnya para kapitalis berkuasa saat ini, yang sudah berafilasi dengan borjuis menengah ke atas. Maka Gerakan Mahasiswa harus menyadari bahwa tidaklah dapat mengharapkan kelas borjuasi atau kelas menengah.Yang dimaksudkan dengan kelas menengah di sini adalah, kaum profesional, teknokrat dan juga dari kaum sekolahan/akademisi. Kelas menengah bagaimanapun tidak akan menghasilkan kekuatan yang efektif di orde baru ini. Apalagi depolitisasi serta ketiadaan basis material mereka untuk merespon deregulasi dan liberalisasi ekonomi orde baru menyebabkan mereka cenderung untuk mundukung kekuasaan atau paling "mentok" yang muncul pada kelas menengah hanyalah rasa nasionalisme dan rasa humanisme ketimbang demokrasi. Mereka mungkin saja akan memainkan peranan efektif bila terjadi "perpecahan" diantara elit penguasa, tetapi hal ini adalah utopis belaka, karena biasanya perpecahan di tingkat elit akan benar-benar menjadi kenyataan bila ada gerakan dari bawah akan memainkan peranan utama dalam proses demokratisasi di Indonesia, sedangkan posisi kelas mahasiswa "tidak jelas" serta kenyataan historis gerakan mahasiswa dalam masa orde baru menunjukkan kenyataan yang tidak dapat dibantah bahwa gerakan mahasiswa tidak akan mempunyai kekuatan apa-apa bila tidak bersatu dengan kekuatan mayoritas lain yang ada di masyarakat. Namun, persoalannya ialah dengan siapakah kita –gerakan mahasiswa-harus bersatu dan bersama-sama berjuang menciptakan demokrasi di Indonesia tidak ada lain lagi yaitu bersama rakyat ploretar, ini yang pernah sama terjadi di inggris, dimana kaum proletar mampu memegang kendali kekuasaan dengan mengambil alih yang dimulai agar kekuasaan rakyat adalah kekuasaan di atas segalanya yang di dasari kedaulatan rakyat.
Nb. kritik dan saran anda adalah motivasi penulis untuk lebih giat lagi dalam belajar dan berproses.
Daftar pustaka :
Lihat wancara Marlin , “Indonesia : Organizing The Mass Struggle for Real Democracy”, dalam Links, No. 9 ( November 1997- Februari 1998), hal. 5-25.
Lihan artikel Arie Sujito,”SMPT Lembaga Manajerial Mahasiswa”, Bernas, 26 Desember 1996.
NKK/BKK secara resmi dimulai tanggal 19 April 1978 dan diakhiri oleh surat keputusan Mendikbud Fuad Hasan No.403/U/1990 tentang SMPT
Arie Sujito, “Mahasiswa Kini Tercerabut dari Akar Sosialnya”, Kedaulatan Rakyat, 19 Februari 1995.
Bdk. Suryadi A.Rajab,”Panggung-Panggung Mitologi dalam Hegemoni Negara : Gerakan Mahasiswa dibawah Orde Baru”, Prisma, No.10,1991.
Keterangan berikut didasarkan pada makalah yang dibuat Nezar Patria , di Yogyakarta ,21 Agustus 1998, "Memposisikan Kembali Gerakan Mahasiswa : Belajar dari Sejarah" untuk keperluan OPSPEK UGM 1998.