10.17.2011

SELAYANG PANDANG GERAKAN MAHASISWA

0 komentar
Oleh : Bayu-IMM Progresif

Lahirnya gerakan mahasiswa dari orde lama sampai orde baru hingga masa reformasi saat ini tidak dengan perencanaan sebelumnya dengan matang, melainkan banyak dikarenakan adanya momentum politik di Indonesia. Pembuktian sejarah gerakan mahasiswa Indonesia sesuai dengan konteks zamanya pada permasalahan kebangsaan yang terjadi saat ini, haruslah memberikan kesimpulan apakah gerakan mahasiswa tersebut, dalam orientasi dan tindakan politiknya, benar-benar mengarah dan berstandart pada problem2 dan kebutuhan sturuktural rakyat Indonesia. Orientasi dan tindakan politik merupakan cerminan dari bagaimana mahasiswa Indonesia memahami masyarakat, menentukan pemihakan pada rakyat serta kecakapan merealisasi nilai-nilai atau ideologinya sebagai praksis gerakan yang riel terhadap kontribusi pada negara dan bangsa sebagaimana mestinya. Karena seharusnyalah mahasiswa mampu menyentuh ke permasalahan bangsa untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang mempunyai tanggung jawab moral untuk menyampaikan keinginan dan harapan rakyat yang di impikan dalam bernegara. Sebagai agent of change dan agent of kontrol berfungsi sebagaimana mestinya pemaknaan tersebut di jewantahkan secara substansial. Di situlah fungsi mahasiswa sebagai bentuk peduli dalam mewujudkan pencapaian rakyat.
Banyak gerakan mahasiswa saat ini yang di tuangkan dalam organisasi sehingga di jadikan alat atau sebagai motor gerakannya, karena hanya dengan gerakan massa saat ini sebagai alternatif dalam agenda revolusi untuk perubahan. Karena Nilai – nilai lebih organisasi dalam gerakan mahasiswa yang di percaya untuk melakukan sebagai media komunikasi agar mempermudah konsolidasi gerakan, nilai-nilai inilah dimaknai dasar gerakan atas rakyat :
  1. pemahaman terhadap masyarakat dan persoalan-persoalannya.
  2. pemihakan pada rakyat tanpa melihat status social.
  3. kecakapan-kecakapan dalam mengolah massa.
Maka nilai tersebut sebagai tujuan dan orientasi garakan mahasiswa baik secara organisasi dalam metodologi gerakan strategis taktis. Dalam masa ini orintasi gerakan mahasiswa yang sudah membaik dalam menggugat hubungan social kapitalisme, fasisme, imperialisme, dan sisa-sisa feodalisme tapi beberapa jenjang waktu gerakan dikalahkan oleh kesiapan militer ( yang masuk dalam gerakan mahasiswa dan partai-partai ). Jadi gerakan mahasiswa periode 66 dapat dikatakan gerakan mahasiswa yang sepenuhnya tidak berpihak pada rakyat karena besarnya intervensi elit politik maupun militer yang sangat mendominasi sehingga gerakan mulai mengalami dis orientasi, Pola-pola gerakan di patahkan dengan beberapa strategi politik. Tapi gerakan mahasiswa yang pada saat sebelumnya suram mulai bangkit dari keterpurukan yang melihat keadaan bangsa yang semakin tidak menentu yang pada saat itu kekuasaan dipimpin secara otoriter, maka pada Tahun 1985 dan seterusnya kebekuan respon masyarakat terhadap kondisi obyektif ekonomi, politik, dan budaya yang sangat negative, berhasil oleh gerakan-gerakan mahasiswa, yang para pelakunya banyak berasal dari kelas menengah kebawah dan hingga level sectarian kebawah. Bila dilihat konsolidasi dan isunya, gerakan mahasiswa periode ini relative lebih merakyat, berhasil dalam membentuk opini dan lebih kuat dalan bargaining politiknya. Kontinun gerakan mahasiswa tahun 80-an bisa merebut opini nasional dan internasional, isunya lebih merakyat, bargaining politiknya lebih kuat dan kembali pada fungsi gerakannya.
Pada periode 90-an gerakan mahasiswa kembali mencoba membangun gerakan massa dengan hidupnya kembali aktivitas kampus. Gerakan mahasiswa turun dengan mengadvokasi kasus-kasus kerakyatan. Pada era ini banyak bermunculan gerakan mahasiswa yang berbasis menggalang massa dari bawah untuk melakukan perlawanan kepada rezim ototarian militeristik Soeharto. dan kelompok-kelompok diskusi kampus serta pers kampus hampir diseluruh Indonesia. Dan pada era ini banyak mahasiswa yang diculik dan dibunuh oleh rezim ORBA, puncaknya pada tragedy 27 juli 1996 yang sempat membuat perlawanan gerakan mahasiswa kembali tiarap. Dan kembali melakukan gerakan bawah tanah. Tapi akibat dari tragedy 27 juli perlawanan rakyat terhadap rejim penindas ORBA semakin besar.
Tidak seperti yang banyak dibayangkan oleh para pakar politik, perlawanan massa berkembang semakin cepat dan massif hampir diseluruh kota-kota besar Indonesia. Posko-posko sebagai symbol perlawanan terhadap rejim muncul diberbagai kampus dan dalam keseharian posko ini sangat disibukkan oleh kegiatan-kegiatan yang politis seperti rapat-rapat koordinasi, pemutaran film-film politik. Sehingga tidak nampak lagi kultur mahasiswa yang apatis, hedon, cuek. Berubah drastic menjadi agresif, hampir disetiap sudut-sudut kita dapat menemukan mahasiswa yang berbicara politik, benar-benar sesuatu hal yang baru. kebijaksanaan pembangunan yang dianggap tidak populis, kebijaksaan pembangunan yang dijalankan pemerintah hanya menguntungkan yang kaya. Tak selang dari waktu pada tahun 70-an sempat juga mengalami masa keburaman gerakan kembali setelah beberapa masa kemunduran di masa kepemimpinan soekarno ini juga terulang pada masa rezim otoriter Soehartorian yang membungkam gerakan-gerakan mahasiswa terbukti  ketika akhirnya perlawanan mahasiswa dapat dilumpuhkan oleh rejim Orba, akan tetapi rasa yang menjenuhkan itu mulai tumbuh sadar bahwa rakyat tertindas yang sudah tidak menampakkan keadilan, kesejateraan yang sangat senjang di masa itu dan tidak pada cita bangsa dan negara yang demokratis basis kerakyatan yang sesuai dengan eksistensi demokrasi tersebut, dimana kedaulatan ada di tangan rakyat akan tetapi makna tersebut di coba di cederai secara konstitusional. Maka pada masa itu hanya penguasa negara yang dominan memegang kendali yang sangat otoriter, dimana makna konsepsi kebebasan itu tidak pernah dirasakan oleh rakyat dan sejahterapun tidak tampak di depan mata rakyat. Namun perlawanan kebekuan gerakan mulai mencair sehingga terjadi gerakan pemberontakan untuk mencoba mengurungkan niat rezim otoriter yang akan kembali memimpin. ini setidaknya telah memberikan pelajaran berharga bagi sejarah perlawanan di Indonesia. Apabila kita simak ada dua hal  penting dalam gerakan mahasiswa periode ini.

  1. 1.      Gerakan periode ini setidaknya lebih maju dalam tuntutan politik – menolak pencalonan Soeharto – walaupun  belum sampai ke tahap mengkritisi sistem yang ada. Para mahasiswa saat itu melihat bahwa sosok Soehartolah yang menyebabkan Indonesia kacau balau, maka solusinya Soeharto harus ditolak menjadi presiden.

….."hingga hanya 4 tahun kemudian, 1978, ada gerakan yang bisa dikatakan lebih maju programnya ketimbang sebelumnya: gerakan mahasiswa yang tak mengerti sistim, namun cukup mengerti makna menolak kekuasaan Suharto"

Gerakan waktu itu belum sadar, bahwa Soeharto telah membangun sistem birokrasi yang  didukung oleh militer, sehingga ketika posisi dia (Soeharto) terancam, Soeharto  dapat mengerahkan orang-orang yang mengelilingnya. Dan ini benar terjadi. Secara birokrasi,  Soeharto menghancurkan kehidupan mahasiswa di kampus.  Dia juga membuat peraturan yang mengekang kehidupan mahasiswa di kampus. Soeharto juga mengerahkan militer untuk merepresi gerakan mahasiswa. Sehingga gerakan mahasiswa sempit untuk melakukan aktivitasnya, pembungkaman gerakan mulai memasuki sistem pada kampus yang sudah mengakar dan mengancam gerakan walau masih ada beberapa bagian kecil mahasiswa yang sadar dan berani melakukan gerakan mahasiswa walaupun terkadang secara sembunyi-sembunyi.
  1. 2.      gerakan ’78 memang membesar di kota-kota seperti Bandung, Yogyakarta, tapi lemah di pusat ekonomi politik, Jakarta. Hal ini memang berbeda dengan gerakan mahasiswa ’74 – di mana gerakan membesar di Jakarta tapi lemah di daerah-daerah – tapi yang terjadi kemudian sama dengan gerakan ’74, gerakan tetap mudah dipatahkan.
Setelah “kemenangan  tertunda” dari gerakan mahasiswa ‘78, pemerintahan Soeharto  mengambil pelajaran dari peristiwa ini. Rejim Soeharto berusaha “memenjarakan” mahasiswa agar tidak keluar dari kampus. Ketika Mendikbud dijabat oleh Jendral Doed Joesoef, dikeluarkan kebijaksanaan Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) / Badan Koordinasi Kampus (BKK). Organisasi mahasiswa semacam Dewan Mahasiswa dibubarkan, seluruh kegiatan mahasiswa dilarang  berhubungan dengan kehidupan politik praktis.
Praktis sejak diberlakukan NKK/BKK, gerakan mahasiswa “tertidur”. Kebijaksanaan NKK/BKK ini kemudian lebih diperketat lagi. Ketika Mendikbud dijabat oleh seorang perwira tinggi Angkatan Darat, Nugroho Notosusanto, pemerintah memberlakukan  transpolitisasi yaitu ketika mahasiswa ingin berpolitik, mahasiswa harus disalurkan melalui organisasi politik resmi macam Senat, BEM, dll, dan diluar itu dianggap ilegal. Dalam kurun waktu ini juga diberlakukan Sistem Kredit Semester (SKS), sehingga aktivitas mahasiswa  dipacu hanya untuk cepat selesai studi/kuliah dan meraih IP yang tinggi. Inilah hal- hal yang membuat mahasiswa semakin mengalami depolitisasi dan semakin terasing dari lingkungannya.

Demoralisasi. Bisa dikatakan demikian.  Kembali ke dunia akademik --mengajar, berbangku kuliah lagi, belajar ke luar negeri, -- membentuk NGO (perlu diketahui saja pada tahun 1982 sudah ada ribuan NGO), berbisnis, berkolaborasi dengan rejim dan sebagainya. Lahirlah bayi-bayi kiri yang dicampakkan ibunya pada usia muda: NGO menjajakan kemanusiaan borjuis-kecil --mengemis reformasi ekonomi-politik pada rejim diktator/korup, bahkan ada yang masih bermimpi membangun pulau impian di tengah modal raksasa-- kaum sekolahan yang baru pulang belajar dari luar negeri mengajarkan  --di tengah kemampuan bahasa Inggris kaum muda yang menyedihkan.
      Dari sekian keterpurukan gerakan yang coba di bungkam oleh penguasa otoriter yang ingin mempertahankan kekuasaannya, gerakan mahasiswa mulai lahir kembali dari keterkekangan penguasa, walau bagaimanapun ketatnya rejim  berusaha “memagari” gerak mahasiswa, lambat laun mahasiswa bisa lepas juga dari kungkungan yang ada. Perlahan namun pasti, mahasiswa yang mempunyai kesadaran politis yang hakiki, keluar dari “ruang-ruang” diskusi dan kembali mulai turun ke jalan, gerakan mahasiswa mengambil strategi “melingkar”, melakukan aksi-aksi advoksi terhadap kasus-kasus rakyat, hal ini mengingat depolitisasi kampus yang amat kronis. Gerakan mahasiswa mencoba menyadarkan mayoritas  mahasiswa yang terkena trauma dan mengalami depolitisasi dengan menunjukkan realitas-realitas yang ada di masyarakat, bahwa penindasan, pelanggaran HAM, kesewenang-wenangan dilakukan oleh penguasa. Memang dalam kurun waktu ini banyak kasus-kasus seperti penghapusan becak dan angling darmo, pengusuran tanah, masalah perburuhan, pem-PHK-an atau potes naikknya tarif listrik dan makin beratnya beban ekonomi rakyat. yang kesemuanya tanpa perlawanan dari pihak yang ditindas. Strategi “melingkar” ini memang berhasil – walupun tidak maksimal, seperti yang dijelaskan diatas, kampus tidak mampu untuk diliberalisasikan -- mengusik hati para mahasiswa yang masih ada di dalam kampus untuk kembali terlibat dalam gerakan-gerakan mengkritisi, menentang kebijaksanaan penguasa.
      Belajar dari beberapa sejarah pergerakan mahasiswa pada masa sebelumnya, dapat memetik hikmah bahwa perubahan pada bangsa ini mahasiswa mempunyai peran untuk menyelamatkan indonesia dari genggaman penguasa penindas rakyat. Maka dari itu selain para tokoh cendikiawan yang bijaksana, arif  dan sosialis yang memikirkan penderitaan rakyat miskin hingga saat ini masih merata, mahasiswa selain punya tanggung jawab di akademis juga juga mempunyai tanggung jawab menyelesaikan dan memberi solusi terhadap permasalahan bangsa. Karena secara integriti mahasiswa masih diberikan kepercayaan atas dasar kritis dan intelektuliti, akan tetapi tidak hanya cukup itu tapi garakan mahasiswa tanpa adanya bangunan besar bentuk kerjasama dari rakyat akan kurang garakannya. Maka satu kesatuan ini harus ada kesinambungan untuk melakukan perubahan yang sudah di rasa kurang populis bagi rakyat, penindasan yang begitu luasnya, keadilan jauh dari rakyat, dan kesejahteraanpun tidak pernah di rasakan oleh rakyat kecil. Maka dengan adanya gerakan bersama yang permanen dan luas, akan bisa menghasilkan integrasi antara perjungan mahasiswa dan sektor tertindas lainnya. Inilah fungsi kedua sebuah kebersamaan. Dengan adanya integrasi ini,  tentunya daya “pukul” gerakan perlawanan akan menjadi bertambah besar, sehingga akan mudah untuk merobohkan sang musuh. Adanya integrasi ini juga untuk mengikis watak-watak sektarian dari gerakan yang ada, karena gerakan yang sektarian tidak akan membawa keberhasilan.
Atas dasar gerakan yang dilakukan untuk rakyat hanyalah kesejateraan untk rakayat, dimana saat ini mulai kembali penjajahan yang sifatnya bukan pada fisik akan tetapi lebih ke idologi yang mempunyai kepentingan hasrat dirinya pribadi walaupu itu di suarakan atas nama kerakyatan, perlu disadari bahwa negara ini dimasuki paham-paham yang sangat merugikan rakyat tanpa melihat dampak pada rakyatnya, bermacam ideologi masuk ke negara yang berkembang ini dengan pesat, memang ada sebuah design dari beberapa negara besar untuk menguasaai negara-negara yang masih kecil dalam agenda kepentingan-kepentingan, maka hal inilah saat ini yang menjadi musuh besar para organiasasi kemahasiswaan maupun ormas, karena kekuatan ini yang sangat dominan memegang kendali kekuasan yang dapat kembali menindas rakyat, seperti halnya para kapitalis berkuasa saat ini, yang sudah berafilasi dengan borjuis menengah ke atas.  Maka Gerakan Mahasiswa harus menyadari bahwa  tidaklah dapat mengharapkan kelas borjuasi atau kelas menengah.Yang dimaksudkan dengan kelas menengah di sini adalah, kaum profesional, teknokrat dan  juga  dari kaum  sekolahan/akademisi.  Kelas menengah bagaimanapun tidak akan menghasilkan kekuatan yang efektif di  orde  baru ini. Apalagi depolitisasi serta ketiadaan basis material mereka untuk merespon deregulasi dan liberalisasi  ekonomi  orde baru menyebabkan mereka cenderung untuk mundukung kekuasaan atau  paling  "mentok"  yang muncul  pada  kelas  menengah hanyalah rasa nasionalisme dan rasa humanisme  ketimbang  demokrasi.  Mereka mungkin saja  akan memainkan peranan efektif bila terjadi "perpecahan" diantara elit penguasa, tetapi  hal ini  adalah utopis belaka, karena biasanya perpecahan di tingkat elit akan benar-benar  menjadi  kenyataan bila ada gerakan dari bawah akan memainkan peranan utama dalam proses demokratisasi di Indonesia, sedangkan posisi kelas mahasiswa "tidak jelas" serta kenyataan historis gerakan mahasiswa dalam masa orde baru menunjukkan kenyataan yang tidak dapat dibantah bahwa gerakan mahasiswa tidak akan mempunyai kekuatan apa-apa bila tidak bersatu dengan kekuatan mayoritas lain yang ada di masyarakat. Namun, persoalannya ialah dengan siapakah kita –gerakan mahasiswa-harus bersatu dan bersama-sama berjuang menciptakan demokrasi di Indonesia tidak ada lain lagi yaitu bersama rakyat ploretar, ini yang pernah sama terjadi di inggris, dimana kaum proletar mampu memegang kendali kekuasaan dengan mengambil alih yang dimulai agar kekuasaan rakyat adalah kekuasaan di atas segalanya yang di dasari kedaulatan rakyat.

Nb. kritik dan saran anda adalah motivasi penulis untuk lebih giat lagi dalam belajar dan berproses.
Daftar pustaka :
Lihat wancara Marlin , “Indonesia : Organizing The Mass Struggle for Real Democracy”, dalam Links, No. 9 ( November 1997- Februari 1998), hal. 5-25.
Lihan artikel Arie Sujito,”SMPT Lembaga Manajerial Mahasiswa”, Bernas, 26 Desember 1996.
NKK/BKK secara resmi dimulai tanggal 19 April 1978 dan diakhiri oleh surat keputusan Mendikbud Fuad Hasan No.403/U/1990 tentang SMPT
Arie Sujito, “Mahasiswa Kini Tercerabut dari Akar Sosialnya”, Kedaulatan Rakyat, 19 Februari 1995.
Bdk. Suryadi A.Rajab,”Panggung-Panggung Mitologi dalam Hegemoni Negara : Gerakan Mahasiswa dibawah Orde Baru”, Prisma, No.10,1991.
Keterangan berikut didasarkan pada makalah yang dibuat Nezar Patria , di Yogyakarta ,21 Agustus 1998, "Memposisikan Kembali Gerakan Mahasiswa : Belajar dari Sejarah" untuk keperluan OPSPEK UGM 1998.

Sejarah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)

0 komentar
IMM UNESA SURABAYA
Sejarah Berdirinya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah IkatanMahasiswa Muhammadiyah merupakan bagian dari AMM (Angkatan Muda Muhammadiyah)yang merupakan organisasi otonom dibawah Muhammadiyah. Sesungguhnya ada dua faktor integral yang melandasikalahiran, yaitu faktor intem dan fakor ekstem. Faktor Intem Dimaksudkan yaitufaktor yang terdapat didalam Diri Muhammadiyah itu sendiri, sedangkan fakorekstern adalah faktor yang berawal dari luar Muhammadiyah, khususnya umatIslami Indonesia dan pada umumnya adalah seluruh umat dunia. Faktor intern, sebenarnya lebih dominan dalam bentukmotivasi idealismse, yaitu motif untuk mengembangkan ideologi Muhammadiyah,yaitu faham dan cita cita Muhammadiyah bahwa Muhammadiyah pada hakekatnyaadalah sebuah wadah oraganisasi yang punya cita-cita atau tujuan yaknimenegakkan dan menjunjung tinggi agama islam , sehingga terwujud masyarakatUtama, adil dan makmur yang diridloi oleh Allah SWT.
Hal ini termaktub dalam AD Muhammadiyah Bab II pasal 3. dandalam merefleksikan cita-citanya ini, Muhammadiyah mau tidak mau harusbersinggungan dengan masyarakat bawah (jelata) atau masyarakat heterogen. Adamasyarakat petani, pedagang, peternakan dan masyarakat padat karya dan adamasyarakat administratif dan lain sebagainya yang juga termasuk didalamnyamasyarakat kampus atau intelektual yaitu Masyarakat Mahasiswa.PersinggunganMuhammadiyah dalam maksud dan tuiuannya, terutama terhadap masyarakatmahasiswa, secara teknisnya bukan secara langsung terjun mendakwahi danmempengaruhi mahasiswa yang berarti orang-orang Mahasiswa, khususnya paramubalighnya ya langsung terjun ke mahasiswa. Tapi dalam hal ini Muhammadiyahmemakai teknis Yang jitu yaitu dengan menyediakan yang memungkinkan menarikanimo atau simpati mahasiswa untuk, memakai fasilitas Yang telah disiapkan.Padamulanya para mahasiswa yang bergabung atau yang mengikuti jejak-jejakMuhammadiyah oleh Muhammadiyah dianggapnya cukup bergabung dalam organisasiotonom yang ada dalam Muhammadiyah, seperti Pemuda Muahmmadiyah (PM) Yangdiperuntukkan pada mahasiswa dan Nasyi'atul Aisyiyah (NA) untuk mahasisiwi Yanglahir pada 27 Dzulhijjah 1349 H (NA) dan pemuda pada tanggal 25 Dzulhiijjah1350 H.
Anggapan Muhammadiyah tersebut lahir pada saat-saat Muhammadiyahbermuktamar ke-25 di Jakarta pada tahun 1936 Yang pada saat itu dihembuskanpula cita-cita besar Muhammadiyah untuk mendirikan Perguruan TinggiMuhammadiyah (PTM) dan pada saat itu pula Pimpinan Pusat (PP) Yang dipegangoleh KH. Hisyam (periode 1933-1937). Dan pada dikatakan bahwa anggapan danpemikiran mengenai perlunya menghirnpun mahasiswa Yang sehaluan denganMuhammadiyah yaitu sejak konggres ke-25 tersebut.
Namun demikian keinginan untuk menghimpun dan membinamahasiswa Muhammadiyah pada saat itu masih vakum, karena pada waktu ituMuhammadiyah masih belum memiliki Perguruan Tinggi seperti Yang diinginkannyasehingga para mahasiswa Yang berada di Perguruan Tinggi lain baik negeriataupun swasta Yang sudah ada pada waktu itu secara ideologi tetap berittiba'pada Muhammadiyah dalmn kondisi tetap mereka harus mau bergabung dengan PM, NAataupun Hizbul Wathon (HW). Pada perkembangan keberadaan mereka Yang beradadalam ketiga organisasi otonom tersebut merasa perlu adanya perkumpulan khususmahasiswa Yang secara khusus anggotanya terdiri dari mahasiswa Islam.Alternatif yang mereka pilih yaitu bergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam(HMI). bahkan ada image waktu itu yang menyatakan bahwa HMI adalah anakMuhammadiyah Yang diberi tugas khusus untuk membawa mahasiswa dalam misi danvisi yang dimiliki oleh Muhammadiyah, karena waktu itu ditubuh HMI sendiridipegang oleh tokoh-tokoh Muhammadiyah yang secara aktif mengelola HMI.
Pada waktu itu Muhammadiyah secara kelembagaan turut mengeloia HMI baik darisegi moral ataupun material, sampai belakangan ini menurut data-data Yang adadi PP Muhammadiyah menyatakan bahwa Muhammadiyah (terutama PTM dan RS Sosial)secara, materiil turut membiayai hampir setiap aktifitas HMI baik mulai daritingkat konggres sampai aktifitas sehari -hari. Disinilah sekali lagi bukan.HMIyang turut menelorkan tokoh-tokoh Muhammadiyah tapi sebaliknya bahwaMuhammadiyah yang dulu ikut aktif membesarkan HMI. Mengapa hal itu dilakukanâ?¦.? Jawabannya seperti dikemukakan diatas, yaitu bahwa HMI diharapkan akantetap konsisten dengan faham keagamaan Yang diilhami oleh Muhammadiyah. Namunpada perkermbangannya dahulu mengalami perubahan-perubahan khususnya dalamindependensi diinginkan oleh Muhammadiyah oleh Muhammadiyah lebih cenderungliberal dalam segala dalam segala aliran Yang ada dalam teologi islam bolehmewarnai tubuh HMI aliran-aliran Asy'ariyah (cenderung menghidupkan kembalisunnah-sunnah rosul), aliran syi'ah (Yang cenderung mengkultuskan syaidina Alibin Abi Tholib r.a), Mu'tazilah, nasionalisme, sekularisme, pluralisme lainnya.Sementara dalam Muhammadiyah tidaklah independensi Muhammadiyah ditekankan padaberpendapat namun masib dalam konteks wacana islam masih tetap berideologiAl-quran dan As-sunnah dalam Muhammadiyah tidak mengenal madzab-madzab yang adaseperti madzab Syafi`I, Hambali dan Maliki.
Melihat fenomena diatas, HMI yang kian melesat kealamberideologi tersebut maka dengan diplomasi nya pihak PP Muhammadiyahmengeluarkan suatu polecy atau kebijakan yaitu menyenyelamatkan kader-kaderMuhammadiyah yang masih berada dijenjang pendidikan menengah atau PendidikanTinggi. Pada tanggal 18 Nofember 1955 keinginan Muhammadiyah untuk mendirikanPTM ini PP Muhammadiyah melalui struktur kepemimpinannya membentuk departemenpelajar dan mahasiswa yang menampung aspirasi aktif dari para pelajar danmahasiswa.
Maka pada saat Muktamar Pemuda Muhammadiyah pertama di Palembang tahun 1956didalam keputusannya menetapkan langkah kedepan Pemuda Muhammadiyah tahun1956-1959 dan dalam langkah ini ditetapkan pula usaha untuk menghimpun pelajardan mahasiswa Muhammadiyah agar kelak menjadi pemuda Muhammadiyah atau wargaMuhammadiyah yang mampu mengemban amanah.Untuk lebih merealisasikan usaha PPPemuda Muhammadiyah tersebut maka lewat KOPMA (Konferensi Pimpinan DaerahMuhammadiyah) se-Indonesia pada tanggal 5 Shafar 1381/18 Juli 1962 diSurakarta, memutuskan untuk mendirikan IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah). PPPemuda Muhammadiyah pada saat KONPIDA ini masih belum berhasil melahirkanorganisasi khusus Mahasiswa Muhammadiyah. Pada saat itu nasib boleh duduk dalamkepengurusan IPM.
Sehubungan dengan semakin berkembangnya PTM yang dirintis oleh Fakultas HukumDan Filsafat di Padang Panjang yang berdiri pada tanggal 18 Nofember 1955 namunkarena peristiwa pemberontakan PRRI kedua fakultas tersebut vakum, kemudianberdiri di Jakarta PT Pendidikan guru yang kemudian berganti nama menjadi IKIP.Pada tahun 1958 dirintis fakultas serupa disurakarta, di Yogyakarta berdiriakademi Tabligh Muhammadiyah dan di Jakarta berdiri pula FIS (Fakultas IlmuSosial) yang sekarang UMJ.
Karena semakin berkembangnya PTM-PTM yang sudah ada makapada tahun 1960-an ide-ide untuk menangani khusus mahasiswa Muhammadiyahsemakin kuat. PP Pemuda Muhammadiyah yang oleh PP Muhammadiyah danMuktamar ke-I di Palembang (1956) dibebani tugas untuk menampung aspirasi aktifpara Mahasiswa Muhammadiyah, segera membentuk Study Group yang khusus Mahasiswayang berasal dari Malang, Yogyakarta, Bandung, Surabaya, Padang, Ujung Pandangdan Jakarta. Menjelang Muktamar Muhammadiyah setengah abad di Jakarta tahun1962 mengadakan kongres Mhasiswa Muhammadiyah di Yogyakarta dan dari kongresini semakin santer upaya para tokoh Pemuda untuk melepaskan DepartemenKemahasiswaan untuk berdiri sendiri. Pada 15 Desember 1963 mulai diadakanpejajagan dengan didirikannya Dakwah mahasiswa yang dikoordinir oleh : Ir.Margono, Dr. Sudibjo Markoes dan Drs. Rosyad Saleh. Ide pembentukan ini berasaldari Drs. Moh. Djazman yang waktu itu sebagai Sekretaris PP Pemuda Muhammadiyah.Dan sementara itu desakan agar segera membentuk organisasi khusus mahasiswadari berbagai kota seperti Jakarta dengan Nurwijo Sarjono MZ. Suherman, M.yasin, Sutrisno Muhdam, PP Pemuda Muhammadiyah dll-nya.
Akhirnya dengan restu PP Muhammadiyah waktu itu diketuaioleh H.A. Badawi, dengan penuh bijaksana dan kearifan mendirikan organisasiyang khusus untuk Mahasiswa Muhammadiyah yang diketuai oleh Drs. Moh. Djazmansebagai koordinator dengan anggota M. Husni Thamrin, A. Rosyad Saleh, SoedibjoMarkoes, Moh. Arief dll.
Jadi Pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dan pencetus namaIMM adalah Drs. Moh. Djazman Al-kindi yang juga merupakan koordinator dansekaligus ketua pertama. Muktamar IMM yang pertama pada 1-5 Mei 1965 di kotaBarat, Solo dengan menghasilkan deklarasi yang dibawah ini. IMM adalah gerakanMahasiswa Islam. Kepribadian Muhammadiyah adalah Landasan perjuangan IMM FungsiIMM adalah sebagai eksponen mahasiswa dalam Muhammadiyah (sebagai stabilisatordan dinamisator).
Ilmu adalah amaliah dan amal adalah Ilmiah IMM.IMM adalahorganisasi yang syah-mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan danfalsafah negara yang berlaku.Amal IMM dilakukan dan dibaktikan untukkepentingan agama, nusa dan bangsa.Selanjutnya yang juga termasuk faktor intemdalam melahirkan IMM adanya motivasi atis dikalangan keluarga Muhammadiyah.Dalam upaya mewujudkan maksud dan tujuan Muhammadiyah baik yang berada distruktural ataupun diluar dan simpatisan, baik yang berekonomi atas, menengahataupun bawah harus dapat memahami dan mengetahui Muhammadiyah secara generalataupun secara spesifik sehingga tidak muncul kader-kader Muhammadiyah yangradikal (berwawasan sempit). Penegasan motivasi etis ini sebenarnya merupakaninterpretasi (pemahaman) dari firman Allah SWT. dalam QS. Al-Imran:104 dandiharapkan kader-kader Muhammadiyah yang khusunya IMM dapat merealisaasikanmotivasi etis diantaranya dengan melakukan dakwah amar ma`ruf nahi munkar,Fastabiqul Khoirot (berlomba-lomba dalam kebajikan & demi kebaikan). Faktor Ekstern, yaitu sebagaimana Yang tersebut diatas baikYang terjadi ditubuh umat Islam sendiri ataupun yang terjadi didalam sejarahpergolakan bangsa Indonesia. Yang terjadi dimasyarakat Indonesia pada zamandahulu hingga sekarang adalah sama saja, yaitu kebanyakan mereka masihmengutamakan budaya nenek moyang yang mencerminkan aktifitas sekritistik danbahkan anemistik yang bertolak belakang dengan ajaran Islam murni khususnya dantidak lagi sesuai dengan Perkembangan zaman. Hal semacam ini memunculkan signitifitasi(bias) yang begitu besar, utamanya pada kalangan mahasiswa Yang memilikikebebasan akademik dan Seharusnya memiliki pola pikir yang jauh, namun karenadampak budaya masyarakat yang demikian membumi, mereka akan menjadi jumud danmengalami kemunduran.
Pergolakan OKP (Organisasi Kemasyarakatan Pemuda) atauOrganisasi Mahasiswa periode 50 sampai 65-'an terlihat menemui jalan buntuuntuk mempertahankan indpendensi mereka dan partisipasi aktif dalam pascaProklamasi (era kemerdekaan) RI. hal ini terlihat sejak pasca KonggresMahasiswa Indonesia pada 8 Juli 1947 di Malang Jawa Timur, yang terdiri dariHMI, PMKRI, PMU, PMY, PMJ, PMKH, MMM, SMI, yang kemudian berfusi (bergabung)menjadi PPMI (Perserikatan Perhimpunan-perhimpunan Mahasiswa Indonesia). PPMI padamulanya tampak kompak dalam menggalang persatuan dan kesatuan diantaramahasiswa, namun sejak PPMI menerima anggota baru pada tahun 1958 yaitu CGMIyang berkiblat dan merupakan anak komunis akhirnya PPMI mengalami keretakanyang membawa kehancuran. PPMI secara resmi membubarkan diri pada Oktober 1965.
Sebenamya PPMI sebelum membubarkan diri, sekitar tahun1964-1965 masing-masing organisasi yang berfusi dalam PPMI itu salingberkompetisi dan sok revolosioner untuk merebut pengaruh para penguasa waktuitu, termasuk juga Bung Karno Yang tak luput dari incaran mereka. Hal inidiakibatkan karena masuknya CGMI kedalam PPMI yang seakan mendapatkanlegitimasi dari pihak penguasa waktu itu sehingga CGMI (PKI) terlihat besar.HMI pun saat itu juga merevolosionerkan diri menjadi sasaran CGMI (PKI),sehingga HMI hampir rapuh akibat ulahnya sendiri, karena pada saat itu PKImerupakan partai terbesar dan pendukungnya selalu meneriakkan supaya HMIdibubarkan. HMI melihat kondisinya yang rawan tidak tinggal diam, dengan segalaupaya untuk mengembangkan sayap dan memperkokohnya, HMI kembali berusahamendapatkan legitimasi kesana-kemari untuk menangkal serangan dari PKI yangberusaha membubarkannya.
Pada saat HMI semakin terdesak itulah IMM lahir, yaitu pada tanggal 14 Maret1964. Inilah sebabnya, ada setereo tape atau persepsi yang muncul ke permukaanbahwa IMM lahir sebagai penampung anggota-anggota HMI manakala HMI dibubarkanoleh PKI maka IMM tidak perlu lahir. Namun persepsi yang terputar itu tidakrasional dan kurang cerdas dalam menginterprestasi fakta dan datasejarah.Interprestasi Yang benar dan rasional sesuai dengan data dan faktasejarah adalah IMM salah satu faktor historisnya adalah untuk membantueksistensi HMI agar tidak mempan atas usaha-usaha yang akan membubarkannya.Sekali lagi bahwa kelahiran IMM untuk membantu dan turut Serta mempertahankanHMI dari usaha- usaha komunis yaitu PKI Yang akan membubarkannya dan sesuaidengan sifat IMM itu sendiri yang akan selalu bekerjasama dan saling membantudengan saudaranya (saudaranya seaqidah Islam) dalam upaya beramar ma'ruf nahimungkar Yang merupakan prinsip perjuangan IMM.Itulah sekilas kelahiran IMM yangsampai sekarangpun masih ada oknum-oknum yang mempersoalkannya (walaupun sudahterbit buku Yang menangkal isu tersebut dengan judul 'Kelahiran YangDipersoalkan oleh Farid Fatoni). Dan sekarang kita telah tahu bahwa IMM lahirmemang merupakan suatu kebutuhan Muhammadiyah dalam mengembangkan sayapdakwahnya dan sekaligus merupakan suatu aset bangsa untuk berpartisipasi aktifdalam kemerdekaan ini.Karena IMM merupakan suatu kebutuhan intern dan eksternitu pulalah, maka tokoh-tokoh PP Pemuda Muhammadiyah yang berawal dari HMIkembali keIMM sebagai anak atau ortom Muhammadiyah. Mereka yang dulu turutmengembangkan HMI disebabkan karena IMM belum lahir dan keterlibatan merekadalam tubuh HMI hanya sebatas mengembangkan ldeologi Muhammadiayah. Dan sampaisekarangpun HMI masih dimasuki oleh kalangan mahasiswa dari berbagai unsurormas Islam, yang pada akhimya berbeda dengan orientasi Muhammadiyah. Mungkin,untuk menangkal klaim seperti tersebut PP Pemuda Muhammadiyah diatas, adalahbahwa Para aktifis akan berdirinya IMM & NA Yang berusaha mengusahakanberdirinya IMM tidak terlibat dalam aktifitas HMI secara langsung maupun tidaklangsung. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah benar-benar murni didirikan olehPimpinan Pusat Muhammadiyah Yang pada waktu itu diketuai oleh Bapak H.A.Badawi.




10.02.2011

Terimakasih Atas Kesabaranmu

0 komentar


Dia usapkan sisa air wudhu itu dikeningku
Saat aku masih setia dengan mimpi-mimpiku
Mimpi ini masih menghibur ku
Melambai-lambai

“subuh leeee”

Sekarang..
Begitu jelas di sela-sela bulu mata yang sudah mulai merayap atap

Senandung ayat itu membuat ku terpranjak dari hangatnya kelam
Sudah memang wajib bagiku memberi sujud pada Illahi Robbi

Aku begitu mengenalnya..
Aku begitu merasa dekat dengannya
Dan aku begitu merasa memilikinya...


Tuhaaaan.....
Ketika sabdaMU telah mulai luntur dibenakku
Cambukklah aku dengan caciMu
Entah bagaimana caraMu kembali mengingatkan

Tuhaaaan.....

Jika ragaku tak lagi menyimpan syukurMu
Bangunkan aku dari sesatnya jalan yang telah ku tempuh

Hanya padaMU aku mencurahkan segenap raga ini

Hanya padaMU aku berlutut pasrah
Hanya padaMU aku tak berdaya merasakan indahnya nikmatMU

Dan Hanya padamu aku menyerahkan nafas ini

Jika sepenggal nafas nanti telah kau bawa ke ubun-ubun
Lepaskanlah aku dalam dekapMU
Hangatkan aku dengan surga Firdaus Mu
Sejukkan hatiku dalam istiqomahku padaMU....